Rupiah Melemah, Daya Tahan Kelas Menengah Kian Diuji
- 19 Mei 2026 13:09 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan. Pada perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS. Tren pelemahan yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir ini memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan ekonomi nasional, terutama bagi kelompok masyarakat kelas menengah.
Di tengah kondisi tersebut, kelas menengah dipandang sebagai kelompok yang paling rentan terdampak. Pelemahan kurs tidak lagi sekadar menjadi indikator ekonomi di pasar keuangan, tetapi mulai dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menurunnya daya beli, tergerusnya nilai tabungan dan investasi, hingga meningkatnya rasa tidak pasti terhadap kondisi finansial keluarga.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito, menilai tekanan terhadap rupiah memberi efek langsung pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat, khususnya kelas menengah di kawasan perkotaan. Menurutnya, kenaikan biaya hidup membuat banyak keluarga harus kembali menyusun prioritas pengeluaran dan meninjau ulang berbagai rencana ekonomi yang sebelumnya telah disiapkan.
Perubahan situasi ekonomi tersebut juga mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Berbagai kebutuhan sekunder kini cenderung ditekan agar keuangan rumah tangga tetap stabil. Di sisi lain, menurunnya nilai cadangan ekonomi memunculkan rasa waswas karena masyarakat merasa bantalan finansial yang dimiliki semakin melemah.
Arie menyebut, dinamika ekonomi global turut memperbesar tekanan terhadap ekonomi domestik Indonesia. Konflik geopolitik internasional, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat beserta sekutunya, dinilai berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan berbagai komoditas yang berimbas pada biaya hidup di dalam negeri.
Menurutnya, kondisi ini menghadirkan tantangan besar bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan kemampuan pemberian subsidi kepada masyarakat. Dalam jangka pendek, dampak ekonomi global tersebut diperkirakan paling cepat dirasakan oleh kelompok kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ucapnya, Selasa, 19 Mei 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....