Jajanan Kukus Tradisional Kian Diminati Warga Yogyakarta
- 06 Jun 2026 10:55 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Di tengah maraknya berbagai makanan kekinian, jajanan tradisional berbahan dasar kukusan justru semakin diminati masyarakat. Fenomena ini dirasakan oleh Yustina, pemilik sekaligus penjual aneka jajanan kukus tradisional yang berjualan di kawasan utara Terminal Condongcatur, Yogyakarta. Usaha yang baru berjalan sekitar enam bulan tersebut kini mulai memiliki pelanggan tetap dari berbagai kalangan.
Yustina mengatakan dirinya memilih menjual jajanan tradisional karena melihat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya makanan sehat. Menurutnya, makanan tradisional yang diolah secara sederhana tanpa banyak bahan tambahan kini kembali mendapat tempat di hati masyarakat. "Saya melihat peluang karena sekarang banyak orang mulai sadar pentingnya makanan sehat atau clean food," ujarnya.
Beragam menu tradisional disajikan setiap hari di lapaknya. Beberapa di antaranya adalah ubi kukus, talas kukus, carang gesing, lemet, dan lemper. Dari seluruh menu yang tersedia, ubi dan talas menjadi produk yang paling banyak dicari pembeli, disusul carang gesing dan lemper yang juga memiliki penggemar tersendiri.

Dalam sehari, jumlah penjualan tidak selalu sama. Namun, Yustina mengungkapkan bahwa permintaan ubi kukus relatif stabil dengan penjualan minimal mencapai 15 kilogram per hari. Sementara itu, talas kukus rata-rata terjual sekitar 5 kilogram setiap harinya. Tingginya minat pembeli menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki pasar yang cukup besar.
Untuk menjaga kualitas dagangannya, Yustina memastikan seluruh bahan yang digunakan selalu dalam kondisi segar. Ia tidak menggunakan bahan sisa dari hari sebelumnya dan memilih mengolah bahan baru setiap hari. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga rasa sekaligus kualitas produk yang dijual kepada pelanggan.
Seluruh jajanan yang dijual di lapaknya merupakan hasil olahan sendiri. Tidak ada produk titipan dari pihak lain. Mulai dari proses pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian dilakukan secara mandiri. "Semua menu merupakan hasil masakan sendiri karena saya memang hobi memasak," katanya.

Salah satu pembeli, Ryan, mengaku tertarik mampir setelah melihat lapak aneka kukusan tersebut saat melintas di kawasan Condongcatur. Ia kemudian membeli beberapa jenis jajanan untuk mencoba cita rasanya. "Saya baru lewat sini, menemukan stand polo pendem. Saya coba beli beberapa untuk merasakan dulu. Saya beli banyak, hanya Rp27.000. Mending beli kayak gini jelas sehat, ketimbang sarapan nasi bikin gemuk, haha," katanya. Menurut Ryan, selain harganya terjangkau, aneka kukusan yang dijual juga menawarkan pilihan sarapan yang lebih ringan dan menyehatkan dibanding makanan cepat saji maupun makanan olahan lainnya.
Pelanggan yang datang ke lapaknya berasal dari berbagai kelompok usia. Mulai dari para pekerja yang melintas di sekitar lokasi, anak-anak sekolah, hingga kalangan lanjut usia menjadi pelanggan yang cukup rutin membeli jajanan tradisional tersebut. Harga yang terjangkau juga menjadi salah satu daya tarik utama.
Yustina menjual aneka jajanan dengan harga mulai Rp2.000 hingga Rp12.000 per porsi. Harga tersebut dinilai cukup ramah di kantong masyarakat. Bahkan, produk yang paling banyak diminati pembeli berada pada kisaran harga Rp2.000, sehingga mudah dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Meski usahanya terus berkembang, Yustina mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah mendapatkan bahan baku dengan kualitas terbaik secara konsisten. Menurutnya, kualitas bahan sangat menentukan cita rasa akhir dari produk yang dihasilkan.
Untuk menjaga konsistensi rasa, ia selalu menggunakan takaran bumbu dan metode memasak yang sama setiap hari. Selain itu, ia memastikan seluruh proses pengolahan dilakukan dengan standar yang telah ditetapkan. Hingga saat ini sekitar 95 persen dagangannya selalu habis terjual. Jika masih terdapat sisa makanan, ia memilih membagikannya kepada tetangga lapak daripada menjual kembali keesokan harinya.
Ke depan, Yustina berharap usahanya dapat terus berkembang hingga memiliki beberapa cabang di berbagai titik di Yogyakarta. Ia juga mengajak masyarakat untuk terus melestarikan jajanan tradisional sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara. "Meskipun hidup di era modern, jangan merasa minder karena menyukai kuliner tradisional. Kita harus mengenal dan menjaga cita rasa khas Indonesia agar tidak punah," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....