Tak Lagi Sekadar Mimpi, Buruh Pabrik Wujudkan Rumah Impian Berkat KPR BTN

  • 25 Feb 2026 22:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - "Enggak menyangka bisa punya rumah, modal nekat, Mbak. Dadi motivasine cuma opo DP-ne murah, Rp5 juta wis serah terima kunci (jadi motivasinya cuma karena uang mukanya murah, Rp5 juta sudah menerima kunci)," ujar Aryan Risfan, mengenang awal perjuangannya memiliki rumah sendiri.

Aryan Risfan, seorang buruh pabrik di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tak pernah membayangkan bisa mewujudkan impian memiliki rumah. Berawal dari tahun 2021, dengan bermodal gaji UMR Solo ditambah gaji sang istri, yang saat itu masih bekerja, Aryan memberanikan diri mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.

Saat itu, usianya 26 tahun dan penghasilannya sebagai buruh pabrik terbilang pas-pasan. Namun, tekadnya untuk memiliki rumah sendiri sangat kuat hingga akhirnya ia "nekat" mengambil KPR.

Bidikannya saat itu adalah Perumahan Morison Regency 3 di kawasan Jatikuwung, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. "Ambil KPR sejak tahun 2021. Ambilnya itu 20 tahun karena pengajuan 15 tahun alasannya gaji enggak cukup," katanya saat ditemui di kediamannya, Sabtu, 21 Februari 2026.

Meski saat itu ia juga melampirkan slip gaji istrinya, tetapi hitungan kemampuan membayar cicilan dinilai belum memenuhi syarat. Dalam skema subsidi, cicilan maksimal hanya boleh sepertiga dari total penghasilan tetap. Aryan menjelaskan, dengan angsuran Rp956.000 per bulan, penghasilan minimal harus berada di kisaran Rp2,7-3 juta.

Proses yang dilalui Aryan untuk memiliki rumah tidaklah mudah. Aryan menyebut proses pengurusan KPR subsidi cukup rumit. Sekitar sepuluh dokumen harus dipenuhi, mulai dari slip gaji suami-istri, KTP, NPWP, buku nikah, surat keterangan belum memiliki rumah, hingga surat pernyataan belum pernah mengambil KPR subsisi.

Beruntung, developer Morisan 3 membantu seluruh proses pengajuan, mulai dari mengurus berkas dan berkoordinasi dengan bank. Seluruh prosesnya terbilang cukup cepat. Setidaknya tiga sampai empat bulan, Aryan melewati seluruh proses pengajuan hingga akad.

"DP-nya pas itu Rp5 juta, terus habis itu pas akad tambah Rp3,5 juta, itu sudah termasuk angsuran pertama dan notaris. Tapi ini masih HGB (Hak Guna Bangunan)," katanya.

Keputusan membeli rumah di Morison 3 bukan tanpa pertimbangan. Sebelumnya, Aryan dan keluarga kecilnya tinggal bersama mertua di rumah kontrakan di Palur, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Harga sewa rumah yang terus naik tiap tahun hingga persoalan perawatan rumah yang membutuhkan biaya lebih, semakin membulatkan tekadnya untuk memiliki rumah sendiri.

“Dulu karena ngontrak ya tiap tahun naik terus, bocor-bocor juga tidak cepat dibenerin sama pemiliknya. Kalau punya rumah sendiri kan enak, walaupun hitungannya seperti ngontrak, tapi nanti lama-lama jadi milik kita,” ucap Aryan.

Harga rumah subsidi dengan DP Rp5 juta kala itu menjadi daya tarik utama bagi Aryan. Sebab, menurutnya di daerah sekitar kontrakannya di Palur, rumah dengan tipe serupa DP-nya sudah menembus Rp25-30 juta. Selisih itulah yang membuatnya mantap mengambil rumah subsisi di Jatikuwung, meski jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh, yang bisa ditempuh sekitar 30 menit perjalanan.

Saat mengenang awal menempati rumah di tahun 2021, Aryan mengatakan kondisi lingkungan belum seramai sekarang. Dulu, akses jalan masih rusak dan minim lampu penerangan jalan, serta suasana sekitar masih relatif sepi.

Namun, perlahan kawasan tersebut berkembang. Dari sekitar 400-an unit di Perumahan Morison 3, sebagian besar kini telah terisi.

“Dulu awal-awal jalannya rusak. Ya enggak enak tapi sekarang sudah dicor itu sudah lumayan. Yang tinggal di perumahan juga lumayan banyak,” ujarnya.

Sejak menerima kunci dan menempati rumah tersebut, perlahan Aryan mulai merenovasi rumahnya. Renovasi dilakukan secara bertahap. Bagian depan rumah sudah ia renovasi sejak awal, sementara bagian belakang masih sederhana.

Untuk merenovasi bagian depan, seperti menambah atap dan pagar, ia harus mengeluarkan uang sekitar Rp10 juta. “Renovasinya bertahap, yang penting bisa ditempati dulu,” ujarnya.

Tantangan terbesar Aryan dalam memiliki rumah bukan hanya soal jarak dan renovasi, melainkan menjaga komitmen membayar cicilan selama 20 tahun. Dengan gaji pabrik yang terasa “mepet”, Aryan melakukan berbagai usaha untuk mencari tambahan penghasilan.

Sekitar dua tahun lalu, Aryan memutuskan mencari tambahan penghasilan sebagai pengemudi ojek daring. "Selama ini ngandelke gaji dari karyawan pabik kan mepet, anak juga tambah besar biaya otomatis tambah. Jadi ya tambah kerja sampingan kayak ngojek dan lain-lain buat bisa nutup," katanya.

Setiap pulang kerja, ayah dua anak itu langsung mengambil pesanan di sekitar kawasan pabrik. Dalam sehari ia bisa mendapat lima hingga tujuh order, meski tak jarang juga pulang tanpa hasil. Namun baginya, kerja keras itu sepadan dengan rasa aman karena bisa membayar cicilan tepat waktu dan melihat keluarganya tinggal di rumah sendiri.

"Tiap pulang kerja langsung, tapi kalau Sabtu Minggu libur. Kalau di sana (tempat kerja) kan dekat banyak kos-kosan, jadi langsung. Kalau dari sini sekarang sudah jarang soalnya sudah pada punya motor sendiri. Kalau dulu awal-awal ya lumayan,” ujarnya.

Meski waktunya banyak tersita untuk bekerja, Aryan tetap menyisihkan akhir pekan untuk keluarga. Ia memilih tidak mengambil order pada Sabtu dan Minggu demi bisa beristirahat sekaligus menikmati waktu bersama anak dan istri.

Ia juga bersyukur, pembayaran cicilan rumah berjalan lancar berkat kemudahan yang diberikan BTN. “Kalau dari pengalaman temanku, pernah dia benar-benar enggak bisa bayar karena keluar dari pekerjaan, lalu dia nembusi ke BTN dan bisa dapat keringanan. Kalau aku sendiri juga pernah telat tapi enggak kena denda. Alhamdulillah cicilannya tetap,” ucapnya.

Kini, lima tahun tinggal di rumah tersebut, Aryan tak lagi sekadar memikirkan cicilan. Ia mulai memikirkan pelunasan lebih cepat jika rezeki memungkinkan. “Harapannya setelah saya belajar agama, saya pengen secara melunasi kalau punya rezeki lebih,” ujar Aryan.

Bagi Aryan, rumah bukan sekadar bangunan berdinding bata. Baginya rumah merupakan simbol keberanian untuk bermimpi dan bukti bawha dengan tekad yang kuat, buruh pabrik pun mampu mewujudkan hunian impian.

BTN Jadi Penyalur KPR Sejahtera FLPP Terbesar

Hingga 22 Desember 2025, penyaluran rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sudah mencapai 270.985 unit. Ini merupakan rekor tertinggi dan menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan lima tahun lalu atau pada 2020 yakni sebesar 109.253 unit.

Sebagaimana dipaparkan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) pada Selasa, 23 Desember 2025, peningkatan penyaluran KPR Sejahtera FLPP ini menandakan tingginya minat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah.

Berdasarkan data BP Tapera, BTN menjadi bank penyalur KPR Sejahtera FLPP dengan realisasi penyaluran tertinggi di antara 39 bank penyalur dengan rumah yang dibangun oleh 8.058 pengembang yang terdiri dari 13.118 perumahan di 33 provinsi dan 401 kabupaten/kota.

Atas pencapaian ini, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memberikan apresiasi kepada BTN di antara bank-bank penyalur KPR FLPP lainnya. Menteri PKP mengapresiasi optimisme BTN untuk dapat mendukung target nasional pada tahun 2026 yang ditetapkan pemerintah yakni sebanyak 350.000 unit.

“Terima kasih Bapak, Ibu (manajemen bank-bank penyalur KPR Sejahtera FLPP) atas dukungannya. Semoga kita bisa bantu rakyat, karena perbankan merupakan ekosistem yang sangat penting,” ucap Menteri PKP dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama dengan 43 Bank Penyalur tentang penyaluran KPR Sejahtera FLPP bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Tahun 2026 di Kantor BP Tapera, Jakarta, Selasa, 23 Desember 2025, dikutip dari laman resmi BTN.

Sementara itu, Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar mengatakan, BTN berkomitmen untuk mengoptimalisasi penyaluran KPR FLPP pada 2026 seiring dengan berbagai upaya yang dilakukan selama ini dalam mendukung Program 3 Juta Rumah yang diusung pemerintah.

“BTN masih menjadi bank penyalur KPR Subsidi terbesar secara nasional dan portofolio KPR Subsidi saat ini juga mencapai 64 persen dari total portofolio KPR BTN. Pertumbuhan KPR Subsidi tetap stabil sepanjang tahun 2025 dan diharapkan permintaannya akan meningkat pada tahun 2026 seiring dengan meningkatnya kebutuhan rumah layak dan terjangkau bagi MBR,” ujar Hirwandi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....