Ironi Mahasiswa, Aktif Gunakan Fintech namun Minim Literasi

  • 22 Apr 2026 13:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Tingkat inklusi keuangan di Indonesia sudah melampaui 92,74 persen, meskipun tingkat literasinya masih di kisaran 66,46 persen. Kesenjangan ini semakin relevan, ketika melihat mahasiswa sebagai pengguna aktif layanan fintech.

Sekjend AFTECH, Firlie Ganinduto menyebut berbagai resiko, akibat masih rendahnya literasi terhadap layanan fintech. Yaitu, tidak terkontrolnya penggunaan paylater, kurangnya perencanaan keuangan, hingga paparan fintech ilegal dan aktivitas digital berisiko.

”Kami merancang program Infinity, dengan pendekatan yang relevan bagi generasi muda,” katanya melalui siaran pers tertulis, Rabu, 22 April 2026. ”Karena para mahasiswa, berada di fase awal pembentukan perilaku finansial melalui layanan digital yang ada.”

Namun yang terpenting, harus dibangun kolaborasi yang kuat antara pihak regulator, industri, dan institusi pendidikan. Karena hal ini menjadi kunci, dalam menciptakan ekosistem keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan di masa depan.

Karena, program edukasi tidak bisa dilakukan secara parsial, butuh sinergi antara seluruh pemangku kepentingan. Jika sinergitas bisa berjalan efektif, peningkatan inklusi keuangan di Indonesia berjalan seiring peningkatan kualitas literasi.

”Kami ingin mendorong terciptanya generasi muda yang tidak hanya aktif menggunakan layanan fintech,” katanya. ”Namun juga cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.”

Sedangkan Head of Business Development INDODAX, Felix Jonathan Siregar melihat, para mahasiswa saat ini menjadi salah satu segmen, yang menunjang cepatnya pertumbuhan investor aset digital. Terutama di kota-kota besar.

”Mahasiswa sudah mulai masuk sebagai investor, termasuk di aset kripto,” ucapnya. ”Tantangannya bukan hanya literasi, tetapi juga pemahaman volatilitas pasar, manajemen risiko, dan membangun mindset investasi jangka panjang.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....