Kambing Putih Turi Hadirkan Produk Susu Bubuk Bernilai
- 13 Agt 2026 19:11 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kambing Putih yang dirintis Satria Bentang mulai mengembangkan produk susu kambing bubuk sebagai alternatif konsumsi susu kambing segar. Berbasis di Turi, Sleman, produk tersebut diolah melalui proses pemasakan dan pengkristalan untuk menekan kadar air sehingga lebih awet dan praktis dikonsumsi. Usaha yang baru berjalan sekitar satu tahun itu kini terus memperluas pemasaran melalui berbagai kegiatan promosi secara langsung.
Satria Bentang mengatakan, Kambing Putih merupakan usaha yang dibangun secara mandiri bersama istrinya dengan memanfaatkan potensi peternakan kambing yang telah ditekuni keluarganya. Sebelum mengembangkan produk susu, keluarganya telah menjalankan usaha ternak kambing sejak sekitar 2014. Latar belakang pendidikan Satria di bidang peternakan turut mendorongnya untuk mengembangkan susu kambing menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
“Saya masih merintis, baru sekitar satu tahunan. Dari dulu orang tua sudah ternak, kemudian saya mencoba mengembangkan susu kambing menjadi produk seperti ini,” ujarnya.

Menurut Satria, bahan baku yang digunakan Kambing Putih berasal dari jaringan kelompok peternak. Sistem kolektif tersebut dilakukan karena produksi susu dari kambing milik sendiri belum mencukupi kebutuhan produksi. Jenis kambing yang digunakan juga beragam, antara lain peranakan etawa (PE), Sapera, Saanen, Jawarandu, dan Senduro. Meski demikian, kualitas susu tidak hanya dipengaruhi jenis kambing, tetapi juga kondisi masing-masing ternak, terutama pakan yang dikonsumsi.
Susu kambing segar tersebut kemudian diolah menjadi bubuk melalui proses pemasakan dan pengkristalan. Satria menjelaskan, pengolahan menjadi bubuk menjadi salah satu alternatif untuk memperpanjang masa simpan sekaligus mengurangi aroma khas susu kambing. Dalam prosesnya, satu kali pemasakan dapat berlangsung sekitar dua jam, tergantung karakteristik susu yang diperoleh dari peternak.
“Susu kambing nutrisinya lebih padat sehingga lebih cepat berubah. Karena itu, salah satu alternatifnya dibuat bubuk dengan kadar air ditekan supaya lebih awet,” ucapnya.

Untuk menjaga proses produksi, Satria bekerja sama dengan warga di sekitar kandang yang telah memiliki pengalaman mengolah susu segar menjadi bubuk. Sementara kegiatan penjualan biasanya melibatkan sekitar tujuh orang ketika seluruh tim turun berjualan. Namun, untuk proses memasak, Satria bersama istrinya masih terlibat langsung. Kapasitas produksi disebut dapat mencapai sekitar satu kuintal per hari apabila dilakukan secara penuh, meski produksi tidak dilakukan setiap hari dan menyesuaikan kebutuhan pasar serta stok yang tersedia.
Kambing Putih menawarkan sejumlah varian rasa, yakni original, jahe, cokelat, taro, dan jahe merah. Setiap varian memiliki segmen konsumen yang berbeda. Satria menyebut konsumen orang dewasa cenderung memilih rasa original dan jahe, sedangkan varian cokelat dan taro lebih banyak diminati anak-anak. Sementara itu, varian jahe merah menggunakan gula aren dan memiliki karakter rasa yang lebih pedas dibandingkan varian lainnya.

Dari sisi pemasaran, produk Kambing Putih saat ini lebih banyak dipasarkan secara langsung atau offline. Satria menyebut produknya telah tersedia di sejumlah apotek dan toko, meski belum masuk jaringan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Selain itu, promosi dilakukan di sejumlah lokasi, antara lain Pasar Ngasem, Sunday Morning UGM, Stadion Maguwoharjo, Lapangan Denggung Sleman, hingga Stadion Sultan Agung Bantul. Strategi penjualan langsung dipilih untuk memperoleh masukan konsumen sekaligus mengetahui respons pasar terhadap produk yang masih dalam tahap pengembangan.
Dalam perjalanan satu tahun usahanya, Satria mengaku banyak memperoleh masukan dari konsumen terkait rasa, aroma, hingga tingkat kekentalan produk. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk melakukan penyempurnaan secara bertahap. Penjualan harian juga masih bergantung pada kondisi pasar, dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari saat berjualan.
“Saya mencoba offline dulu karena dari situ saya bisa mengetahui respons konsumen, apa yang perlu diperbaiki, sehingga produknya semakin matang. Apalagi saya baru satu tahun, jadi masih banyak proses trial and error,” katanya.
Ke depan, Satria berharap Kambing Putih dapat memperluas jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Pengembangan produk akan tetap diarahkan berdasarkan kebutuhan dan masukan konsumen agar mampu bersaing di pasar susu olahan.
Selain memperkuat pemasaran offline, Kambing Putih juga mulai mempertimbangkan pengembangan promosi melalui kanal digital. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkenalkan susu kambing bubuk produksi UMKM lokal Turi kepada konsumen yang lebih luas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas peternakan masyarakat sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....