UMKM Sambal Nona Neni, Dari Pejuang Lomba ke Pemberdayaan Petani Cabai

  • 27 Feb 2026 13:01 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pelaku UMKM Yogyakarta kembali menghadirkan inovasi melalui produk Sambal. Setia Rauf Ikhwanto, pemilik merek Sambal Nona Neni berbagi kisahnya dalam program Obrolan UMKM Kita Indonesia di Pro2 Jogja.

Dalam siaran yang berlangsung pada Senin, 23 Februari 2026, ia bercerita bahwa nama Nona Neni dipilih untuk menghormati ibundanya. Ia ingin merawat bisnis tersebut seperti layaknya merawat orang tua kandung.

Usaha ini dirintis sejak 2022 saat Rauf masih menjalani kuliah Tata Boga di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia terlebih dahulu melakukan riset rasa bersama dosen dan chef Hotel Ambarukmo Yogyakarta.

Meski bukan pecinta pedas, Rauf melihat peluang besar pasar sambal nasional. Data BPS menunjukkan 93 persen masyarakat Indonesia menyukai cabai dan rasa pedas.

"Modal awal hanya Rp300 ribu digunakan khusus untuk penelitian produk," kata Rauf. Dalam menjalankan bisnisnya, ia kerap mendapat pendanaan melalui kompetisi bisnis dan program pembinaan, salah satunya dari Kemenpora sebagai Pemuda Pelopor.

"Jadi saya juga meriset bahwasannya daerah saya, Desa Caturharjo ini di data (7:56) Kapanewon Sleman, masyarakatnya 83 persen hidup dari pertanian. Cabai salah satunya, masalahnya harga cabai itu enggak tentu gitu, sekarang bisa 100 ribu besok tiba-tiba 5 ribu," ujar Rauf bercerita.

Kondisi ini membuat Rauf terpanggil memberdayakan petani cabai dengan memanfaatkan cabai saat harga murah. Hal ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi anjloknya harga cabai, dengan meningkatkan value cabai menjadi sambal yang tahan lama.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Founder Bahana UMKM Bergerak Sleman Tetra Budiarto menyampaikan pendapatnya tentang bagaimana menjalani bisnis UMKM untuk anak muda. “Bisa seperti Mas Rauf ya, salah satunya dengan cara ikutan berbagai lomba, “ ujarnya.

“Cukup jarang kan, ada seorang pengusaha yang backgroundnya seperti dia, rata-rata pengusaha itu kan bisnis turunan dan harus modal gede di depan. Tapi Mas Rauf ternyata kan cukup unik, dari pejuang lomba,” katanya berpendapat.

Kini produksi sambal Nona Neni menggandeng Bumdes Caturharjo sebagai mitra penyedia fasilitas. Model bisnisnya berbasis sociopreneur dengan melibatkan petani cabai setempat.

Saat ini Sambal Nona Neni memiliki tujuh varian, termasuk bawang, matah, dan ikan asap. m Selain di Yogyakarta, sambal ini telah dipasarkan hingga Thailand, Kanada, dan Amerika Serikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....