Olah Sampah, Solusi Biaya Kegiatan Masyarakat Pringgading Permai

  • 05 Sep 2025 04:34 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Inisiatif mandiri yang dilakukan warga Perumahan Pringgading Permai RT 005, Kembang Putih, Guwosari, Pajangan, Bantul patut menjadi inspirasi bagi daerah lain, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang masih diselimuti masalah sampah.

Pengolahan sampah yang telah dilakukan warga dengan konsep sedekah sampah inipun menjadi berkah di tengah masalah sampah yang dihadapi, termasuk retribusi sampah yang kian meningkat dirasakan sebagian besar masyarakat di DIY. Bahkan, dari pengolahan sampah yang dilakukan Pringgading Permai RT 005 mampu membiayai setiap kegiatan masyarakat.

Ketua RT 005 Padukuhan Kembang Putihan Taufik Hermawan mengatakan, pengolahan sampah secara mandiri ini diinisiasi karena adanya penutupan TPA Piyungan sehingga sampah dulu kerap jarang terangkut.

Disamping itu lanjut Wawan panggilan Taufik Hermawan, sebagai tindak lanjut biaya bulanan membuang sampah yang kian tinggi.

Wawan menyebutkan, melalui sistem pengolahan sampah baik plastik maupun kompos ini warga juga melakukan sedekah sampah dengan memilah dan menaruh di pengolahan sampah sedangkan biaya bulanan warga Rp10 ribu.

"Jadi dari keinginan warga, support, dan dukungan warga akhirnya bisa membuat rumah guna sampah. Jadi, setiap hari sampah rongsok sudah bisa kita buang dengan baik," kata Wawan, Kamis (5/9/2025).

Wawan mengungkapkan, dukungan warga menjadi hal terpenting, karena sampah dari rumah tangga yang terpilah, terutama plastik kemudian dibawa secara mandiri ke tempat pengolahan sampah plastik.

"Kalau rongsokan di rumah pilah tadi kita rasa sudah penuh, kita lakukan pemilihan lebih detail lagi, kita jual kurang lebih di bulan kedua. Jadi setiap dua bulan sekali itu kita jual rongsokan nya," ucap Wawan.

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta ketika meninjau tempat pemilahan sampah di Perumahan Pringgading Permai. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Dari Sedekah Sampah Biayai Aktivitas Padukuhan

Memiliki konsep sedekah sampah, sampah anorganik atau rosok tersebut memiliki kepengurusan tersendiri.

Wawan menyampaikan, hasil pemilahan dan penjualan sampah anorganik yang terjual akan dikumpulkan, kemudian dikembalikan untuk membiayai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan masyarakat.

"Kita memang saat belum mendapatkan hasil maksimal, kurang lebih setiap kali kita jual itu di angka Rp300 ribu, setiap kita jual rongsokan," ujar Wawan.

Wawan membeberkan, biaya keseluruhan dari pengolahan sampah dibagi dalam dua kas, disamping kas dari penjualan rosok ada kas utama yang total sudah ada sekitar Rp5 juta, untuk dipergunakan untuk membiayai seluruh operasional dari rumah pengolahan sampah, seperti pembelian tong sampah, ataupun pengurai bakteri.

Butuh Kesabaran dan Keuletan Membangun Semangat Warga Olah Sampah

Wawan mengakui, tantangan pasti akan dihadapi dalam membangun kebiasaan baru masyarakat, terutama pada awal merintis pengolahan sampah mandiri tersebut.

"Kalau awal memang susah sekali, jadi untuk di tahun pertama memang sangat susah sekali. Jadi memang bisa dibilang tahun kedua baru bisa jalan," kata Wawan, mengungkapkan.

Berbekal semangat kebersamaan dan mengatasi masalah sampah di wilayahnya, pada pertengahan tahun 2023 dikembangkan pengolahan sampah organik.

Wawan menceritakan, pengolahan sampah organik dilakukan dua orang, yakni dirinya dan sekretaris RT. "Kalau yang organik kita proses sampah organiknya dulu, kita buat kompos kurang lebih tiga bulan," ungkapnya.

Hasil pengolahan sampah organik dijelaskan Wawan, dimanfaatkan untuk memupuk lahan pertanian yang ada di dekat pengolahan sampah organik.

Melalui sistem pengolahan mandiri ini, diperkirakan mampu mengurai masalah sampah di Perumahan Pringgading Permai sekitar 70 persen. "Yang residu masih diambil sama TPS3R Gowasari," terangnya.

Langkah Nyata Wujudkan Daerah Bersih

Upaya penanganan sampah secara mandiri inipun mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Bantul.

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta mengungkapkan apresiasinya atas semangat seluruh warga Perumahan Pringgading Permai RT 005, dalam mengatasi masalah sampah di wilayahnya.

"Kami atas nama pemerintah daerah Kabupaten Bantul sangat bersyukur ada sekelompok masyarakat, ada perumahan di Guwosari yang peduli terhadap sampah sehingga perumahan Pringgading ini bisa menyelesaikan sampah di perumahan ini sendiri," kata Aris, disela meninjau tempat pengolahan sampah Perumahan Pringgading Permai.

Aris mengungkapkan, masalah sampah tidak hanya dihadapi Kabupaten Bantul, bahkan hampir diseluruh DIY berjibaku melakukan terobosan untuk mengurai permasalahan tersebut.

Di Kabupaten Bantul dijelaskan Aris, kondisi saat ini setiap harinya menghasilkan sampah sekitar 100 ton, sedangkan kapasitas pengolahan sampah baru sekitar 59 ton/perhari. Sehingga masih ada permasalahan sampah yang belum terkelola.

"Seandainya di Bantul semuanya seperti ini saya kira permasalahan sampah di Bantul selesai, sehingga ini mungkin nanti kita harus banyak diskusi dengan DLH terkait dengan pelaksanaan ini. Kalau memang nanti ke depannya itu betul-betul bagus nanti ini akan kita sampaikan kepada Pak Bupati, agar Bantul mengambil kebijakan, mengambil cara seperti di perumahan Pringgading ini, agar di seluruh dusun di Kabupaten Bantul bisa menyelesaikan permasalahan sampah sendiri sampai di dusun tersebut," ucap Aris.

Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta didampingi Ketua RT 005 Padukuhan Kembang Putihan Taufik Hermawan, ketika meninjau tempat pengolahan sampah organik di Perumahan Pringgading Permai. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Lurah Kalurahan Guwosari Masduki Rahmad mengungkap, RT 005 Padukuhan Kembang Putih merupakan RT paling besar dari total 79 RT dari 15 padukuhan di Gowasari, dengan ada lebih dari seribu rumah dari sekitar 500 kepala keluarga.

"Kita bisa membayangkan empat perumahan dengan 500 kepala keluarga, bagaimana sampah ketika kita tidak kelola itu akan menjadi bom waktu. Sehingga pak RT dan ketua blok cancut tali wondo, gotong-royong memikirkan mengolah sampah," kata Masduki.

Masduki menyebutkan, sampah yang terkelola dan diolah dengan baik tidak akan menjadi masalah, namun justru menjadi sebuah peluang ekonomi masyarakat baru. Sedangkan Kalurahan Guwosari memiliki skema pemilahan sampah dengan empat kategori rosok, bosok, popok dan godong tok.

"Rosok itu sampah yang punya value, nilai jual. Bosok itu adalah sampah organik, kemudian popok itu adalah residu atau sampah yang kemudian tidak bisa terkelola, dan godong tok itu adalah sampah dedaunan dan sebagainya, itu cara kami mengedukasi warga," ucap Masduki.

Di Guwosari lanjut Masduki, dari total sekitar 500 KK tersebut ada dua skema yaitu skema sampah komunal dan langganan sampah rumah tangga. Di mana langganan sampah rumah tangga ini dikenakan retribusi ke kami itu Rp40 ribu per kepala keluarga, di bawah BUMD Guwosari ke TPS Guwosari.

Namun, khusus di Perumahan Pringgading Permai RT 005 dijelaskan Masduki, cukup dengan Rp10 ribu, karena seluruh masyarakatnya sudah memilah sampah.

"Kemudian residunya itu diambil oleh Pemerintah Kalurahan Guwosari melalui Badan Usaha Milik Desa Guwosari seminggu dua kali dan kebetulan diambil setiap hari Senin dan Kamis," ujar Masduki.

Melalui inisiatif pengolahan sampah mandiri yang dilakukan Perumahan Pringgading Permai RT 005, Kembang Putih, Guwosari, Pajangan, Bantul, diharapkan mampu menular di wilayah lain, sehingga masalah sampah khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terselesaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....