Cashless, Menguntungkan atau Merepotkan

  • 18 Apr 2026 16:47 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Era digital telah mengubah cara bertransaksi dari penggunaan uang tunai fisik menuju sistem pembayaran non-tunai yang serba cepat. Fenomena cashless kini merambah ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pusat perbelanjaan mewah hingga pedagang kaki lima di pinggir jalan. Namun, di balik kemudahannya, muncul perdebatan apakah sistem ini benar-benar menguntungkan atau justru menambah beban bagi penggunanya.

Dilansir dari laman www.banksinarmas.com keuntungan utama dari sistem cashless adalah efisiensi waktu dalam bertransaksi karena tidak perlu lagi mengantre lama di ATM atau menunggu kasir mencari uang kembalian. Cukup dengan pemindaian kode QR atau sentuhan kartu, pembayaran selesai dalam hitungan detik dengan akurat.

Selain efisien, aspek keamanan juga menjadi nilai tambah yang membuat banyak orang beralih ke dompet digital. Membawa uang tunai dalam jumlah besar memiliki risiko pencurian atau kehilangan fisik yang sulit dilacak. Dengan sistem digital, setiap transaksi tercatat secara otomatis dan kita bisa memantau aliran dana secara langsung melalui aplikasi ponsel.

Namun, ketergantungan pada teknologi ini sering kali mendatangkan kerepotan tersendiri saat infrastruktur pendukung mengalami gangguan. Bayangkan ketika sinyal internet hilang atau aplikasi bank mengalami maintenance tepat saat harus membayar tagihan penting. Dalam kondisi darurat seperti itu, ketiadaan uang tunai di dompet justru berubah menjadi hambatan yang menyulitkan.

Sisi psikologis dari transaksi non-tunai juga perlu diwaspadai karena dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak terkendali. Tanpa melihat wujud fisik uang yang berkurang, seseorang cenderung lebih mudah mengeluarkan dana untuk hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan.

Masalah lain yang kerap muncul adalah keberagaman platform pembayaran yang justru membuat pengelolaan keuangan terpecah-pecah. Kita sering kali harus mengunduh banyak aplikasi berbeda karena setiap gerai memiliki kerja sama eksklusif dengan penyedia jasa tertentu sehingga pengguna harus memastikan saldo terisi di berbagai akun agar bisa bertransaksi dengan lancar.

Bagi masyarakat di daerah pelosok atau generasi lansia, transisi menuju cashless masih menjadi tantangan besar yang menciptakan kesenjangan sosial. Literasi digital yang belum merata membuat sebagian orang merasa terasingkan dan takut akan risiko kejahatan siber yang makin marak.

Sistem cashless seperti pedang bermata dua yang memerlukan kebijaksanaan agar tetap memberikan manfaat maksimal. Idealnya, kita tetap perlu membawa sedikit uang tunai sebagai cadangan darurat di samping memaksimalkan fitur digital untuk kemudahan akses. Perlu keseimbangan teknologi dan kesiapan mental untuk kemudahan yang ditawarkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....