Sempat di Remehkan, Penjahit Asal Sulawesi Sukses Membangun Usaha di Jogja

  • 29 Mei 2026 21:24 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perempuan berusia 55 tahun asal Morowali Utara, Sulawesi Tengah memulai langkahnya di dunia fashion sebagai seorang penjahit rumahan di kampung halamannya. Meskipun pada saat sebelum mendirikan usaha Geisha Ratu, ia telah memiliki berbagai pelanggan atas jasa jahitnya di Sulawesi, namun atas kegigihan dan kerja kerasnya ia sukses mendirikan usaha di Yogyakarta.

Owner Geisha Ratu, Tin Dels Marce Ndawu mengatakan bahwa selepas menikah ia ikut suami untuk merantau ke medan. Namun, pada saat ia menjadi penjahit di Sulawesi, Namanya terkenal sebagai “tukang jahit dari medan” di kota medan, namun disisi lain ia mengaku tak terima dengan julukan tersebut.

“Dulu ada satu orang yang datang dari medan, dan kalau di Sulawesi itu kita menjahitnya di teras rumah, terus dia bilang oh itu ya penjahit dari medan, saya nggak terima lah. Terus kemudian di tahun 2009 saya berpikir masa saya mau menjahit terus sampai nenek, dari situlah kemudian saya mencari kampus di jogja yang sesuai dengan bidang saya,” kata Tin

Keinginannya untuk meningkatkan kualitas diri membuat Tin memutuskan untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) di tahun 2010 bersama dengan mahasiswa yang sebagian besar lebih muda darinya. Baginya keputusan melanjutkan pendidikan bukanlah perkara mudah, karena ia harus belajar teknologi yang masih asing baginya.

Setelah menyelesaikan pendidikan ia terus menekuni kompetensi lewat berbagai sertifikasi profesi, diantaranya bidang busana ia telah mengantongi LSK Kemendikbud level 2, 3, Pendidik kurses dan Sertifikasi pengajar tata busana. Di bidang garmen, ia juga mengantongi LSP dari kemnaker, serta tata busana fashion stylist dan metodologi dari BNSP.

Disisi lain, Gallery batiknya juga memiliki sertifikasi pewarnaan batik dan desain batik. Tak heran apabila usaha yang telah dirintis sejak 2018 sukses dan telah tergabung menjadi inkubator UMKM dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

“Saya bersyukur banget bisa gabung dengan BRI, dan dulu itu kami mengajukan KUR tanpa jaminan dan awalnya saya pinjam 5 juta. Dan pada saat itu kan pandemi covid 19, dan UMKM juga sangat terdampak tapi adanya KUR dari BRI sangat terbantu, apalagi pada saat itu dengan bunga 0 persen,” kata Tin

Sales Promotion Girl, Fransiska yang sudah bekerja selama 2 tahun mengatakan bahwa produk ecoprint masih memiliki pasar yang cukup baik. Menurutnya, pelanggan yang datang berasal dari berbagai kalangan.

“Kalau sekarang sih masih ramai, tapi tergantung penerbangan juga sebenarnya. Dan untuk pasar sih masih bagus lah,” kata siska.

Ia berharap pelaku UMKM terus berinovasi mengikuti tren pasar, terutama dalam menghadirkan model produk yang lebih beragam agar semakin diminati generasi muda. Proses panjang yang dihasilkan oleh owner gallery miliknya bekerja menjadi pengingat bahwa setiap ketrampilan akan bernilai jika diasah dan dijalani dengan ketekunan. (Victorio Firsta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....