Telkom Raih Pendapatan Rp75,9 Triliun pada Semester Pertama 2026

  • 02 Agt 2026 12:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Menutup semester pertama 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan kinerja tersebut, EBITDA Perseroan meningkat 3,8 persen menjadi Rp37,5 triliun dengan marjin EBITDA sebesar 49,4 persen.

Perseroan mencatatkan laba bersih tumbuh 1,4 persen menjadi Rp10,6 triliun dengan marjin laba bersih sebesar 14,0 persen. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen, mencerminkan ketahanan kinerja operasional Perseroan yang didukung oleh pemulihan bisnis seluler.

Perseroan juga membukukan arus kas operasional yang kuat sebesar Rp34,9 triliun atau tumbuh 7,0 persen, didukung oleh implementasi program efisiensi berkelanjutan serta disiplin dalam pengelolaan biaya.

"Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini. Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia," ucap Direktur Utama Telkom Dian Siswarini pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Profitabilitas Segmen B2C Kian Kuat

Pada segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband), Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen, didorong oleh pertumbuhan pendapatan Digital Business Data sebesar 11,0 persen pada semester pertama 2026. Kinerja tersebut mencerminkan berlanjutnya pemulihan industri seluler yang didukung oleh implementasi strategi komersial secara disiplin.

Sejalan dengan hal tersebut, Average Revenue Per User (ARPU) seluler meningkat menjadi Rp45.600 atau tumbuh 9,0 persen. Selain itu, konsumsi data terus bertumbuh seiring meningkatnya aktivitas digital masyarakat selama momen liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia.

Pada layanan fixed broadband, Telkomsel terus memperkuat kualitas layanan melalui kalibrasi strategis basis pelanggan. Sebagai hasilnya, jumlah pelanggan tercatat sebanyak 9,5 juta dengan dampak yang terbatas terhadap pendapatan pada kuartal berjalan. Secara kuartalan, ARPU IndiHome meningkat 3,4 persen menjadi Rp211.000, sedangkan secara semesteran tercatat sebesar Rp207.000 dengan rasio konvergensi meningkat menjadi 65 persen.

Berbekal fondasi bisnis B2C yang semakin kuat, Telkomsel terus mengakselerasi strategi pertumbuhan berkualitas (quality growth) dengan menempatkan pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama. Upaya tersebut diperkuat melalui pemanfaatan teknologi AI dan 5G.

Penguatan Infrastruktur Digital Segmen B2B

Total pendapatan segmen B2B Infrastructure tumbuh 19,0 persen menjadi Rp33,1 triliun pada semester pertama 2026, dengan pendapatan eksternal meningkat 4,9 persen menjadi Rp4,7 triliun. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan layanan Data, Internet, dan IT.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower (FTTT), Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp4,7 triliun atau tumbuh 2,1 persen dengan Tower-Related Business tetap menjadi penopang utama. Total penyewa (tenant) meningkat menjadi 63.866 sehingga mendorong rasio penyewaan (tenancy ratio) menara menjadi 1,57 kali.

Sedangkan di bisnis data center, Telkom terus memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur digital regional melalui NeutraDC. Perseroan memperkuat bisnis ini melalui inisiatif konsolidasi yang menjadikan NeutraDC sebagai pengelola terpusat seluruh aset data center TelkomGroup.

Sementara pada segmen B2B ICT, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp7,3 triliun, tumbuh 35,7 persen secara kuartalan (QoQ). Pada segmen International Business, pendapatan tercatat sebesar Rp5,7 triliun seiring pergeseran portofolio bisnis menuju layanan konektivitas dan solusi digital ber-marjin tinggi.

Konsistensi Transformasi Perusahaan

Eksekusi strategi TLKM 30 pada semester pertama 2026 menunjukkan kemajuan signifikan pada empat pilar transformasi. Dari sisi Operational & Service Excellence, Perseroan melaporkan pertumbuhan arus kas operasional sebesar 9,5 persen serta terus meningkatkan efisiensi biaya operasional (OPEX) dan pengelolaan belanja modal (CAPEX).

Perseroan merealisasikan belanja modal sebesar Rp10,8 triliun, di mana lebih dari 96 persen difokuskan pada pengembangan area bisnis prioritas. Selain itu, penyederhanaan (streamlining) terhadap 10 entitas juga telah dituntaskan untuk memperkuat fokus pada bisnis inti.

Implementasi pilar Unlock Value juga terus mencatatkan kemajuan melalui persiapan pengalihan aset InfraNexia Tahap 2 yang ditargetkan rampung pada semester kedua 2026. Sementara pada pilar Modus-operandi Shift, Telkom memperkuat model Strategic Hold-Co pada empat segmen bisnis utama.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini. Oleh karena itu, Telkom sebagai bagian dari Danantara Indonesia akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai yang berkelanjutan," ujar Dian Siswarini mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....