Tangan Lembut yang Mendampingi Anak-anak Pedagang Pasar Beringharjo
- 20 Agt 2025 14:34 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Di tengah kesibukan aktivitas perekonomian di Pasar Beringharjo, terdapat sebuah bangunan yang memanjang tepat di sisi selatan pasar terbesar di Kota Yogyakarta ini. Bangunan tersebut merupakan tempat penitipan anak (TPA) Beringharjo yang dikelola Tim Penggerak (TP) PKK Kota Yogyakarta sejak 1994.
Wakil Ketua TP PKK Kota Yogyakarta sekaligus Ketua Pengelola TPA Beringharjo Siti Hafsah mengatakan, tempat ini menjadi rumah kedua bagi puluhan anak usia pra-sekolah. Sebagian besar merupakan putra-putri dari para pedagang ataupun penjaga toko di Pasar Beringharjo.
"Karena usia anak-anak disini berkisar dua hingga lima tahun, jadi kegiatannya lebih pada kegiatan bermain. Namun, ada pula kegiatan yang mengolah dan mengasah motorik halus ataupun motorik kasar anak-anak," kata Hafsah, Selasa (19/8/2025).
Mulai pukul 07.00 para orang tua bisa mengantarkan anak-anaknya, hingga 15.30 WIB orang tua menjemput kembali. Hafsah mengungkapkan, biaya yang dikeluarkan para orang tua terbilang sangat terjangkau perhari yakni Rp5 ribu setiap kali anaknya dititipkan di TPA Beringharjo.
Pengasuh dan Pendidik Berpengalaman di TPA Beringharjo
Selama di TPA Beringharjo, anak-anak akan mendapatkan pendidikan dan pengasuhan dari tenaga pengasuh dan pendidik profesional. Hafsah menyampaikan, seluruh pengawasan menjadi tanggung jawab pengasuh dan pendidik selama di TPA Beringharjo, bahkan dari biaya yang dikeluarkan orang tua tersebut anak-anaknya akan mendapatkan dua kali makanan ringan dan sekali makan siang.
Proses mengolah dan memasak makanan dilakukan secara langsung di TPA Beringharjo. "Jadi pada saat mereka dititipkan orang tuanya disini, kami jaga, kami didik, nanti jam setengah empat saat dijemput orang tuanya mereka sudah bersih, sudah cantik, sudah mandi," ucap Hafsah.
Selain dijaga, dirawat, dan dididik, anak-anak juga diharuskan tidur siang sekitar pukul 12.00 WIB dan tetap dijaga pengasuh dan pendidik di TPA Beringharjo. Tingkah lucu dan menggemaskan tidak hanya saat anak belajar dan bermain, tetapi ketika anak-anak diajarkan mandiri, mulai dari makan tidak disuapi, hingga menaruh piring setelah makan ke tempat cuci piring.
Koordinator dan Pendidik TPA Beringharjo Yustina Suyantini mengatakan, total kapasitas TPS Beringharjo ada 60 anak. Sedangkan saat ini sudah ada terisi 52 anak. TPA Beringharjo hadir di tengah-tengah kesibukan para pedagang, Yustina menjelaskan, inisiatif hadirnya TPA Beringharjo berawal dari kegelisahan PKK Kota Yogyakarta.
"Karena dulu itu awalnya ibu-ibu PKK sering setiap Jumat itu bersih-bersih lihat pasar itu kok ada anak yang masuk pasar itu dibawa orang tuanya terus itu enggak ada yang ngurus, terus ibu-ibu itu berinisiatif untuk mendirikan TPA di sini, kebetulan sini itu dulu kosong, dulu kantor pemasaran pasar," kata Yustina, menambahkan.
Membangun mental anak saat pertama masuk, TPA Beringharjo ini diungkapkan Yustina, anak yang pertama kali akan masuk dibuatkan sistem antrian atau secara bertahap. Sehingga anak-anak bisa menyesuaikan dengan lingkungan dan teman-teman barunya, yang tentunya mendapat pengawasan dari pengasuh maupun pendidik.
"Jadi kayak tadi ada ada satu dua anak yang masih nangis, jadi harus dipegang terus sama pengasuhnya. Jadi kalau langsung masuk berbarengan itu nanti anak-anak yang lain kurang perhatiannya, itu salah satu pertimbangannya," kata Yustina.
Total ada sembilan pengasuh dan pendidik yang semua berasal dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta.
Yustina mengungkapkan, karakter anak-anak dan lingkungan yang berbeda-beda dari masing-masing anak juga menjadi perhatian, agar perilaku buruk seperti salah satunya bicara kasar bisa dihilangkan dari kebiasaan anak-anak.
"Kalau kami mengendalikannya, ucapannya itu kami perhalus, jadi kalau ada anak yang binatangnya itu keluar terus kami tanya, itu artinya apa sih? Kemudian kami luruskan, kalau bicara itu seperti ini," ucap Yustina.

Tempat Penitipan Anak (TPA) Beringharjo menjadi ruang bermain dan belajar anak-anak pedagang dan penjaga toko pasar Beringharjo. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)
Suasana Hati Pengasuh Berpengaruh Pada Anak
Pengasuh dan Pendidik harus mampu mengendalikan suasana hati saat mendampingi anak-anak. Yustina menjelaskan, ketika suasana hati baru tidak bagus dan dibawa ke tempat penitipan, nantinya suasana anak-anak juga akan ikut tidak bagus.
"Namanya anak-anak itu bagi kami ya istilahnya dianggap sahabat, kalau kami nanti mood-nya itu baru enggak nyaman. Iya, itu anak-anak mengikuti kami, jadi anak-anak juga kok ikut ribut. Jadi kami harus menata mood dulu," ujar Yustina.
Pendidikan kepada anak-anak di TPA Beringharjo lanjut Yustina, menyesuaikan kurikulum merdeka dan dikelompokkan sesuai usia anak dengan pembelajaran menggunakan STEM. Termasuk mengenalkan anak-anak pada Calistung (Baca, Tulis, dan Berhitung) yang tentunya dikemas dengan sebuah permainan.
Selain pengasuh dan pendidik, dari masing-masing Pokja TP PKK Kota Yogyakarta secara bergantian juga datang melaksanakan piket setiap hari. Antara dua hingga tiga orang, terutama untuk membantu mengawasi anak-anak.
Anggota TP PKK Pokja 2 yang juga di Bidang Humas dan Rumah Tangga TPA Beringharjo Fatma Arief Fianti menyampaikan, hal ini menjadi salah satu upaya pihaknya khususnya di Bidang Pendidikan dan Ketrampilan, sebagai tanggung jawab sosial mewujudkan anak-anak di Yogyakarta agar lebih baik.
Terobosan menarik yang dilakukan TP PKK Kota Yogyakarta ini tidak terlepas pula dari dukungan Pemerintah Kota Yogyakarta, baik dari dukungan anggaran maupun pelaksanaan. "Sayang sekali kalau dari masyarakat kota Yogyakarta tidak bisa memanfaatkan dengan baik," kata Fianti.
Meski sasaran utama bagi pedagang ber-KTP Kota Yogyakarta, tetapi banyak pedagang di pasar Beringharjo ini juga berasal dari berbagai Kabupaten di DIY, sehingga tetap dilayani.
Selain membantu orang-orang tua terutama ibu-ibu di sela kesibukannya bekerja sebagai pedagang ataupun penjaga toko di Pasar Beringharjo, anak-anak juga mendapatkan pendidikan dan ruang bermainnya dan meminimalisir terjadinya pendidikan yang belum seharusnya ketika berada di lingkungan pasar yang beragam. (Yan/par)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....