Chaim Joel Fetter, Jutawan Belanda yang Rela Mengasuh Anak Telantar di Sumbawa

  • 02 Mei 2025 17:07 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Sumbawa: Di tengah lanskap Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang indah, tersimpan kisah pilu di tengah oase harapan yang nyaris terwujud. Pusat Kesejahteraan Anak Peduli Anak yang dibangun untuk 300 anak-anak terancam kosong tanpa fasilitas pendukung.

Pembangunan yang dikerjakan hampir lima tahun dan sudah mencapai 95 persen dengan adanya ruang kelas, ibu asuh terlatih dengan 12 rumah yang indah dan berdiri kokoh. Namun, seluruh rumah yang berdiri tersebut belum dilengkapi perabotan seperti ranjang susun maupun perlengkapan penting lainnya, ditambah fasilitas lain masih belum siap digunakan sepenuhnya.

Terdorong kebutuhan yang sangat mendesak untuk anak-anak, Chaim Joel Fetter secara pribadi mengirimkan email kepada CEO IKEA Indonesia Adrian Worth serta perusahaan penyedia peralatan profesional, Electrolux Professional untuk mengetuk pintu hati mereka sehingga memberikan dukungan.

Kabar baik pun diterima dari Electrolux Professional, mereka menyambut positif permintaan peralatan dapur profesional, yang akan sangat membantu dalam menyiapkan makanan untuk anak-anak setiap hari. Sementara dari CEO IKEA Indonesia, masih menantikan kabar lebih lanjut.

“Kami sangat menghargai kepedulian IKEA, khususnya saat mereka memberikan dukungan yang luar biasa setelah gempa Lombok tahun 2018. Dukungan itu sangat berarti bagi kami dan anak-anak di Lombok, dan kami percaya semangat tersebut tetap hidup hingga kini. Adapun untuk yang di Sumbawa ini, kami berharap IKEA bisa memberikan harga dasar bagi kami untuk bisa membeli ranjang, lemari dan perabot lainnya yang dibutuhkan,” ujar Fetter, dalam keterangan tertulisnya yang diterima rri.co.id, Jumat (2/5/2025).

Bagi Chaim Fetter, ini bukan hanya tentang Sumbawa, karena ia melihat Pusat Kesejahteraan Anak ini sebagai cetak biru berskala nasional. "Jika kami bisa membuktikan ini berhasil, maka pendekatan ini bisa direplikasi oleh LSM, komunitas, bahkan pemerintah. Mungkin suatu hari nanti, tidak ada lagi anak Indonesia yang harus tidur di lantai, putus sekolah, atau mengalami kekerasan dan penelantaran," ucapnya.

Dengan peresmian yang tinggal beberapa bulan lagi, hanya satu dorongan terakhir memisahkan visi ini dan kenyataan. "Bangunannya sudah berdiri. Anak-anak sedang menanti. Yang kurang hanyalah satu tindakan kecil penuh kebaikan: tempat tidur untuk anak-anak," kata dia.

Inspirasi diri dalam Adi

Ia pun mengisahkan tentang perjalananya hingga akhirnya memutuskan mendirikan Pusat Kesejahteraan Anak. Hampir 20 tahun lalu, Fetter sendiri merupakan seorang pengusaha internet sukses di Belanda.

Namun ada satu momentum yang akhirnya mengubah segalanya.

Kala melakukan perjalanan backpacking di Lombok tahun 2004 silam, Fetter bertemu Adi yang merupakan seorang anak laki-laki yang tengah mengemis di lampu merah. Adi telah kehilangan kedua orang tuanya dan tinggal sendirian di bawah selembar terpal.

"Saat itu hati ini seperti ditinju, saya tidak bisa melupakannya saat pulang ke rumah. Apa artinya kesuksesan yang saya genggam kalau masih ada anak-anak seperti Adi yang menderita," ucap Fetter, mengenang.

Kondisi yang dirasakan itu menggerakkan Fetter ketika kembali ke Belanda. Dirinya lantas menjual perusahaannya, dan kembali ke Indonesia. Bukan untuk cuti panjang, tetapi demi sebuah misi. Ia memeluk Islam, terinspirasi oleh kemurahan hati dan kehangatan orang-orang yang ditemuinya.

“Bahkan keluarga yang sangat miskin berbagi sedikit dari apa yang mereka miliki. Masuk Islam rasanya seperti menemukan keluarga dan makna hidup yang lebih dalam," ujarnya.

Motivasi Fetter tidak semata-mata terinspirasi dari apa yang ia lihat, melainkan berakar dari pengalaman hidupnya sendiri. Setelah orang tuanya bercerai, ia ditempatkan di panti asuhan di Belanda saat berumur enam tahun.

“Saya tahu rasanya menjadi anak yang tidak dipedulikan siapa pun. Perasaan diabaikan itu tidak pernah benar-benar hilang. Saya masih sering mimpi buruk, memimpikan saat orang tua saya meninggalkan saya di sana, dan saya berlari mengejar mereka. Saya bertekad untuk membangun tempat dimana anak-anak bisa pulih, disayangi, dan merasa seperti di rumah," ucap Fetter, mengisahkan kembali hidupnya.

Dimulai 2006

Pada tahun 2006, Fetter bersama istri dan beberapa teman dekat mendirikan Yayasan Peduli Anak dan membuka Pusat Kesejahteraan Anak pertama di Lombok. Dibangun di atas lahan seluas 2,2 hektar, fasilitas ini mencakup 14 rumah berkonsep keluarga, sebuah masjid, sekolah dasar dan menengah pertama, klinik kesehatan, lapangan olahraga, dan kebun

organik.

Setiap rumah diasuh oleh seorang ibu asuh terlatih, menciptakan lingkungan keluarga yang stabil dan penuh kasih sayang. Sejak saat itu, Yayasan Peduli Anak telah mendukung ribuan anak, dan banyak di antara mereka yang telah lulus kuliah dan kembali bekerja di pusat ini sebagai guru, konselor, perawat, dan akuntan.

Yayasan ini telah meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk Kick Andy Heroes Award dan Piagam Apresiasidari Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Pada tahun 2019, seiring dengan meningkatnya permintaan dan mencuatnya kisah anak terlantar di daerah terpencil, Yayasan Peduli Anak memperluas misinya ke Sumbawa, sebuah pulau tertinggal dengan akses layanan pemerintah yang sangat terbatas dan penelantaran anak merupakan hal tragis, yang sayangnya lumrah terjadi.

"Ini sangat memilukan. Kami mendengar kisah anak-anak yang ditinggalkan karena orangtuanya menikah lagi atau pergi merantau untuk bekerja. Ada yang tidur di gubuk terbengkalai. Bahkan, ada yang tidak makan berhari-hari," ujarnya, mengungkapkan.

Bukan penampungan biasa

Meskipun tantangan logistik besar menghadang, terutama untuk membawa material dari Lombok dan Jawa, serta berbagai hambatan akibat pandemi Covid-19, tim terus bertahan dan tidak menyerah. Kini, berkat donasi dari masyarakat dan perusahaan swasta, Pusat Kesejahteraan Anak di Sumbawa hampir rampung.

Dirinya menjelaskan, Pusat Kesejahteraan Anak bukan sekadar penampungan biasa, melainkan sebuah desa anak yang sepenuhnya mandiri, dengan dua belas rumah, sekolah, masjid, klinik kesehatan, sport center, dapur yang mampu menyiapkan 900 porsi makanan setiap hari, dan kebun organik yang menyediakan buah serta sayuran segar untuk anak-anak.

Fasilitas ini akan menyediakan perawatan menyeluruh bagi 300 anak, termasuk 150 anak yang tinggal penuh waktu dan 150 siswa harian dari desa-desa miskin di sekitarnya. Pusat Kesejahteraan Anak ini juga akan mempekerjakan staf lokal, membeli hasil panen petani sekitar, dan menciptakan efek berantai bagi perekonomian setempat.

Butuh uluran bantuan

Namun saat ini, belum ada satu pun rumah yang dilengkapi perabotan. Tanpa ranjang, 150 anak yang telah dirujuk belum bisa menempati rumah-rumah tersebut. Mereka tetap berada dalam bahaya, tidur di lingkungan yang tidak stabil dan tidak aman, sementara 12 rumah indah masih kosong dan belum bisa dihuni.

Seperti Obi, 13 tahun, yang terpaksa putus sekolah setelah ayahnya meninggal. Kini, Obi bekerja di bengkel pemotongan kaca tanpa perlengkapan pelindung, berusaha untuk menghidupi ibu dan adiknya. Ia dan adiknya menderita infeksi kulit yang tidak pernah diobati.

Ada juga Ray, 11 tahun, yang tidur di atas tikar dalam gubuk terbengkalai. Ia harus mengais makanan dan mengetuk pintu tetangga demi sisa makanan. Obi masih bisa tinggal bersama keluarganya jika ia menerima dukungan harian untuk memenuhi kebutuhan makan, pendidikan bagi dirinya dan adiknya, serta biaya perawatan kesehatan mereka.

"Ada 150 anak seperti Obi dan Ray yang sudah menunggu untuk tinggal di pusat ini. 150 anak lainnya dari desa sekitar siap untuk bersekolah dan makan bersama kami setiap hari," kata Fetter, melanjutkan.

Hingga kini, lebih dari 8.000 orang Indonesia telah berdonasi. Anak-anak sekolah mengadakan penggalangan dana dengan menjual aksesori buatan mereka, seperti gelangdan kalung dari manik-manik. Banyak masyarakat turut menyumbang setelah mengetahuimisi kami melalui media sosial. Beberapa pemilik usaha lokal juga menyelenggarakan acara penggalangan dana.

"Ini telah menjadi proyek milik bersama," kata Fetter, "Bahkan orang-orang yang belum pernah ke Sumbawa ikut menyumbang, karena mereka percaya pada apa yang sedang kami lakukan," ucap dia, menambahkan. (dyan/atang)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....