Mahasiswa UGM Ciptakan Intoco, Bantu UMKM Olah Cokelat

  • 15 Sep 2026 12:35 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis di Dusun Salakmalang, Kalurahan Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, mengembangkan potensi kakao lokal menjadi produk cokelat bernilai ekonomi.

Namun, proses produksi masih menghadapi kendala pada tahap tempering atau pengaturan suhu cokelat. Selama ini, proses tersebut dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu hingga 60 menit dan suhu pemanasan maupun pendinginan sulit dikendalikan secara konsisten.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kegagalan produksi hingga 40 persen. Sementara alat tempering yang tersedia di pasaran dibanderol sekitar Rp30 juta, sehingga dinilai belum terjangkau bagi sebagian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Persoalan tersebut kemudian mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Intoco atau Integrated Tempering Operation with Cooling Heating Control.

Intoco merupakan perangkat yang menggabungkan sistem pemanasan dan pendinginan dalam satu alat. Teknologi tersebut juga dilengkapi pemantauan suhu secara real-time sehingga proses tempering dapat dilakukan secara lebih terukur.

Ketua Tim PKM-PI, Muhammad Fajar, mengatakan pengembangan Intoco berawal dari kebutuhan KWT Pawon Gendis terhadap teknologi yang mampu membuat proses tempering lebih efisien dan mudah dikendalikan.

Integrasi sistem pemanasan dan pendinginan dalam satu perangkat memungkinkan suhu selama proses dapat dipantau secara langsung.

“Melalui Intoco, proses tempering dapat dilakukan dengan suhu yang lebih terkontrol dan waktu yang lebih efisien, sehingga membantu mitra meningkatkan konsistensi kualitas serta hasil produksi cokelat,” ujarnya, Senin, 14 September 2026.

Intoco dikembangkan melalui kolaborasi mahasiswa dari sejumlah disiplin ilmu di UGM. Tim tersebut terdiri atas Muhammad Fajar, Aziz Dafa Fadillah, dan Samuel Panji Sri Wijaya dari Teknologi Rekayasa Mesin; Hanum Rahma Nurfadila dari Ilmu Tanah; serta Nagita Selviana dari Ekonomi Pertanian dan Agribisnis.

Pengembangan inovasi tersebut dilakukan di bawah pendampingan Ir. Irfan Bahiuddin, dosen Sekolah Vokasi UGM.

Anggota Tim PKM-PI, Aziz Dafa Fadillah, menjelaskan Intoco memanfaatkan teknologi Peltier sebagai sistem pemanas dan pendingin yang didukung radiator. Perangkat tersebut juga dilengkapi mixer otomatis dengan penggerak motor serta layar monitor untuk memantau suhu secara real-time.

“Mekanisme tersebut dirancang untuk membantu menjaga kestabilan suhu sekaligus menghasilkan proses pencampuran yang lebih merata, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada proses manual dan meningkatkan efisiensi waktu pengolahan cokelat,” katanya.

Dalam penggunaannya, pasta nibs terlebih dahulu dimasukkan ke dalam wadah. Mixer kemudian dipasang pada dudukan pengaduk sebelum mesin dinyalakan melalui saklar utama.

Pengguna selanjutnya memilih menu “Temper” pada layar monitor, kemudian menentukan jenis cokelat yang akan diproses, yakni milk atau dark. Setelah tombol “Konfirmasi” ditekan, sistem akan menjalankan proses tempering secara otomatis berdasarkan pembacaan sensor suhu secara real-time hingga proses selesai.

Dengan mekanisme tersebut, pengguna tidak lagi harus melakukan proses pemanasan dan pendinginan secara terpisah.

“Pemantauan suhu yang dilakukan secara langsung juga membantu proses tempering berjalan lebih terukur sesuai tahapan yang telah dirancang oleh tim,” katanya.

Dosen pendamping PKM-PI, Ir. Irfan Bahiuddin, mengatakan pengembangan Intoco menggabungkan berbagai aspek, mulai dari rekayasa mesin, pengolahan pangan, hingga pengelolaan usaha.

Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan mitra sekaligus meningkatkan efisiensi dan konsistensi dalam proses produksi cokelat.

“Melalui inovasi ini, kami berharap Intoco dapat membantu mitra mengoptimalkan proses produksi, mengurangi tingkat kegagalan, serta mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengembangan usaha cokelat,” ujarnya.

Pengembangan Intoco mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta UGM. Dukungan tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi tepat guna yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha di tingkat lokal.

Tim UGM berharap Intoco tidak hanya dimanfaatkan oleh KWT Pawon Gendis, tetapi juga dapat menjadi alternatif teknologi bagi pelaku usaha cokelat lainnya.

Dengan mengintegrasikan fungsi pemanasan, pendinginan, pengadukan, dan pemantauan suhu dalam satu perangkat, Intoco diharapkan dapat membantu UMKM meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk cokelat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....