Urban Farming di Atap Phoenix Hotel: Solusi Cerdas Ketahanan Pangan Yogyakarta

  • 11 Nov 2024 19:47 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Tinggi dan padatnya gedung di perkotaan tidak menyurutkan upaya membangun sebuah lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian, salah satunya di Phoenix Hotel. Bangunan yang berdiri di tengah perkotaan dan tidak jauh dari ikon Yogyakarta ini memiliki oase hijau yang tumbuh subur di bagian atasnya.

Inovasi urban farming inipun tak pelak menarik perhatian Pj Wali kota Yogyakarta Sugeng Purwanto untuk datang menyaksikan langsung inovasi yang dilakukan dengan mengubah atap menjadi sebuah lahan perkebunan yang produktif dan inovatif, pada hari Sabtu (9/11/2024).

Memanfaatkan teknologi hidroponik, Phoenix Hotel tidak hanya menghadirkan tanaman segar, akan tetapi juga mengolah sampah organik menjadi pupuk cair yang digunakan untuk merawat tanaman tersebut.

Dalam momen tersebut Sugeng tampak terkesan dengan kebun mini di rooftop hotel yang menanam berbagai jenis sayuran seperti selada, sawi, dan pagoda. Ia mengapresiasi langkah Phoenix Hotel sebagai contoh cerdas dalam memanfaatkan ruang terbatas untuk memproduksi pangan segar.

“Urban farming di rooftop ini adalah solusi yang sangat relevan, mengingat keterbatasan lahan pertanian di Yogyakarta. Ini bisa menjawab kebutuhan masyarakat akan pangan yang sehat dan segar, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada impor bahan makanan,” ujar Sugeng.

Selain menghasilkan tanaman segar, Phoenix Hotel juga menggunakan teknologi pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair. Sampah yang dihasilkan hotel setiap harinya, sebanyak 70-100 kg, diolah menjadi pupuk yang kemudian digunakan untuk merawat tanaman di atap. Ini adalah langkah konkret dalam mengurangi limbah sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.

Sugeng menambahkan, meskipun urban farming menghadirkan tantangan tersendiri di Yogyakarta yang memiliki lahan terbatas, konsep ini membuka peluang besar untuk menciptakan ketahanan pangan lokal. “Pupuk organik cair yang dihasilkan hotel ini tidak hanya untuk kebutuhan mereka, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk lingkungan sekitar. Ini adalah contoh nyata bagaimana sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat bisa bekerja sama untuk menghadapi masalah perkotaan,” kata Sugeng.

Dalam kunjungan tersebut, Sugeng juga menekankan pentingnya program Gandeng Gendong 5K (Kota, Kampus, Korporasi, Kampung, dan Komunitas) yang bertujuan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan perkotaan, seperti pengelolaan sampah dan ketahanan pangan, secara kolaboratif. Phoenix Hotel menjadi contoh bagi sektor usaha lainnya untuk berperan dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan.

Marketing Communication Manager Phoenix Hotel Paskalia Ditha Ratnasari menjelaskan, bahwa hotel ini berkomitmen untuk melestarikan lingkungan melalui berbagai program ramah lingkungan. Selain urban farming, hotel juga aktif dalam mengurangi limbah plastik dan sampah non-organik lainnya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa dengan ruang terbatas, siapa pun bisa berkontribusi untuk lingkungan. Kami berharap ini bisa menjadi contoh bagi hotel-hotel lain di Yogyakarta untuk mengadopsi konsep serupa,” ujar Ditha.

Phoenix Hotel juga berencana mengembangkan pertanian organik lebih lanjut, serta menciptakan pengalaman menginap yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi para tamu.

Dengan konsep urban farming ini, Phoenix Hotel tidak hanya memberikan kontribusi pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang untuk menjadikan kota Yogyakarta sebagai contoh kota yang peduli terhadap ketahanan pangan dan pengelolaan sampah yang efisien. Kini, rooftop yang dulunya hanya lahan kosong, telah berubah menjadi simbol kreativitas dan solusi inovatif di tengah kota yang sibuk ini. (Yan/par)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....