Bukukan Laba 6,7 Triliun, CIMB Niaga Paparkan Tantangan 2026

  • 12 Des 2025 14:22 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Jakarta: Tantangan besar dalam situasi ekonomi saat ini tidak hanya di Indonesia bahkan dunia, mendorong sektor perbankan seperti CIMB Niaga untuk mempertahankan kinerja yang positif dan sehat. Tercatat, kuartal ketiga tahun 2025, labasecara year on year tumbuh positif di 1,7 persen apabila dibandingkan dengan tahun lalu dengan profit di Rp6,7 triliun.

Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, meski banyak bank besar secara year on year profit ter-challenge. Menurutnya, kondisi ini dinilai karena dampak dari situasi ekonomi seperti daya beli yang memang belum kembali normal.

"CIMB Niaga telah berusia 70 tahun. Ya, kami bersyukur sekali bisa 70 tahun ya berada di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan terus ingin berusaha juga membantu ya dan memberikan eh solusi-solusi keuangan perbankan kepada masyarakat Indonesia," kata Lani, di Graha CIMB Niaga, Kamis (11/12/2025).

Lani menyebutkan, secara aset di kuartal ketiga sudah ada sekitar Rp374 triliun, jumlah ini sekaligus membawa CIMB Niaga menjadi bank swasta nomor dua di Indonesia. Secara kredit diakui pertumbuhannya 4,6 persen, jumlah ini jauh jika dibandingkan pada kondisi noemal ditargetkan 7-8 persen.

"Di kuartal ketiga kami menemukan pertumbuhan kredit di 4,6 persen. Tetapi yang paling penting adalah semuanya sehat," ucapnya.

Lani menyebutkan, pada kuartal ketiga ini pertumbuhan cukup signifikan justru terjadi di sektor UKM, tumbuh hampir 6 persen. Meski, banyak penelitian pertumbuhan kredit di UKM ini adalah segmen yang tergencet dan pertumbuhannya relatif sangat rendah bahkan di beberapa segmen UKM itu lulus.

"Ini adalah fokus utama dari CIMB Niaga, keahlian kami juga di UKM ya, sehingga UKM kami masih tetap tumbuh dan dengan pertumbuhan yang 5,7 persen. Kalau kita bandingkan dengan bisnis segmen lainnya di CIMB Niaga korporasi masih bagus tumbuh sekitar 5,4% sedikit lebih rendah dibandingkan dengan dengan UKM, sementara kalau kita lihat mungkin yang lebih kecil dari itu adalah pertumbuhan dari kredit retail atau konsumen, terutama adalah KPR, di CIMB Niaga secara year on year tidak tumbuh," ucap Lani.

Lani menyampaikan, dalam menghadapi tantangan, CIMB Niaga terus melakukan strategi menghadirkan analis dari berbagai negara di seluruh dunia, setiap 3 bulan. Di mana para analis yang sebagian besar dari Asia, memberikan pandangannya untuk prediksi ekonomi mendatang seperti tahun 2026.

"Saya kira begini kami sih mencoba saya rasa saya juga mengajak semua positif di tahun 2026. Banyak harapan yang dilakukan, seperti tahu kita punya Menteri Keuangan yang baru pro growth yang sangat ingin memperbaiki ekonomi, likuiditas diperbaiki bahkan liquidity sekarang kalau kita lihat di kuartal pertama liquidity masih agak ketat, sekarang longgar," ujar Lani.

Lani menyebutkan, LDR (Loan to Deposit Ratio) di CIMB Niaga saat ini sekitar 83 persen. LDR market secara relatif mulai turun dari 97-98 persen sekarang sekitar 95 persen, menunjukkan hal yang positif. Hanya saja, faktor daya beli tahun ini bahkan tahun depan diprediksi belum bisa kembali normal.

"Lalu impact-nya dampaknya ke apa? Jika faktor daya beli juga belum, mungkin salah satu dan ini juga sering kali kalau ada dialog antara regulator regulator, pemerintah, dan juga perbankan lewat asosiasi, kami sampaikan bahwa belanja negara juga memang harus mulai digelontorkan. Karena kalau government spending belanja negara itu tidak ada, maka proyek-proyek tidak ada, yang menyerap tenaga kerja juga tidak ada, nah ini berarti uang beredar pun yang yang bisa dikantongi oleh masyarakat kan juga sedikit," katanya.

Daya beli ini lanjut Lani, juga terlihat dari kondisi ritel Indonesia, di mana terjadi perubahan daya beli seperti konsumen sampo yang dulunya kemasan besar, sekarang itu beralih ke sachet, karena mau mau mau berhemat. Melihat kondisi realistis di masyarakat, pada semester pertama tahun 2026 akan sama pada kondisi tahun 2025.

"Dri sisi realistik, kami lihat eh mungkin kita lihatlah nanti kita tanya lagi setelah dia masuk di semester kedua. Saya pikir di semester pertama akan eh sama seperti sekarang, namun tentu saja kita lihat apakah belanja negara akan betul-betul dibelanjakan, sehingga project dan juga sekto riil bisa maju," ujarnya.

Hal senada juga terjadi di dunia usaha dua tahun terakhir, pandangan nasabah dari yang besar, korporasi, sampai dengan komersial, dan bahkan UKM, rata-rata jawabannya sama, yakni menunda investasi baik seperti memperluas pabrik atau menambah produksi, bukan karena tidak adanya dana, tapi pengusaha melihat apakah produksi ataupun investasi bisa balik modal. (dyan/ros)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....