Mengenal Kios Difable Zone Jogja, Wadah Inklusif Produk Disabilitas

  • 13 Agt 2026 11:58 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Fransiskus Asisi Edith Guruh Atmaja atau akrab dipanggil Edith setia menjaga Kios Difable Zone yang menyediakan beragam produk fesyen dan aksesori. Kios tersebut menawarkan pakaian, tas, topi, kalung, hingga sarung. Kehadiran tempat ini sekaligus menjadi ruang pemasaran produk kreatif komunitas disabilitas.

Edith menjelaskan bahwa produk yang dijual di Kios Difable Zone tidak seluruhnya diproduksi sendiri. Sebagian barang merupakan hasil kerja sama dengan komunitas atau kelompok usaha penyandang disabilitas. Selain itu, terdapat pula kemitraan dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) asal Malaysia.

"Di sini ada pakaian, tas, aksesori, topi, kalung, sampai sarung. Produknya juga ada yang bekerja sama dengan teman-teman disabilitas dan UKM Malaysia," ujarnya.

Beragam tas dan aksesori di Difable Zone hadir dengan desain unik sekaligus membawa semangat pemberdayaan dan kemandirian komunitas disabilitas. (Foto: RRI/HE)

Harga produk yang ditawarkan cukup beragam sesuai jenis dan ukuran barang. Pakaian dijual pada kisaran Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, sementara produk dengan model tertentu dapat mencapai sekitar Rp600 ribu. Variasi harga ini memberikan pilihan bagi pengunjung yang ingin mendukung aktivitas usaha komunitas disabilitas.

Difable Zone menghadirkan beragam pilihan fesyen dan aksesori, dari pakaian, tas, hingga berbagai kerajinan. (Foto: RRI/HE)

Kios Difable Zone beroperasi hampir setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Pada kondisi tertentu, kios dapat buka lebih awal sejak pukul 06.00 WIB untuk melayani masyarakat.

"Biasanya buka jam tujuh sampai sekitar jam empat sore, kadang-kadang bisa buka jam enam. Di sini juga tidak ada libur, buka terus," ucapnya.

Kalung, gantungan kunci, dan aksesori unik di Difable Zone bukan sekadar pelengkap gaya. (Foto: RRI/HE)

Selain menjadi tempat penjualan, Difable Zone menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan penyandang disabilitas. Pusat produksi dan kantor utamanya berada di Klaten, sedangkan kios di Yogyakarta berfungsi memperkenalkan produk secara langsung maupun daring kepada masyarakat.

Di balik ketelatenannya menjaga kios, pria berusia 30 tahun tersebut memiliki perjalanan panjang. Edith yang menempuh pendidikan SMP dan SMA di Lampung mengasah keahlian berdagang dari kebiasaannya membantu sang kakak serta menemani ibunya berbelanja kebutuhan fesyen. Pengalaman tersebut membuatnya makin familier dengan dunia pakaian dan aksesori.

Beragam pilihan fesyen dengan motif dan warna menarik hadir di Difable Zone. (Foto: RRI/HE)

Pengalaman membantu keluarga akhirnya mengantarkan Edith bekerja di Kios Difable Zone Yogyakarta. Di sela aktivitas melayani pembeli, ia juga rutin merawat dan membersihkan tempat usaha.

Kehadirannya di Difable Zone menjadi bukti bahwa ruang kerja inklusif memberi kesempatan bagi setiap individu untuk beraktivitas, berkarya, dan berkontribusi kepada masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....