Sultan Berpesan, Gemi Nastiti Ngati-ati Kala Mengelola Keuangan

  • 23 Mei 2026 15:49 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menekankan pentingnya falsafah Jawa gemi nastiti ngati-ati sebagai landasan literasi keuangan di tengah maraknya layanan keuangan digital dan budaya konsumtif.

Hal itu disampaikan Sri Sultan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Jumat, 22 Mei 2026. Menurutnya, masyarakat saat ini tidak hanya menghadapi perluasan akses keuangan, tetapi juga tantangan dalam mengendalikan perilaku konsumsi dan utang digital yang datang dengan kemudahan.

Sri Sultan menjelaskan, falsafah gemi nastiti ngati-ati mengandung nilai kehati-hatian, keberlanjutan, dan pengendalian diri dalam mengelola keuangan. Nilai gemi, mengajarkan kemampuan menahan konsumsi demi tujuan jangka panjang.

“Di era digital yang mempromosikan konsumsi impulsif dan skema beli sekarang bayar nanti, makin jelas bahwa kebebasan finansial bukan soal kemampuan membeli, melainkan kemampuan menahan,” katanya.

Ia menuturkan, nilai nastiti mengajarkan kecermatan dalam menganalisis sebelum mengambil keputusan finansial. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK dan BPS, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

Menurutnya, selisih sekitar 14 poin itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan, namun belum sepenuhnya memahami sistem yang mereka gunakan.

“Kesenjangan ini paling dalam dirasakan oleh warga desa, kelompok lansia usia 51 hingga 79 tahun, masyarakat berpendidikan rendah, serta petani dan nelayan. Akses memang semakin luas, tetapi pemahaman belum sepenuhnya kuat. Di sinilah nastiti menemukan relevansi yang paling strategis,” ujarnya.

Sementara ngati-ati menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap risiko yang kerap tidak terlihat dalam layanan keuangan digital. Per Maret 2026, outstanding pinjaman online nasional tercatat mencapai Rp101,03 triliun dengan lebih dari 26 juta peminjam aktif.

“Dampaknya fenomena makan utang membuktikan bahwa kemudahan akses tanpa literasi justru mempercepat kesulitan,” Ia berharap budaya bijak mengelola keuangan dapat menjadi identitas baru Indonesia menuju bonus demografi 2030 dan Indonesia Emas 2045.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....