Perkuat Kesehatan Finansial, Amartha Dorong UMKM Perempuan Yogyakarta Naik Kelas
- 02 Sep 2026 09:28 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perekonomian Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Sementara pada semester I-2026 ekonomi tumbuh 5,45 persen.
Pertumbuhan ini menjadi momentum untuk memastikan UMKM di tingkat akar rumput memiliki kapasitas dan akses yang memadai agar dapat ikut menangkap peluang pertumbuhan ekonomi.
Peran perempuan dalam ekosistem ekonomi juga memiliki porsi yang sangat besar. Data BPS 2024 mencatat sekitar 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Namun, mayoritas masih berada pada skala mikro, sehingga penguatan kapasitas usaha, akses pasar, serta literasi dan kesehatan finansial menjadi penting agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Melihat kebutuhan tersebut, Amartha menghadirkan Usaha Naik Kelas, sebuah program yang dirancang untuk membantu wirausaha UMKM memperkuat fondasi usaha dan membuka peluang pertumbuhan. Program ini berfokus pada tiga hal: memperkuat literasi keuangan sebagai fondasi kesehatan finansial, meningkatkan akses pasar, serta memperkuat kolaborasi multi-stakeholder untuk mendukung kesehatan finansial.
Sebagai bagian dari rangkaian tersebut, Amartha menghadirkan “Buka Peluang” di Yogyakarta. Kegiatan ini mempertemukan perempuan pengusaha UMKM dengan offtaker dan inkubator bisnis serta organisasi pendukung dari swasta dan pemerintah untuk membantu formalisasi bisnis sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan.
“Ketika berbicara tentang solusi UMKM naik kelas, kita tidak bisa melihat hanya dari akses permodalan. Ada fondasi dan intervensi yang perlu dibangun, mulai dari kesehatan finansial, kapasitas pengelolaan usaha, legalitas, hingga keterhubungan dengan pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Amartha melihat naik kelas sebagai proses, bukan tujuan yang dicapai dalam satu langkah,” ujar Aria Widyanto selaku Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha
Hal ini sejalan dengan komitmen Amartha sejak peluncuran Indonesia Coalition for Financial Health (ICFH) pada The 2026 Asia Grassroots Forum pada bulan Juni lalu, untuk terus mendorong penguatan kesehatan finansial di tingkat akar rumput melalui kolaborasi lintas sektor sehingga dapat membantu peningkatan kesejahteraan UMKM secara berkelanjutan.
Memperkuat fondasi
Salah satu fokus program Usaha Naik Kelas ialah memperkuat kesehatan finansial UMKM, meliputi pendapatan, tabungan, ketahanan finansial, pertumbuhan usaha, kemandirian dan kepercayaan diri. Pendekatan ini membantu UMKM memahami kondisi bisnis sekaligus mengidentifikasi kebutuhan untuk bertumbuh.
Kebutuhan ini juga tercermin secara nasional. SNLIK 2025 OJK dan BPS mencatat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di 66,46 persen, menunjukkan pentingnya memperkuat pemahaman dan kemampuan mengelola keuangan seiring dengan perluasan akses.
Dalam program ini, Amartha bersama KemenPPPA dan Women’s World Banking (WWB) juga mendorong kesiapan usaha melalui formalisasi bisnis. Peserta mendapatkan edukasi dan fasilitas NIB, termasuk pemahaman mengenai persyaratan perizinan produk seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengapresiasi Amartha, Women’s World Banking (WWB), dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Usaha Naik Kelas 2026.
"Ketika perempuan mampu mengelola keuangan, menghadapi guncangan, merencanakan masa depan, dan memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan keuangan, mereka akan lebih siap memanfaatkan peluang untuk mengembangkan usahanya. Kami melihat, kesiapan usaha dan formalisasi menjadi fondasi dalam membangun kesejahteraan keuangan bagi perempuan pengusaha UMKM," ujar Vitasari Anggraeni, Director of Policy WWB.
Program lokakarya Buka Peluang ini juga mempertemukan UMKM dengan calon mitra pasar untuk memahami standar produk, kebutuhan pengadaan, kesiapan memasuki pasar yang lebih luas dan digital financial literacy melalui handbook Usaha Naik Kelas. Di Yogyakarta, kegiatan ini melibatkan Agradaya, Krisna, dan Pasaraya sebagai mitra dan calon offtaker.
“Dari data kami, tanpa adanya intervensi dan kolaborasi strategis antarpemangku kepentingan, tingkat keberhasilan naik kelas pengusaha ultra-mikro hanya sekitar 3 persen,” kata dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....