Berawal dari Tertarik Fashion, Meyva Collection Tembus Pasarkan Batik ke Malaysia
- 26 Mei 2026 07:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Berangkat dari ketertarikannya terhadap dunia fashion dan pengalaman bekerja di toko batik, pelaku UMKM asal Yogyakarta sukses kembangkan usaha fashion batik hingga ke Malaysia. Usaha yang telah dirintisnya sejak tahun 2019 kini telah menjangkau ke berbagai penjuru di Indonesia hingga meraup omzet puluhan juta rupiah.
Owner Meyva Collection, Sri Ernawati mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang fashion maupun desain. Hanya berbekal pengalaman belajar secara otodidak saat bekerja di toko batik, kemudian ia merancang pakaian sendiri karena melihat peluang model batik yang masih monoton di pasaran.
“Dulu aku di tahun 2007 kerja di toko batik, tapi karena melihat koleksi toko batik saat itu monoton dan kebetulan dulu aku bagian produksi dan isenglah bikin batik terus aku pake ke tempat kerja, eh ada yang tertarik. Nah dari situ, temenku yang di jawa barat itu pesen, lama lama banyak yang tertarik akhirnya aku resign toko terus buka usaha batik ini, ikut pelatihan dan alhamdullilah sampe sekarang,”katanya
Awalnya ia hanya membuat lima potong baju dari dua lembar kain batik yang dipadukan dengan bahan lain sebagai ciri khas produknya supaya tidak monoton. Produk tersebut kemudian mendapat respons positif dari teman – temannya hingga mulai menerima pesanan dari luar kota secara bertahap.
Sementara itu, produk meyva berhasil masuk ke outlet – outlet oleh oleh di bali melalui kerja sama penjualan. Produk batiknya juga turut dipasarkan di sejumlah pusat oleh oleh seperti Hamzah Batik, Krisna Batik hingga area Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang menjadi pintu masuk pembeli dari luar daerah maupun luar negara.
“Jadi karena kita difasilitasi dari diskop provinsi DIY (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah DIY) jadi untuk pengiriman luar negara itu free ongkir. Dan itu sangat terbantu dari fasilitas yang diberikan,” katanya.
Perkembangan usahanya tidak terlepas dari dukungan pemerintah khususnya Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah DIY melalui berbagai program pembinaan UMKM. Selain dukungan pembinaan, ia mengaku juga terbantu dengan akses pembiayan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) saat ia merintis usaha.
“awalnya itu aku dulu sempet ada jualan kuliner juga, dan dulu aku pinjemnya Cuma sedikit nggak berani juga ambil banyak banyak. Dan dulu kebetulan waktu covid itu dari BRI nya memberi keringanan kalau yang terdaftar sebagai KUR bisa engga membayar pinjaman selama 6 bulan dengan bunga 0,3 persen,”katanya.
Ia menilai, kombinasi antara bantuan pembiayaan dan dukungan pemasaran menjadi faktor penting dalam perkembangan usahanya. Menurutnya, akses modal membantu menjaga produksi tetap berjalan, sementara fasilitas dari dinas membuka peluang pasar yang lebih luas hingga luar negeri. (Victorio Firsta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....