Ingkung Brekat Dalem Jaga Tradisi, Gerakkan Ekonomi

  • 09 Feb 2026 10:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Usaha kuliner berbasis tradisi, Ingkung Brekat Dalem, terus menunjukkan eksistensinya sebagai penggerak ekonomi warga di Kampung Emas, Gunungkidul. Usaha ini dirintis oleh Karyanto sejak 2013 dan hingga kini masih bertahan dengan mengandalkan cita rasa tradisional serta keterlibatan penuh masyarakat satu dusun.

Karyanto menuturkan, Ingkung Brekat Dalem merupakan bagian dari usaha terpadu yang ia kelola bersama warga. Selain katering ingkung, usahanya juga mencakup jasa transportasi, pembuatan rumah joglo dan limasan, hingga layanan pendukung kegiatan wisata. “Usaha saya ini campuran, ada catering ingkung, jasa angkut, sampai pesanan rumah joglo dan limasan,” ujarnya.

Gagasan mendirikan usaha ingkung berawal dari pengalamannya mendampingi kegiatan pertanian dan sosial di Kampung Emas selama beberapa tahun. Dari pertemuan warga dan tokoh dusun, muncul wacana untuk menghidupkan kembali tradisi kenduri melalui kuliner. “Awalnya merintis itu pelan, satu minggu satu pesanan, tapi Alhamdulillah sekarang bisa berjalan stabil,” katanya.

Nama Ingkung Brekat Dalem dipilih karena sarat makna filosofis. Brekat dimaknai sebagai warisan tradisi kenduri para leluhur, sedangkan Dalem merujuk pada generasi penerus yang mengolah dan melanjutkan tradisi tersebut. Konsep ini tercermin dalam menu yang disajikan lengkap layaknya hajatan desa, mulai dari urap, oseng tempe, tahu tempe goreng, lalapan, sambal, hingga peyek dilengkapi dengan wedang seruni.

Seluruh proses produksi melibatkan warga satu dusun, terutama ibu-ibu setempat. Sistem pengelolaan dilakukan secara gotong royong dengan pembagian hasil yang disepakati bersama. “Saya tidak mengambil keuntungan pribadi, yang penting ibu-ibu bisa bekerja dan usaha ini tetap jalan,” ucapnya.

Foto bersama Karyanto dengan warga Kampung Emas membuktikan bahwa tradisi kenduri bisa menjadi kekuatan ekonomi. (Foto: RRI/HE)
Keunggulan Ingkung Brekat Dalem terletak pada proses memasak yang masih tradisional. Ayam kampung dimasak menggunakan kayu bakar tanpa kompor, sehingga bumbu lebih meresap dan rasa tetap terjaga. Metode ini bahkan pernah mengantarkan usaha tersebut meraih juara pertama dalam lomba kuliner tingkat daerah yang digelar Dinas Pariwisata.

Dari sisi harga, Ingkung Brekat Dalem menawarkan beberapa pilihan paket. Paket reguler dibanderol Rp175.000 untuk 6–7 orang, paket medium Rp200.000 untuk 7–9 orang, dan paket jumbo Rp225.000 untuk 9–11 orang. Perbedaan terletak pada ukuran ayam dan kelengkapan lauk pendamping.

Pelanggan Ingkung Brekat Dalem tidak hanya berasal dari Gunungkidul, tetapi juga dari Pacitan, Surabaya, Solo, hingga Cirebon. Sebagian besar datang dalam bentuk rombongan wisata yang singgah sebelum atau sesudah berkunjung ke destinasi sekitar. “Biasanya mereka tur, mampir makan, istirahat, lalu lanjut perjalanan,” katanya.

Karyanto mengakui pandemi sempat memengaruhi jumlah pesanan, namun kepercayaan konsumen membuat usaha ini tetap bertahan. Saat ini, pesanan rata-rata berkisar 50–60 paket per bulan, dengan peningkatan signifikan pada akhir pekan dan hari besar. “Kalau dulu bisa masak hampir setiap hari, sekarang lebih banyak Jumat sampai Minggu,” ujarnya.

Ke depan, Karyanto berharap ada regenerasi agar usaha ini terus berlanjut. Ia ingin Ingkung Brekat Dalem tidak hanya menjadi usaha kuliner, tetapi juga simbol kemandirian Kampung Emas. “Selama masih mampu, tradisi ini akan kami pertahankan. Saya yakin nanti ada generasi yang meneruskan,” katanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....