Jogja Life Cycle, Ubah Sampah Jadi Cuan

  • 15 Jul 2025 23:09 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Keprihatinan atas permasalahan sampah mendorong inovasi yang dilakukan Ilham Zulfa Pradipta, pendiri Jogja Life Cycle untuk mengubah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi.

Unit usaha di bawah naungan Forum Bank Sampah Giwang Bersih ini memulai riset pengolahan sampah plastik sejak tahun 2022.

Ilham mengatakan, ide awal Jogja Life Cycle muncul saat dirinya menjadi Asisten Dosen di Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), di mana saat itu mengolah sampah masker dan sampah plastik residu yang di olah menjadi minyak dengan metode waste to energy.

Berawal dari riset tersebut, Ilham kemudian melihat sosok ayah yang juga nasabah dari Bank Sampah untuk mengajak dirinya memilah dan menyetorkan sampah plastik ke Bank Sampah RW 01 Giwangan.

Melihat kesesuaian harga sampah plastik yang dikumpulkan tersebut masih cukup rendah, maka tercetus ide untuk melakukan riset agar sampah yang dikumpulkan di Bank Sampah bisa bernilai ekonomis tinggi.

"Dari sana saya menemukan sebuah inovasi yaitu sebuah papan yang kami cetak," kata Ilham, dalam paparan Peluncuran Program Daur Ulang Sampah Plastik (Jogja Life Cycle), Selasa (15/7/2025).

Berbekal beberapa produk yang dihasilkan, Ilham kemudian menginformasikan kepada Bank Sampah Giwang Bersih, dan mendapatkan dukungan dari Kelurahan dan Rumah Zakat.

Kini beberapa bank sampah sudsh bekerja sama, sehingga diharapkan, sampah yang dikumpulkan nasabah bisa lebih memiliki nilai ekonomi tinggi, karena langsung di daur ulang.

"Alhamdulillah tahun 2023 kami, sudah hadir untuk di tengah Bank Sampah kami sudah bekerja sama dengan 13 Bank Sampah yang ada di Kelurahan Giwangan," ucap Ilham.

Ilham mengungkapkan, dari papan yang diolahnya dari cacahan sampah plastik inipun setidaknya bisa menghasilkan hingga 20 macam produk.

Di depan Wali kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Ilham juga berharap, terbangun kolaborasi dengan pemerintah terutama dalam mensuplai bahan baku utama, sampah plastik, sekaligus mendukung upaya pemasaran produk yang dihasilkan.

"Karena harapannya dengan produk ini punya nilai story di baliknya tidak hanya mengambil plastiknya saja, tidak hanya menyelamatkan lingkungannya, namun juga itu melibatkan sektor-sektor bank sampah yang akan aktif, yang mungkin nanti sampah plastik dari bank sampah itu tidak lagi buka sebulan sekali, namun bisa rutinitas untuk mencari sampahnya," ujar Ilham.

Ilham mengungkapkan, selama ini pemasaran produknya dilakukan melalui media sosial maupun e-commerce hingga dititipkan di beberapa store.

Produk jadi yang dijual inipun memiliki variasi harga seperti coaster atau tatakan gelas sekitar Rp25 ribu, tasbih Rp35 ribu, gelang Rp30 ribu. Untuk kursi dijelaskan Ilham mulai dari harga Rp250 ribu, papan mentah 60 cm x 40 cm ketebalan 1 cm Rp250 ribu, sedangkan ukuran 1 m x 1 m ketebalan 1 cm Rp800 ribu.

"Produk kami malah banyak yang keluar terutama malah kita seringnya ke Jabodetabek gitu. Coaster kemarin kita ada ada 400 orderan, kemudian medali juga, medali itu buat running itu di sekitar 250 pcs waktu itu. Kemudian ada plakat juga, plakat itu sekitar 30 sampai 50 pcs begitu, kalau orderan masih naik terus," kata Ilham.

Ilham mengakui, kerja sama dengan 13 Bank Sampah di Kelurahan Giwangan ini masih kurang dalam memenuhi kebutuhan orderan produk, sehingga harus mendatangkan dari beberapa daerah seperti di Kulon Progo.

Wali kota Yogyakarta Hasto Wardoyo membuat biji tasbih dari papan yang diolah Jogja Life Cycle. (Foto: RRI/Dyan Parwanto)

Disamping memiliki nilai jual, olahan sampah plastik yang menghasilkan beberapa produk jadi inipun mampu mengundang antusias Wali kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Bahkan orang nomor 1 di Kota Yogyakarta inipun menantang Kelurahan Giwangan untuk mampu menekan volume sampah yang dibuang dan sekaligus menjadi percontohan bagi kelurahan-kelurahan lain di Kota Yogyakarta.

"Karena Giwangan sudah ada core bisnisnya ya, kalau yang lain saya belum begitu berani, tapi kalau di sini kan sudah ada korbinisnya dan di sini ada tokoh-tokohnya yang sudah mendukung semuanya. Jadi, oleh karena itu kalau menurut saya mbok dicoba se-kelurahan Giwangan. Coba Mas Ilham nanti ikut rapat anak-anak muda diajak, terus bagaimana kalau Giwangan itu kelurahan itu bisa menjadi percontohan," kata Hasto.

Hasto juga mengapresiasi pengolahan sampah plastik yang dihasilkan Jogja LifeCycle, Iapun berhatap, agar kebutuhan bahan baku untuk produk olahan sampah plastik ini bisa dipenuhi di dalam Kota Yogyakarta.

Hasto juga mengungkapkan, saat ini Kota Yogyakarta memiliki tim pemilah di 4 depo yang terdiri dari masing-masing 10 orang dan nantinya menjadi percontohan, seperti di depo Mandala Krida, depo Lapangan Karang, depo THR jalan Brigjen Katamso, depo Kotabaru.

"Saya mengapresiasi produk-produknya yang luar biasa ini. Yang harus dipikirkan oleh pemerintah itu gimana caranya membantu pemasaran," ucap Hasto.

Hasto juga memiliki pemikiran diantaranya membangun kerja sama dengan Ikatan Persaudara Haji Indonesia (IPHI), sehingga bisa menjadi buah tangan ketika pulang dari umroh. Toh selama ini beberapa produk yang dijual di tanah suci beberapa merupakan produk ekspor Indonesia.

Melalui semangat ini, Hasto juga berharap, kebarokahan saat menjalankan ibadah dapat lebih karena juga mendukung penyelesaian masalah sampah di Kota Yogyakarta sekaligus membantu masyarakat ekonomi lemah yang berada di dalam siklus tersebut.

Lebih jauh Hasto juga memiliki keinginan, papan-papan yang dihasilkan Jogja Life Cycle ini, mampu mendukung terwujudnya ciri khas bangunan hasil bedah rumah yang rutin digelar setiap akhir pekan dengan semangat gotong royong.

"Kalau ini dari nilai harganya terjangkau, saya kira kenapa tidak pakai ini? Kan bila beli produk sendiri ya, daripada pabrikan mending saya bedah rumah setiap bedah rumah saya beli tiga atau empat atau lima atau enam. Itu kan bisa untuk plafon juga. Jadi saya kira kalau bedah rumah di Kota Yogyakarta itu dengan ciri khas adalah materialnya bikin sendiri kan lebih keren ya kan," kata Hasto, mengungkapkan.

Menanggapi potensi harga tersebut, Ilham mengaku optimis, selama produksi dengan kuantitas yang banyak, dari sisi biaya operasional bisa lebih ditekan apalagi dilakukan secara berkelanjutan.

"Kalau ditekan kemungkinan bisa (harganya) kemungkinan lebih di optimalkan di banyaknya orderan, kita nanti bisa tekan di situ. Semakin banyak kuantitasnya akan semakin murah," ungkap Ilham.

Hasto mengungkapkan, volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta perhari sekitar 260 ton, dan Pemkot dari setiap tonnya harus mengeluarkan Rp480 ribu untuk membakar menggunakan insinerator.

"Kalau anggaran itu bisa dialihkan baik untuk penggerobak yang memilah, mendukung pengolahan sampah jadi produk akan lebih bermanfaat," ujar Hasto, mengungkapkan.

Sebagai informasi, pengolahan sampah di Jogja Life Cycle saat ini masih memanfaatkan plastik HDPE, seperti tutup botol kemasan, tutup galon, hingga botol plastik dengan kode dua dan empat.

Hanya saja saat ini tengah dilakukan pengembangan agar bisa menyasar semua jenis plastik terutama gelas minuman kemasan yang lebih tipis dan banyak digunakan masyarakat saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....