Bemula Modal 4,3 Juta ke Omzet Ratusan Juta, Djoen Leather Bertumbuh Bersama BRI

  • 21 Mei 2026 23:49 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Berawal dari modal seadanya, Djoen Leather kini tumbuh menjadi usaha kerajinan kulit yang terus berkembang di Yogyakarta. Pendiri sekaligus pemiliknya, Harjuno Wiwoho atau akrab disapa Juno, mengatakan usaha yang ia rintis sejak Januari 2015 itu dimulai hanya dengan modal Rp4,3 juta.

Dengan modal tersebut, ia hanya mampu membeli dua mesin jahit bekas untuk memulai produksi. Namun, keterbatasan itu perlahan teratasi berkat jaringan relasi dan kepercayaan dari banyak pihak, termasuk dukungan pembiayaan dari BRI setelah usahanya mulai memiliki agunan dan rekam jejak usaha yang baik.

Juno menyebut, pada masa awal dirinya belum mengenal pinjaman bank karena tidak memiliki jaminan. Di fase itu, relasi dengan teman dan rekan usaha menjadi penopang utama, termasuk dalam pengadaan bahan baku yang banyak dibantu melalui jaringan pertemanan.

Perkembangan usaha Djoen Leather kemudian makin terlihat ketika akses ke pasar mulai lebih terbuka melalui pameran-pameran yang difasilitasi oleh Dinas Perdagangan. Setelah usahanya dikenal lebih luas, Djoen Leather mulai mendapat peluang kerja sama yang lebih besar, termasuk pesanan dari instansi pemerintah, distributor lokal, hingga pembeli luar negeri.

Dukungan BRI menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan usaha tersebut. Juno menuturkan, pinjaman dari bank tidak dipakai untuk konsumsi, melainkan untuk memperkuat produksi dan memperluas kapasitas usaha agar bisa terus berjalan saat pesanan meningkat.

“Biasanya diajak kayak (mendaftar) Qris, terus kadang diajak untuk pelatihan juga. Diajak ngobrol-ngobrol untuk meningkatkan usaha itu, gimana caranya itu juga programnya BRI,” kata Juno

Menurutnya, prinsip utama dalam mengembangkan usaha adalah menjaga kepercayaan. Ia menegaskan bahwa pembayaran kepada pemasok dan kewajiban kepada karyawan harus dijaga tepat waktu, karena bagi dirinya kepercayaan adalah modal paling penting dalam bisnis.

Saat pandemi Covid-19, Djoen Leather justru tetap bertahan bahkan berkembang. Produk mereka tetap terjual secara daring, termasuk pesanan dari luar negeri, sementara di saat yang sama ia membangun pabrik baru untuk memberi pekerjaan bagi warga sekitar yang kehilangan pemasukan.

“Pada saat itu online juga jalan, terus malah saya dapat buyer dari Korea. Jadi pada saat Covid itu saya kirim dompet itu ke Korea per bulan 6.500 (unit) total produksi pada saat itu. Nah, malah saya itu pada saat Covid saya membangun, bikin pabrik pada saat itu. Karena melihat mereka tetangga-tetangga pada kasian, nggak ada kerjaan, nggak ada pemasukan, pada saat nganggur ya sudah di tempatku aja,” ucap Juno

Salah satu karyawan, Yayan, menilai Pak Juno sebagai pemimpin yang tegas namun tetap santai dan merangkul pekerja. Ia berharap untuk kedepannya usaha ini semakin terjangkau oleh masyarakat.

“Kalau dari saya sih harapannya pastinya lebih berkembang lagi, brand-nya lebih dikenal dengan masyarakat, enggak cuma untuk kalangan usia menengah ke atas, tetapi udah merambat ke yang usia 30 ke bawah atau gen Z dan kawan-kawan, biar lebih banyak target pasarnya,” ucap Yayan. (Aryasena)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....