Fase Menua sebelum Kaya, Hasto Dorong Inovasi Harus Berdampak

  • 13 Feb 2026 21:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Fase growing old before growing rich atau menjadi tua sebelum kaya menjadi tantangan terbesar Kota Yogyakarta. Hal ini disinggung Wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam Bimtek Inovasi Daerah Innovative Government Award (IGA), Kamis, 12 Februari 2026.

Hasto mengatakan, sebagai daerah yang tidak mengandalkan sumber daya alam, Kota Yogyakarta dituntut untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menegaskan, inovasi pemerintahan harus berdampak nyata dan mendobrak tatanan, bukan sekadar mengejar kenaikan indeks.

"Kalau indeks tinggi tapi tidak ada perubahan, tidak ada artinya. Fokus kita perubahan, indeks naik itu efek samping," katanya.

Hasto mengatakan, fase growing old before growing rich atau menua sebelum kaya menuntut Yogyakarta untuk berinovasi dalam memperkuat ekonomi lokal dan mengendalikan perputaran uang. Karena diakui selama ini banyak uang yang justru keluar daerah.

Hasto mencontohkan, terkait upaya pengembangan Warung Milik Rakyat (Wamira) di 45 kelurahan. Langkah ini tidak hanya mengendalikan harga, namun juga memprioritaskan produk lokal, serta menyalurkan bantuan secara lebih terarah.

Disamping itu, hadirnya Batik Segoro Amarto Reborn memiliki peran penting, karena produsen merupakan warga Yogyakarta, dan melibatkan UMKM, melalui koperasi. Upaya ini untuk menekan menekan capital flight dengan bela beli produk sendiri.

Dengan mengendalikan perputaran uang, Hasto optimis, kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Termasuk quick win yang dijalankan Pemkot bukan untuk menaikkan skor, melainkan mendorong perubahan.

“Kalau indeks tinggi tapi tidak ada perubahan, tidak ada artinya. Fokus kita perubahan, indeks naik itu efek samping,” ucapnya.

Hasto juga mengingatkan, inovasi bukan tentang sekadar selembar dokumen atau penghargaan. Akan tetapi menjadi pelecut untuk mengubah pola pikir dan sistem kerja.

“Mulai dari yang kecil, lihat peluang atau ciptakan peluang,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono mengatakan, Bimtek ini menjadi komitmen Pemkot untuk memperkuat tata kelola inovasi daerah, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi kualitas, kematangan, dan dampaknya. Menurutnya, capaian IGA Kota Yogyakarta terus meningkat. Pada 2024, Yogyakarta meraih predikat Kota Sangat Inovatif dengan nilai 62,38 melalui 44 inovasi. Tahun 2025 nilainya naik menjadi 69,64 dengan 66 inovasi.

“Capaian ini patut disyukuri, tetapi belum titik akhir. Untuk melompat menjadi kota terinovatif, perlu upaya yang lebih terstruktur, sistematis, dan kolaboratif,” katanya.

Agus menegaskan, inovasi harus memperkuat Yogyakarta sebagai center of referral dan center of excellence dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik. Artinya, inovasi daerah harus bisa direplikasi oleh daerah lain sekaligus unggul dari sisi substansi, tata kelola, keberlanjutan, dan dampak bagi masyarakat.

Wali kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dalam Bimtek Inovasi Daerah Innovative Government Award (IGA), Kamis, 12 Februari 2026. (Foto: Dok.Pemkot Yogyakarta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....