Mengenal G2RT Cokrodiningratan yang Kembangkan Wisata dan UMKM Lokal

  • 28 Mar 2026 16:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Margono, Wakil Ketua Paguyuban G2RT Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Ketua Unit G2RT Cokrodiningratan bercerita tentang sebuah gerakan ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari pedesaan atau satu wilayah yang memiliki keuggulan bersaing yang terintegrasi baik melalui pemerintah, akademisi, pemerintah desa maupun lembaga – lembaga yang berada di dalam desa hingga masyarakat luas.

Global Gotong Royong Tetratrainer (G2RT), adalah model ekonomi desa berbasis gotong royong yang digagas oleh Rika Fatimah, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Gerakannya bertumpu pada empat pilar yaitu penguatan pasukan atau sumber daya manusia, pemasaran, branding, serta pengembangan produk unggulan lokal menuju pasar global.

“Harapannya produk-produk lokal ini bisa ke go public ataupun go internasional," ucap Margono saat wawancara di Pro2 Jogja.

Di tingkat unit, G2RT Cokrodiningratan menjadi contoh nyata bagaimana sebuah desa berbenah diri. Kampung yang terletak di tepi Sungai Code, di belakang Hotel Tentrem ini mengembangkan wisata terpadu yang diberi nama Kasaningrat (Kampung Wisata Cokroningratan) dan diorganisasi dalam tiga klaster.

Klaster pertama, Kampung Cokrodiningratan sendiri, berfokus pada kuliner dan kerajinan. Klaster kedua, Kampung Jetis Harjo, menjadi pusat wisata sungai dan edukasi. Di sinilah "Taman Jetis Pasiraman" berdiri, sebuah situs bersejarah yang konon dulunya merupakan pemandian para istri raja. Klaster ketiga, Kampung Cokro Kusuma, menjadi rumah bagi seni dan budaya tradisional, termasuk kesenian gedruk, srandul, dan jatilan yang nyaris punah.

“Anak-anak muda kita jangan hanya mendengar ceritanya tapi harus benar-benar tahu. Kesenian itu harus ada fisiknya, ada kelanjutannya”, Ucap Margono.

Salah satu program paling unik yang dijalankan G2RT Cokrodiningratan adalah Sekolah Sungai. Program ini mengajak anak-anak dan generasi muda untuk mengenal ekosistem sungai secara langsung seperti membersihkan sungai bersama, mengidentifikasi biota yang hidup di dalamnya, hingga menebar benih ikan agar populasi ikan sungai tetap lestari dan dapat dipanen oleh warga.

“Sungai itu sumber kehidupan manusia. Makanya kita berikan edukasi lingkungan sungai atau sekolah sungai”, Ucap Margono. Ia berharap anak-anak dan generasi muda bisa melestarikan lingkungan ataupun sungai-sungai terutama Sungai Code yang membelah Kota Yogyakarta.

Cokrodiningratan juga menyimpan kuliner eksotis yang sulit ditemukan di tempat lain di DIY seperti tongseng bulus, sate bulus, dan minyak bulus. Selain itu, terdapat oleh-oleh khas bernama Bolen Sawo, sebuah inovasi kuliner yang menjadi keunggulan tersendiri kampung ini, melengkapi deretan produk lokal yang terus dikembangkan bersama para pelaku UMKM.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....