Hermi Perajin Kulit Jogja Ungkap Kunci Bertahan dari Berbagai Krisis

  • 08 Apr 2026 11:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Bertahan puluhan tahun di tengah dinamika ekonomi dan krisis global bukanlah perkara mudah bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini dibuktikan oleh Hermi, seorang pengrajin tas dan dompet kulit di Yogyakarta yang telah merintis usahanya sejak tahun 1983. Dari yang awalnya berjaya di pasar ekspor kerajinan anyaman, usahanya sukses bertransformasi menjadi penyuplai produk kulit berkualitas untuk pasar lokal nasional.

Hermi menceritakan, sebelum krisis moneter pada 1998, kampung tempatnya berproduksi adalah sentra kerajinan anyaman. "Dulu 80 persen warga satu kampung itu menganyam semua. Kami sempat ekspor. Namun rentetan peristiwa, mulai dari dolar yang tidak stabil saat Pak Harto lengser, ditambah tragedi Bom Bali, membuat pasar ekspor akhirnya terhenti," Kata Hermin kepada RRI senin 6 April 2026..

Meski ekspor terhenti, usaha Hermin pantang gulung tikar. Ia mulai menyasar pasar lokal dan berinovasi dengan material kulit. Dulu, ia bahkan sempat menyiapkan lahan seluas 1.000 meter persegi hanya untuk menampung para pekerja penganyam yang sistem kerjanya disebar di rumah-rumah warga. Kini, proses pengerjaan tas dan dompet kulit difokuskan di area belakang showroom miliknya.

Dalam memproduksi kerajinannya, Hermi menggunakan 90 persen bahan baku kulit sapi. Namun, untuk produk tertentu yang membutuhkan tingkat kelenturan tinggi, seperti dompet kecil, ia berinovasi menggunakan kulit domba atau kambing. Selain mendesain sendiri, Hermi juga melayani pesanan custom dari desain yang dibawa langsung oleh pelanggan.

Harga yang ditawarkan pun sangat variatif, bergantung pada jenis kulit dan tingkat kesulitan produksi. Untuk tas dengan desain sederhana berbahan kulit nabati, harganya dipatok mulai dari Rp100.000 hingga Rp150.000. Sementara itu, untuk tas yang menggunakan material kulit pull-up yang lebih premium, harganya berkisar di angka Rp200.000 hingga Rp300.000 ke atas.

Lebih lanjut, Hermi memberikan edukasi terkait perawatan produk kulit yang ternyata bergantung pada proses penyamakan nya. Kulit nabati, yang proses penyamakan nya memakan waktu relatif singkat sekitar 21 hari, membutuhkan perawatan ekstra.

"Kalau kulit nabati memang perlu diangin-anginkan, dipanaskan, atau diolesi semir netral merek tertentu agar tetap lembut dan tidak berjamur," ujarnya.

Sebaliknya, kulit pull-up yang sudah melewati proses pewarnaan pabrik tergolong minim perawatan dan cukup disimpan bersama bungkus silica gel di dalam tas agar terhindar dari kelembaban. Selain itu, bahan baku kulit nabati mengharuskan Hermi melakukan pewarnaan secara mandiri untuk menghasilkan warna-warna spesifik sesuai pesanan, seperti krem, coklat jati, atau hitam.

Kini, setiap minggunya Hermi mampu memproduksi rata-rata 200 hingga 300 unit tas dan dompet kulit. Produk-produk tersebut kemudian disetor ke berbagai pusat wisata belanja terkemuka, mulai dari Pasar Beringharjo dan Malioboro di Yogyakarta, hingga menembus pasar Jakarta dan Bali.

Meski bahan baku saat ini terbilang mudah didapat, Hermin mengakui adanya dampak signifikan pasca pandemi Covid-19. Kondisi ini memaksanya untuk merubah strategi bisnis. Jika sebelum pandemi ia berani menyetok bahan baku kulit hingga satu gudang penuh menggunakan truk Fuso, kini ia jauh lebih berhati-hati.

"Setelah Corona, saya tidak berani menyetok terlalu banyak. Daripada uang mati untuk bahan baku, lebih baik kita produksi sekiranya yang sesuai dengan pesanan saja," katanya.

Dalam mengarungi dunia perdagangan selama lebih dari empat dekade, Hermi memegang teguh filosofi bahwa orang berdagang itu kesandunge ngeroto, atau bisa tersandung di jalan yang rata akibat hal-hal yang tidak terduga. Hal ini menyadarkannya bahwa ketelatenan, kesabaran, dan daya juang adalah kunci utama untuk bertahan.

Perjalanan panjang rumah produksi kerajinan kulit milik Hermi ini pada akhirnya menjadi bukti nyata. Kemampuan beradaptasi, keberanian berinovasi, dan efisiensi modal merupakan pondasi vital bagi para pelaku UMKM untuk terus eksis dan menggerakkan roda perekonomian, meksipun harus dihadapkan pada berbagai badai krisis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....