Delolillie Kembangkan Kukis Berbahan Gaplek Gluten Free

  • 09 Feb 2026 11:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Usaha rumahan Delollie milik Olya Widowati Putri terus menunjukkan perkembangan signifikan dengan mengusung produk kue dan kukis berbahan lokal yang lebih sehat. Berlokasi di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Delolillie kini dikenal lewat produk gluten free dan less sugar yang menyasar konsumen dengan kebutuhan pangan khusus.

Olya Widowati Putri yang akrab disapa Mbak Oli, menuturkan bahwa usaha ini telah dirintis sejak 2012. Namun, fokus pada produk gluten free baru dimulai pada 2023 setelah melalui berbagai percobaan dan riset bahan baku. “Awalnya semua jenis kue saya buat, tapi sekarang lebih fokus ke cake dan cookies gluten free,” ujarnya.

Seluruh proses produksi dilakukan di rumah yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal dan penjualan. Delollie belum memiliki outlet mandiri, tetapi produknya dititipkan di sejumlah toko oleh-oleh dan destinasi wisata di Gunungkidul, Yogyakarta, hingga luar daerah. “Kalau outlet pribadi belum ada, kami masih titip jual di beberapa tempat,” katanya.

Keunikan Delollie terletak pada penggunaan tepung singkong gaplek sebagai pengganti tepung terigu. Tepung ini diperoleh langsung dari petani lokal dan diolah hingga sangat halus agar sesuai untuk pembuatan kue dan kukis. “Saya minta digiling selembut mungkin karena untuk cookies harus benar-benar halus,” ujarnya.

Dari dapur rumah sederhana di Gunungkidul, Mbak Oli meracik oatmeal gaplek cookies gluten-free dan less sugar berbahan singkong lokal. (Foto: RRI/HE)

Produk andalan Delollie adalah oatmeal gaplek cookies yang hadir dalam empat varian rasa, yakni original, green tea, double chocolate, dan red velvet. Selain itu, brownies gluten free juga menjadi salah satu produk favorit konsumen. Menurut Olya, rasa produk berbahan gaplek tidak jauh berbeda dengan terigu. “Rasanya mirip terigu, bahkan banyak yang bilang lebih enak,” katanya.

Konsep less sugar diwujudkan dengan penggunaan gula aren organik yang didatangkan dari Sukabumi. Pemilihan bahan ini juga mempertimbangkan warna dan tampilan produk, khususnya untuk varian green tea. “Kalau gula aren lokal warnanya terlalu gelap, jadi kurang cantik,” ucapnya.

Pemasaran Delollie mengandalkan Google Business yang terhubung langsung ke WhatsApp, serta media sosial seperti Instagram dan Facebook. Selain itu, keikutsertaan dalam berbagai pameran turut mendongkrak penjualan. Dalam satu hari pameran, Delollie mampu meraih omzet hingga ratusan ribu rupiah.

Produk Delollie juga mendapat sambutan positif di tingkat nasional hingga internasional. Kukis gaplek ini pernah dibawa dalam pameran ke Malaysia dan China melalui fasilitasi dinas terkait. Olya mengaku tidak menyangka produknya diminati pasar luar daerah. “Ternyata responsnya bagus sekali, terutama dari konsumen yang sudah paham gluten free,” ujarnya.

Dari sisi produksi, Delollie mampu menghasilkan hingga 1.800 keping kukis per bulan dengan jadwal produksi tiga kali seminggu. Produk kukis memiliki masa simpan hingga 12 bulan di suhu ruang tanpa bahan pengawet. Perputaran stok dinilai cepat karena tingginya permintaan, terutama saat musim pameran dan menjelang Lebaran.

Ke depan, Olya berharap Delollie semakin dikenal luas dan mampu memberi manfaat bagi petani singkong lokal. Ia juga bercita-cita membuka outlet sendiri dengan konsep open kitchen. “Harapan saya sederhana, produk ini bisa diterima masyarakat luas dan membantu petani Gunungkidul mendapatkan nilai jual yang lebih baik,” katanya. (KAT/AAN/HAN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....