Film "Jagad'e Raminten", Warisan Inklusif Sang Legenda Yogyakarta

  • 23 Jun 2025 10:21 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Dunia seni budaya tidak hanya Yogyakarta namun Indonesia mungkin telah kehilangan sosok seniman Hamzah Sulaiman atau KMT Tanoyo Hamijinindyo atau yang dikenal dengan Raminten, namun karya-karya dan semangatnya dalam merangkul masyarakat bawah masih terkenang hingga saat ini.

Perjuangan Raminten yang tidak hanya menjadi seorang seniman namun juga sosok seorang ayah yang membangun bisnis yang sekaligus menjadi rumah bagi ribuan hati yang mencari tempat berteduh inipun ditorehkan dalam sebuah karya film "Jagad'e Raminten" persembahan Kalyana Shira Foundation.

Melalui karya Film Dokumenter tersebut, pecinta film maupun masyarakat diajak menyelami kehidupan dan warisan sosok Raminten sebagai salah satu ikon Yogyakarta, yang tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses dengan berbagai usaha seperti toko oleh-oleh, restoran, batik, dan pertunjukan cabaret, tetapi juga sebagai ruang aman bagi komunitas yang inklusif.

Karya film berdurasi 95 menit ini, disutradarai dan ditulis oleh Nia Dinata, Dena Rachman sebagai produser dan penulis, serta Melissa Karim sebagai co-produser.

Nia Dinata mengungkapkan, film "Jagad'e Raminten" yang dibuat sejak Hamzah masih hidup ini mengandung pesan bagaimana sosok sederhana seorang Raminten yang merangkul tanpa melihat seseorang dari latar belakangnya, tanpa membedakan, namun dilihat dari semangat dan keinginannya untuk bekerja keras.

"Ketika dia melihat itu dalam diri manusia, wah, itu pasti akan dia hargai, Dia emong, dia berikan ini ya, menumbuhkan kekuatan ekonomi juga di individu-individu itu, tapi dia pasti memilih orang yang mau bekerja keras, punya bakat dan mau belajar," kata Nia Dinata, disela pemutaran Film Jagad'e Raminten di Auditorium IFI Yogyakarta, Minggu (23/6/2025).

Disaksikan lebih dari 250 undangan yang hadir, namun ada yang cukup menarik dengan adanya satu kursi sengaja dibiarkan tetap kosong, yang seolah mempresentasikan kehadiran sosok Hamzah Sulaiman untuk menyaksikan karyanya.

dan yang mau Ini kan filmnya kan awalnya dibuat ini ketika Almarhum masih ada Masih ada dan kemudian selesainya ini ketika beliau sudah berpulang begitu. Apakah terus kemudian ada perubahan-perubahan dari pembuatannya jadi harus sandingan diubah?

"Kalau di dalamnya sih saya enggak ubah (film dibuat ketika almarhum masih hidup), saya cuma tambahin ending, karena saya pikir itu udah takdirnya memang begitu," ucap Nia Dinata.

Nia Dinata mengharapkan, melalui film ini nantinya menjadi sebuah semangat yang dapat tersampaikan kepada anak-anak angkat almarhum, sehingga bisa terus melanjutkan apa yang sangat dicintai Hamzah Sulaiman baik melalui Kabaret, maupun dalam berkesenian.

Nantinya, film Jagad'e Raminten ini lanjut Nia Dinata, akan hadir di ArtJog pada tanggal 5 Juli 2025, dan direncanakan akan diputar di IFI Jakarta. Bahkan akan diputar dalam festival film di luar negeri seperti Amsterdam, Amerika, Singapura, Hongkong, hingga Jepang.

"Setelah itu mungkin kita bisa menghubungi membuat screening-screening roadshow kecil-kecil, supaya menginspirasi orang-orang yang di luar Jogja juga gitu, bahwa kalian bisa loh bikin kayak komunitas teater atau kabaret sendiri, dengan apapun yang dimiliki," ujar Nia Dinata.

Sosok Hamzah Sulaiman

Director of House of Raminten Ratri mengatakan, yang membuat film ini semakin istimewa adalah karena "Jagad'e Raminten" merupakan persembahan terakhir, sebuah kado penuh cinta dari teman-teman dan keluarga besar untuk mendiang Hamzah Sulaiman.

Meski Hamzah Sulaiman telah berpulang sebelum film ini sempat dirilis, namun semua yang terlibat tahu bahwa beliau sangat menantikan hadirnya kisah ini untuk disaksikan oleh masyarakat luas.

"Bapak adalah cahaya bagi begitu banyak orang,” ungkap Ratri, dengan suara yang bergetar dan mata berkaca-kaca saat mengenang figur ayah bagi seluruh keluarga besar Raminten.

Film ini adalah cara untuk meneruskan warisan Raminten, menyebarkan cinta, kepedulian, dan semangat inklusivitas, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta yang begitu dekat di hati beliau.

"Bagi kami, dokumenter ini bukan sekadar karya film, tetapi juga sebuah bentuk penghormatan penuh cinta untuk sosok bapak kami, almarhum Hamzah Sulaiman. Beliau adalah cahaya bagi begitu banyak orang, baik sebagai pemimpin, sahabat, maupun figur ayah bagi keluarga besar Raminten," ujar Ratri.

Figur Sederhana dan Dekat dengan Masyarakat

ebagai produse dan penulis Dena Rachman mengaku memiliki kesan terhadap sosok Hamzah Sulaiman meski telah berpulang.

"Waktu pas kita datang ke funeralnya Kanjeng, aku sampai kaget kaget lihat itu ada karangan bunga, tulisannya dari becak di depan mirota batik. Itu kan berarti kayak ini hidupnya Kanjeng benar-benar menyentuh banyak orang sampai tukang becak ibaratnya gitu di depan Hamzah Batik, bayangin enggak sih, itu kayak enggak ke pikiran gitu bahwa beliau tuh sebegitu berartinya buat mereka semua gitu," kata Dena Rachman.

Dena Rachman mengungkapkan, film ini menjadi sebuah representasi sebuah kebaikan yang bisa dilihat semua orang, termasuk mengayomi dan mendorong setiap orang mendapatkan penghidupan yang layak.

Dari proses pembuatan film dokumenter Jagad'e Raminten Dena Rachman juga mengaku terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan S3 terutama untuk melakukan riset terkait kekayaan budaya di Indonesia.

"Jadi dari proses skrining ini awalnya kita enggak tahu bakalan kayak gimana dan selama proses filming kita interview banyak orang termasuk Kanjeng dan juga para performernya yang memang beda-beda semuanya dan kita belajar banyak hal dari situ," ujar Dena Rachman.

Lebih dari sekadar hiburan, Raminten adalah sosok yang menyediakan rumah bagi banyak kaum marginal terutama bagi chosen family mereka. Sosok Raminten tidak hanya memperjuangkan inklusivitas di atas panggung, tetapi juga dalam kehidupan nyata dengan menciptakan penghidupan yang layak dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....