Bisnis Ala Rosululloh Mendatangkan ketentraman dan Keberkahan

  • 12 Sep 2026 13:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Meneladani etika bisnis Rasulullah SAW menjadi pondasi penting dalam menjemput rezeki yang berkah sekaligus memperoleh ketenteraman hidup. Kesuksesan beliau bukan diraih melalui kecurangan atau semata-mata mengejar keuntungan finansial tanpa mempedulikan halal haram, melainkan berkat kejujuran dan amanah.

Ustadz Syahril Sidiq, SPdI.M.A.,Penyuluh Agama Islam Kemenag DIY dalam program Siraman Rohani Islam Pro 4 RRI Yogyakarta mengatakan Prinsip kejujuran tersebut sangat relevan untuk diterapkan pada era bisnis saat ini. Dalam perniagaan modern—seperti aktivitas jual beli daring, penerapan etika bisnis terwujud melalui kesesuaian antara deskripsi atau foto produk dengan kondisi barang yang sebenarnya. Ia menyebut Memanipulasi informasi atau mengedit tampilan produk secara berlebihan hingga menyesatkan pembeli merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip kejujuran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ustadz Syahril juga menegaskan Dalam menjalankan aktivitas bisnis dan perdagangan, penerapan etika serta nilai-nilai syariat agama menjadi fondasi utama untuk meraih keberkahan. Teladan perdagangan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW tetap relevan dan sangat penting diimplementasikan oleh para pelaku usaha, termasuk dalam ekosistem perdagangan digital saat ini.

Menurutnya ada empat poin utama etika berbisnis sesuai ajaran Islam yang hendaknya diterapkan oleh para pedagang dan pelaku usaha, Kejujuran dalam Transaksi dan Deskripsi Produk. Dalam dunia perdagangan, kejujuran merupakan kunci utama. Islam melarang keras segala bentuk manipulasi dan penipuan. Menjaga Amanah dan Menepati Janji. Menjaga kepercayaan pembeli dan mitra bisnis merupakan hal yang sangat krusial. Rasulullah SAW selalu menepati janji dalam setiap transaksi. Menjauhi Praktik yang Melanggar Syariat dan Menjaga Keberkahan.

Ustadz syahril mengajak Pelaku bisnis untuk melepaskan diri dari praktik-praktik yang melanggar aturan Islam, seperti riba, pengurangan timbangan atau takaran, serta menimbun barang agar harganya melonjak naik secara tidak wajar.

Bisnis yang dijalankan dengan cara tidak jujur akan menghilangkan keberkahan rezeki. Rezeki yang didapat dari jalan curang mungkin terlihat banyak, namun tidak akan membawa ketenangan batin maupun kebaikan bagi keluarga. Berdagang tidak hanya diukur dari banyaknya uang yang didapat, tetapi juga dari nilai keberkahan yang terkandung di dalamnya.

Rezeki yang berkah, meskipun berjumlah sedikit, akan terasa cukup dan menentramkan. Sementara itu, rezeki berkah yang berlimpah akan mampu memberikan manfaat nyata dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Ustadz Syahril menegaskan mengikuti jejak tata cara berdagang Rasulullah SAW tidak akan pernah membuat pelaku usaha bangkrut. Sebaliknya, kejujuran dan keberkahan justru menjadi pondasi utama yang membuat bisnis bertahan lama, mendapat kepercayaan tinggi dari pelanggan,dan meraih ridha Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....