Wacana Pemangkasan Dana, Stevanus: Jangan Korbankan Sejarah

  • 18 Agt 2025 13:48 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Rencana pemerintah pusat untuk memangkas anggaran transfer ke daerah (TKD) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 menuai kekhawatiran. Pemotongan signifikan sebesar 24,3% yang hanya menyisakan Rp650 triliun dinilai dapat berdampak serius pada pembangunan di daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Anggota DPRD DIY, Dr. Raden Stevanus Christian Handoko, S.Kom., M.M., menyoroti kebijakan ini, agar pemerintah pusat tidak mengabaikan Dana Keistimewaan (Danais) DIY. Menurutnya, pemotongan Danais adalah sebuah ironi yang dapat mengkhianati sejarah dan mengabaikan kinerja ekonomi yang cemerlang.

Stevanus menekankan, bahwa Danais tidak bisa disamakan dengan dana transfer daerah lainnya, Danais merupakan bentuk pengakuan dan komitmen politik historis pemerintah pusat atas peran monumental Yogyakarta dalam perjuangan kemerdekaan.

"Ketika Jakarta diduduki Belanda, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan diri sebagai bagian dari Republik Indonesia. Yogyakarta sejak awal kemerdekaan 1945-1949 mengorbankan segalanya untuk Republik Indonesia. Keputusan ini menjadi fondasi kokoh yang mengukuhkan kedaulatan bangsa," ujar Stevanus, Senin (18/8/2025)

Pada tahun 1949 setelah pengakuan dunia Internasional atas kedaulatan bangsa, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyerahkan 6,5 juta gulden dan sempat menyampaikan “bahwa Yogyakarta tidak lagi memiliki apa-apa dan mempersilakan pemerintahan Indonesia untuk melanjutkan roda pemerintahan di Jakarta”.

Stevanus menambahkan, pengorbanan rakyat dan pemimpin Yogyakarta di masa lalu adalah utang budi yang tak ternilai. Oleh karena itu, memangkas Danais dengan dalih efisiensi sama saja melukai hati nurani sejarah, seolah-olah pengorbanan masa lalu bisa diukur dengan pertimbangan finansial semata. Dr. Raden Stevanus mengingatkan pesan Bung Karno, "Jasmerah," atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Selain aspek historis, Stevanus juga menyoroti realitas ekonomi DIY yang menunjukkan performa impresif. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi DIY mencapai 5,49%, berada di atas rata-rata nasional dan menjadi yang terbaik di seluruh Pulau Jawa.

"Prestasi ini bukan datang begitu saja. Ini adalah hasil sinergi potensi lokal yang unik dengan dukungan dana yang memadai. Danais telah terbukti menjadi katalisator utama yang mendorong sektor pariwisata, budaya, pendidikan, industri kreatif dan ekonomi kreatif," kata Stevanus, menjelaskan.

Danais telah digunakan secara efektif untuk berbagai program, seperti penataan kawasan Malioboro, revitalisasi sumbu filosofis, pembangunan taman budaya, peningkatan kapasitas & SDM hingga pelestarian 1.007 warisan budaya. Semua program tersebut menjadi tulang punggung yang menopang pertumbuhan ekonomi lokal.

"Memangkas Danais ibarat memangkas pohon yang sedang berbuah lebat dengan alasan menghemat air. Sungguh sebuah langkah yang tidak logis," ucap Stevanus, menegaskan.

Stevanus berpendapat, bahwa kinerja ekonomi yang gemilang seharusnya menjadi alasan bagi pemerintah pusat untuk menambah alokasi dana, bukan sebaliknya.

Stevanus juga berpesan kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Keuangan, untuk melihat Danais sebagai investasi masa depan yang memiliki nilai historis, budaya, dan ekonomi. Ia meminta agar angka-angka dalam APBN tidak mengaburkan nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi bangsa.

"Menjaga Danais adalah cara kita merawat sejarah, menghargai jasa para pahlawan, dan memastikan bahwa Yogyakarta akan terus menjadi 'jantung' yang berdetak kuat bagi kemajuan Indonesia," ujar Stevanus.

Kebijakan pemotongan anggaran Danais, jika terjadi, dikhawatirkan akan mengirimkan pesan yang salah kepada publik, bahwa pengorbanan dan komitmen politik masa lalu bisa dikesampingkan demi perhitungan ekonomi jangka pendek.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....