Dari Olok-Olok Es Buah Menjadi Magister Pendidikan

  • 31 Agt 2025 21:01 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Di balik toga hitam dan selendang wisuda yang anggun, tersimpan kisah perjuangan penuh air mata, tawa, dan tekad baja. Yaitu kisah perempuan muda tuna rungu bernama Saarah Dharmawan Tiara Dewi, yang baru saja menuntaskan studi di Program Magister Pendidikan Luar Biasa UNY.

Selain mendapat dukungan beasiswa LPDP jalur afirmasi penyandang disabilitas, ia juga pernah mendapatkan beasiswa dari Gubernur Banten, sebagai apresiasi atas semangatnya menembus batas keterbatasan. Gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) yang ia raih, bukti nyata keteguhan hati untuk melawan prasangka dan menggapai mimpi.

Semua bermula pada tahun 2022, sesaat setelah menyelesaikan skripsi. Kala itu, Saarah bercerita kepada temannya bahwa ia ingin melanjutkan studi S2. Namun, respons yang ia terima justru berupa olok-olok.

”Apa? Es buah?!” Perkataan sederhana namun menyakitkan itu justru menjadi bahan bakar tekad Saarah untuk membuktikan diri, jika ia mampu mewujudkan cita-citanya.

Dengan keterbatasan pendengaran, jalan yang ia tempuh tidaklah mudah, karena harus berhadapan dengan berbagai persyaratan beasiswa, termasuk TOEFL ITP yang nilainya kerap membuat banyak mahasiswa lain ciut. Saarah belajar secara otodidak melalui buku dan YouTube, hingga akhirnya memberanikan diri mendaftar LPDP jalur afirmasi disabilitas.

Meski sempat diliputi keraguan, dorongan dari lingkungan sekitar, termasuk dukungan seorang pejabat di DPRD Banten tempat ia bekerja, membuatnya yakin melangkah. Hasilnya luar biasa, pada November 2023, ia resmi dinyatakan lolos seleksi LPDP.

Sebelum itu, Saarah juga pernah merasakan dukungan langsung dari pemerintah daerah. Ia mendapat beasiswa dari Gubernur Banten, yang menjadi titik balik penting dalam perjalanan akademiknya, selain meringankan beban finansial, tetapi juga menjadi pengakuan bahwa perjuangannya patut diapresiasi.

Namun, perjalanan berikutnya justru semakin berat, karena ia harus berhadapan dengan penolakan orang tua yang khawatir dan merasa pendidikan S1 sudah cukup. Meski demikian, Saarah memilih untuk bertahan.

”Kalau sudah dapat beasiswa, kenapa tidak boleh lanjut?” ujarnya suatu ketika. Restu memang tak datang langsung lewat kata-kata, tapi doa orang tua yang diam-diam bangga padanya, itulah yang akhirnya menguatkan langkahnya.

Dan pada Wisuda Agustus 2025, Saarah yang mendapat IPK 3,63 melangkah dengan hati berbunga-bunga. Ia teringat pada semua perjalanan panjang, olok-olok tentang ‘es buah’, restu yang sulit dari orang tua, beasiswa dari Gubernur Banten, konseling yang menyelamatkan jiwa, hingga malam-malam penuh air mata di depan laptop. (r-ws)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....