Makaroni Rujak Malioboro, Camilan Pedas Manis yang Jadi Favorit

  • 12 Mar 2026 23:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kehadiran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Malioboro terus memberi warna bagi sektor kuliner jalanan. Salah satunya adalah usaha camilan Makaroni Malioboro yang menawarkan makaroni dengan cita rasa unik bagi para wisatawan yang berkunjung ke pusat wisata Kota Yogyakarta tersebut.

Usaha yang dikelola oleh Rian bersama beberapa rekannya ini telah berjalan selama sekitar enam bulan. Dalam kurun waktu tersebut, mereka mencoba menghadirkan produk camilan sederhana namun memiliki rasa yang berbeda dari yang biasa ditemui di pasaran. “Usaha kita sama teman-teman sudah berjalan sekitar setengah tahun, mungkin ada enam bulan,” ujar Rian saat ditemui di kawasan Malioboro, Rabu 11 Maret 2026.

Produk yang ditawarkan cukup sederhana, yakni makaroni dengan dua varian rasa utama, yaitu rujak dan balado. Meski terlihat umum, Rian menuturkan bahwa varian rasa rujak menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli, khususnya wisatawan yang mencari camilan unik khas Malioboro. “Kita ada dua rasa, ada rasa rujak sama balado. Kalau balado mungkin banyak, tapi kalau rasa rujak ini lebih jarang dan rasanya pedas manis,” katanya.

Menurut Rian, rasa rujak tersebut menjadi pilihan yang cukup diminati karena memberikan sensasi pedas sekaligus manis yang berbeda dari camilan makaroni pada umumnya. Banyak pengunjung yang penasaran dengan perpaduan rasa tersebut setelah melihat langsung proses penjualannya di kawasan wisata yang selalu ramai wisatawan.

Dua pengunjung menunjukkan camilan Makaroni Malioboro, produk UMKM yang menawarkan rasa unik rujak dan balado di kawasan Malioboro, Yogyakarta. (Foto: Isna Fitri Wahyuni)

Meski begitu, kondisi penjualan tidak selalu ramai setiap hari. Rian menjelaskan bahwa pada periode Ramadan, jumlah pengunjung cenderung menurun dibandingkan hari-hari biasa. Namun ia memprediksi kondisi tersebut akan berubah menjelang Hari Raya Idulfitri ketika wisatawan mulai memadati kawasan Malioboro. “Untuk sekarang di bulan Ramadan masih sepi, tapi biasanya tiga atau empat hari menjelang Lebaran kemungkinan mulai ramai pengunjung,” ucapnya.

Selain momen libur panjang, akhir pekan juga menjadi waktu yang paling dinanti oleh para pedagang di kawasan tersebut. Pada hari Sabtu dan Minggu, jumlah wisatawan biasanya meningkat sehingga peluang penjualan juga lebih besar. “Hari-hari biasa kita ngejarnya di Sabtu Minggu, tapi kalau hari kerja biasanya Kamis sama Jumat mulai agak ramai,” ujarnya.

Saat ini, penjualan Makaroni Malioboro masih berfokus pada transaksi langsung atau offline di kawasan Malioboro. Rian mengaku sempat menggunakan media sosial untuk promosi, namun kini lebih memprioritaskan interaksi langsung dengan pembeli di lokasi wisata tersebut.

Ke depan, Rian berharap para pelaku UMKM khususnya pedagang kaki lima di kawasan Malioboro dapat memiliki ruang berjualan yang lebih tertata. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan lokasi khusus agar para pedagang tetap dapat menjalankan usaha sekaligus menjaga ketertiban kawasan wisata. “Harapannya ke depan mungkin ada tempat khusus untuk pedagang kaki lima supaya kita bisa tetap berjualan dan UMKM di Malioboro bisa lebih maju lagi,” katanya.

Rekomendasi Berita