Cilor Maklor Si Geboy Laris Manis

  • 23 Feb 2026 08:48 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Usaha jajanan kaki lima bernama Cilor Maklor Si Geboy terus menunjukkan geliat positif sejak berdiri pada 2022. Mengusung cita rasa khas Jawa Barat, jajanan berbahan dasar aci dan telur ini berhasil menarik perhatian mahasiswa di Yogyakarta. Dengan konsep sederhana namun rasa yang konsisten, Cilor Maklor Si Geboy kini telah memiliki enam cabang yang tersebar di sejumlah titik strategis.

Alvin salah satu karyawan, menyebut usaha ini dirintis oleh Ismail, pemilik yang berasal dari Jawa Barat. “Nama pemiliknya itu Ismail. Usaha ini kurang lebih berdiri sejak tahun 2022,” ujarnya.

Ia menambahkan, nama “Si Geboy” diambil dari julukan sang pemilik yang bertubuh cukup berisi. “Karena badannya agak gendut, jadi dipanggil bohay. Dari situ muncul nama Si Geboy,” katanya.

Saat ini, Cilor Maklor Si Geboy telah memiliki enam cabang yang berlokasi di Babarsari, Barsa City, Nologaten, Perumnas, serta dua cabang di sekitar UNY. Menurut Alvin, pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi usaha bukan tanpa alasan.

“Pertama karena pemiliknya orang Jawa Barat, jadi makanan ini memang khas sana. Kedua, Jogja itu banyak mahasiswa dari luar daerah, jadi cocok untuk jualan seperti ini,” ucapnya.

Proses demi proses, adonan aci dan telur dimasak hangat di atas cetakan, menghadirkan cita rasa khas Jawa Barat yang konsisten sejak 2022. (Foto: Valen).

Dari segi operasional, jam berjualan dilakukan mulai sore hingga malam hari. Namun, Alvin mengakui adanya tantangan musiman, terutama saat mahasiswa libur panjang. “Kalau bulan-bulan mahasiswa lagi libur, pemasukan juga lumayan berkurang,” ujarnya. Meski demikian, saat bulan Ramadan permintaan justru meningkat, walau di sisi lain harga bahan pokok ikut naik.

Kenaikan harga sembako menjadi salah satu kendala utama. Telur dan tepung menjadi bahan yang paling terasa lonjakannya. “Kalau telur sehari biasanya habis sekitar 2 kilogram, kalau lagi ramai bisa sampai 3 kilogram. Tapi sekarang harganya naik, jadi cukup terasa,” katanya.

Untuk bahan maklor dan usus, pembelian dilakukan per bal. Dalam kondisi normal, kebutuhan bisa mencapai 12 kilogram per hari, sedangkan saat Ramadan dibatasi sekitar 8–9 kilogram.

Pedasnya balado berpadu gurih jagung manis dalam satu kemasan hangat Cilor Maklor Si Geboy jadi bukti jajanan sederhana bisa naik kelas. (Foto: Valen).

Mayoritas pelanggan Cilor Maklor Si Geboy didominasi perempuan. Variasi bumbu yang beragam menjadi daya tarik tersendiri, mulai dari balado, jagung manis, hingga varian campuran. Proses produksi juga dilakukan bertahap agar kualitas tetap terjaga. Alvin menegaskan bahwa adonan dibuat terlebih dahulu sebelum dijual, sementara minyak goreng diganti secara berkala untuk menjaga rasa dan kebersihan.

Salah satu pembeli Tiara, mengaku menjadi pelanggan setia jajanan tersebut. “Cilor maklor beneran bikin nagih, acinya kenyel, maklornya garing, bumbunya gak pelit, bisa di-mix varian rasanya. Paling juara bumbu balado di-mix dengan bumbu jagung manis,” ujarnya.

Dengan cita rasa yang konsisten serta strategi lokasi yang tepat, Cilor Maklor Si Geboy optimistis terus berkembang dan mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan kuliner kaki lima di Yogyakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....