Pangsa Pasar Parfum Anak Muda Jadi Bidikan Silencio de Naz
- 03 Mei 2026 14:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Usaha parfum lokal bernama Silencio D’Nust mulai menunjukkan eksistensinya di tengah persaingan industri wewangian. Brand ini didirikan oleh Muhammad Fikrul Hanif, seorang mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia, yang melihat peluang besar di pasar generasi muda. Sejak diluncurkan pada Desember, bisnis ini berkembang dari proses perintisan yang dimulai sejak Mei tahun yang sama.
Hanif menjelaskan bahwa nama brand yang dipilih memiliki filosofi tersendiri. “Silencio itu dari bahasa Spanyol yang berarti tenang atau hening, sedangkan de Naz kami maknai sebagai Nusantara,” ujarnya saat ditemui Rabu, 29 April 2026. Ia menambahkan bahwa konsep tersebut diangkat untuk menghadirkan karakter wewangian yang terinspirasi dari kekayaan aroma lokal Indonesia.

Target pasar utama dari produk ini adalah generasi muda atau Gen Z yang dinilai semakin sadar akan pentingnya penampilan, termasuk aroma tubuh. “Sekarang parfum sudah masuk kebutuhan primer, terutama bagi Gen Z yang ingin selalu tampil percaya diri,” katanya. Meski demikian, ia mengakui bahwa produknya juga diminati berbagai kalangan usia, termasuk konsumen yang lebih tua.
Dalam menentukan harga, Hanif menerapkan strategi berbasis analisis biaya produksi dan kondisi pasar. Ia menegaskan bahwa sebagai brand baru, pihaknya tidak ingin langsung mematok harga tinggi tanpa membangun kepercayaan konsumen. Perhitungan harga dilakukan secara rinci melalui komponen harga pokok penjualan (HPP) hingga margin yang realistis untuk keberlanjutan bisnis.

Tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya soal pasar, melainkan juga faktor internal. “Tantangan terbesar itu justru melawan diri sendiri, menjaga konsistensi di tengah godaan lingkungan,” ucapnya. Ia menilai bahwa kedisiplinan dan fokus menjadi kunci penting bagi pelaku usaha muda dalam membangun bisnis dari nol.
Dalam hal pemasaran, Silencio D’Nust mengandalkan platform digital seperti Instagram, TikTok Shop, Tokopedia, dan Shopee. Strategi ini dipilih karena bisnis belum memiliki toko fisik. Hanif menyebut bahwa keberhasilan penjualan sangat bergantung pada aktivitas promosi digital. “Kalau media sosial tidak berjalan, otomatis penjualan juga ikut terhambat,” ujarnya.
Ke depan, brand ini berencana memperluas pasar hingga ke tingkat internasional serta membuka toko offline. Selain itu, mereka terus menjaga kualitas produk melalui uji berkala guna memastikan konsistensi aroma. Upaya ini dilakukan untuk membangun kepercayaan pelanggan dan memperkuat posisi di industri parfum lokal yang terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....