UII Berdayakan KUBE Blekik Menyulap Jelantah agar Bernilai Positif
- 19 Feb 2026 19:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Minyak goreng bekas atau jelantah, masih menjadi persoalan yang kerap ditemui di masyarakat, jika dibuang sembarangan, limbah ini dapat mencemari tanah dan saluran air. Di sisi lain, penggunaan minyak goreng secara berulang juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Menjawab persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unggulan Yayasan Badan Wakaf (YBW) Universitas Islam Indonesia (UII) menginisiasi program pengolahan jelantah menjadi produk bernilai guna. Tim yang beranggotakan delapan dosen dan mahasiswa dari Jurusan Farmasi Fakultas MIPA ini bekerja sama dengan Jurusan Teknik Lingkungan FTSP UII dalam pelaksanaan kegiatan.
Program bertajuk 'Dari Jelantah Jadi Berkah, Ubah Limbah Jadi Sabun untuk Ekonomi Berdaya' dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, dengan menyasar anggota Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Blekik di wilayah Sardonoharjo, Ngaglik. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al Huda, Dusun Blekik, diikuti puluhan ibu dengan penuh antusiasme. Peserta tidak hanya memperoleh materi edukatif, tetapi juga praktik langsung membuat sabun cuci berbahan dasar jelantah.
Salah satu anggota tim, Dr. apt. Viviane Annisa, menyampaikan bahwa kegiatan ini didukung hibah YBW UII Tahun Anggaran 2025 senilai Rp21 juta untuk kolaborasi Jurusan Farmasi FMIPA dan Teknik Lingkungan FTSP. Rangkaian kegiatan meliputi workshop pembuatan sabun dari jelantah serta penyampaian materi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga yang aman dan ramah lingkungan.
"Tim kami sebelumnya sudah melakukan percobaan membuat jelantah jadi sabun cair dan padat. Prosesnya didokumentasikan dalam bentuk video yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk bahan pembelajaran," katanya, dalam keterangan tertulis, Rabu, 18 Februari 2026.
Dalam sesi demonstrasi, Apt. Siti Zahliyatul Munawiroh, Ph.D selaku ketua pelaksana hibah mempraktikkan secara langsung tahapan pembuatan sabun. Ia menjelaskan, bahwa proses tersebut menggunakan reaksi saponifikasi, yakni reaksi antara asam lemak dan basa kuat yang menghasilkan sabun.
Untuk sabun cair digunakan Kalium Hidroksida, sedangkan sabun padat dibuat dengan Natrium Hidroksida. Dari satu liter jelantah dapat dihasilkan sekitar dua hingga tiga liter sabun cair.
"Prosesnya untuk pembuatan sabun cair, setelah dapat bibit sabun kemudian diencerkan. Kalau sabun padat, dicetak dulu lalu diangin-anginkan selama dua sampai empat minggu," ujarnya.
Sebelum masuk tahap produksi, jelantah direndam semalaman menggunakan arang aktif guna menyaring kotoran. Untuk mengurangi bau, saat pemanasan dapat ditambahkan sereh, jahe, atau daun jeruk. Sabun yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mencuci peralatan dapur, pakaian, hingga membersihkan lantai.
"Jika ingin membuat sabun untuk mandi, bahan yang dipakai adalah minyak yang baru agar lebih lembut di kulit," katanya.
Selain pelatihan teknis, kegiatan ini juga diisi tausiah oleh dosen Farmasi UII, Romo Sukir, yang membahas pentingnya pemberdayaan perempuan sebagai pilar keluarga dan bangsa. Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu mengembangkan keterampilan yang berdampak pada peningkatan ekonomi keluarga.
"Selain dipakai sendiri, sabun juga bisa dijual sehingga bisa membantu ekonomi keluarga," ucapnya.
Perwakilan KUBE Blekik, Sugiyah, turut menyampaikan apresiasi atas pelatihan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang diberikan memberikan solusi atas permasalahan jelantah yang selama ini hanya dibuang
"Ilmunya sangat bermanfaat. Selama ini jelantah cuma dibuang, ternyata bisa diolah jadi barang yang berguna," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....