Sektor F&B DIY Tumbuh, ESB Pamerkan Solusi Operasional Bisnis Kuliner Terintegrasi

  • 30 Agt 2026 18:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – PT Esensi Solusi Buana (ESB), perusahaan teknologi yang menyediakan sistem operasional terintegrasi untuk bisnis kuliner, berpartisipasi dalam Jogja International Food & Horeca Expo (JIFHEX) 2026 yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. JIFHEX 2026 menjadi ajang yang mempertemukan pelaku usaha, distributor, supplier, dan penyedia solusi di industri makanan, minuman, hotel, restoran, dan hospitality.

Berdasarkan informasi penyelenggara, pameran ini memposisikan diri sebagai salah satu trade expo industri food and horeca terbesar di Jawa Tengah dan sekitarnya. Kehadiran ESB berlangsung di tengah pertumbuhan sektor kuliner dan hospitality di Daerah Istimewa Yogyakarta.

BPS DIY mencatat perekonomian DIY tumbuh 5,75 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Dalam periode yang sama, berdasarkan data sektor yang digunakan dalam bahan rilis ini, lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tercatat tumbuh 10,56 persen, mencerminkan kuatnya aktivitas bisnis yang berkaitan dengan pariwisata, perhotelan, restoran, dan konsumsi makanan-minuman di wilayah tersebut.

Namun, pertumbuhan bisnis juga diikuti kompleksitas operasional yang semakin tinggi. Pelaku usaha kuliner perlu mengelola transaksi dari berbagai kanal, perubahan biaya operasional, strategi promosi, ketersediaan bahan baku, hingga kebutuhan untuk mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat.

“Yogyakarta adalah contoh menarik. Aktivitas bisnis kuliner dan hospitality terus bergerak, tetapi pertumbuhan juga membuat kompleksitas operasional semakin besar. Pengusaha tidak cukup hanya mengejar penjualan. Mereka perlu mengetahui outlet mana yang sehat, menu mana yang menguntungkan, bagaimana kondisi stok, dan apakah strategi promosi benar-benar memberikan dampak terhadap bisnis,” ujar Gunawan Woen, CEO & Co-Founder ESB, Minggu, 30 Agustus 2026.

Salah satu perubahan yang semakin terlihat adalah berkembangnya kanal pemesanan makanan secara online. Berdasarkan estimasi Momentum Works, total nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) makanan yang dipesan melalui GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood di Indonesia mencapai sekitar US$6,4 miliar pada 2025, tumbuh 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. GrabFood mencatat GMV US$2,94 miliar, GoFood US$1,98 miliar, dan ShopeeFood US$1,47 miliar.

Pertumbuhan ini menunjukkan semakin pentingnya kemampuan bisnis kuliner dalam mengelola pesanan dari berbagai kanal secara lebih terintegrasi.

Dari sisi konsumen, harga dan promosi juga tetap menjadi pertimbangan penting. Dalam survei Populix terhadap 3.138 responden Gen Z dan milenial, harga menjadi faktor yang paling banyak dipertimbangkan dalam memilih tempat makan, sementara promo diskon menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan pembelian. Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah persaingan yang ketat, pelaku usaha perlu mengelola promosi secara lebih terukur, bukan hanya mengandalkan besarnya diskon. Tantangan berikutnya adalah efisiensi pengelolaan bahan baku.

Bappenas memperkirakan kerugian ekonomi akibat food loss and waste di Indonesia berada pada kisaran Rp213–551 triliun per tahun, atau sekitar 4–5 persen dari PDB. Bagi bisnis kuliner, pengendalian stok, pembelian, produksi, dan HPP menjadi bagian penting untuk membantu mengurangi risiko pemborosan bahan baku serta menjaga efisiensi operasional.

Berbagai tantangan tersebut menjadi alasan ESB menghadirkan solusi sistem operasional bisnis kuliner terintegrasi di JIFHEX 2026. ESB menghubungkan proses operasional dari transaksi dan pelayanan di outlet hingga pengelolaan data bisnis di back office.

Melalui ESB POS, bisnis dapat mengelola transaksi, menu, promosi, dan operasional kasir serta mengintegrasikan pesanan dari sejumlah kanal online.

ESB Order membantu mendukung proses pemesanan digital, sementara ESB Core, sistem ERP untuk bisnis kuliner, membantu pengelolaan pengadaan, stok dan inventory, produksi, HPP, hingga laporan keuangan secara terintegrasi. Seluruh data operasional tersebut dapat menjadi dasar analisis dan pengambilan keputusan bisnis melalui ekosistem teknologi ESB.

“Tujuan kami bukan sekadar menyediakan aplikasi kasir restoran atau software untuk mencatat transaksi. Tantangan bisnis kuliner hari ini saling terhubung, sehingga sistemnya juga perlu saling terhubung. Ketika data penjualan, pesanan, stok, produksi, dan keuangan masih berjalan sendiri-sendiri, pemilik bisnis akan semakin sulit melihat kondisi operasional secara menyeluruh,” ujarnya.

Di JIFHEX 2026, pengunjung dapat mengenal langsung berbagai solusi teknologi ESB, berkonsultasi mengenai kebutuhan sistem operasional bisnis kuliner, serta melihat bagaimana integrasi POS F&B, sistem pemesanan online, manajemen stok, dan sistem ERP dapat membantu bisnis bekerja dengan data yang lebih terpusat.

“Partisipasi kami di JIFHEX merupakan bagian dari komitmen ESB untuk mendukung digitalisasi bisnis kuliner di berbagai daerah. Kami ingin pelaku usaha, mulai dari bisnis yang sedang berkembang hingga jaringan multi-outlet, dapat memiliki akses terhadap sistem yang membantu operasional mereka menjadi lebih terintegrasi, terukur, dan mudah dikendalikan,” ucapnya.

Selama pameran berlangsung, ESB juga membuka kesempatan bagi pengunjung untuk berkonsultasi langsung dengan tim dan melihat demonstrasi solusi yang tersedia di booth ESB.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....