Strategi Presisi Menangani Interior Bangunan Cagar Budaya

  • 23 Feb 2026 09:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Penanganan interior bangunan cagar budaya menuntut strategi khusus yang berbeda dari proyek interior pada umumnya. Setiap tahapan pekerjaan harus mempertimbangkan nilai historis, regulasi ketat, serta sensitivitas bangunan yang dilindungi agar fungsi ruang dapat diperbarui tanpa menghilangkan keaslian arsitekturalnya.

Pemilik Perseroan Terbatas (PT) Bangun Intan Berjaya (BIB Interior) Intan Widiastuti sebagai jasa interior Jogja, menjelaskan bahwa kepercayaan klien terhadap proyek sensitif dibangun melalui rekam jejak, kepatuhan prosedural, dan kelengkapan legalitas. Menurutnya, perusahaan yang menangani bangunan cagar budaya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga harus memahami batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh pengelola aset dan otoritas terkait.

“Bangunan cagar budaya itu sangat sensitif, jadi pendekatannya bukan sekadar membangun, tetapi menjaga apa yang sudah ada. Kami bekerja mengikuti koridor yang sudah ditentukan agar nilai historisnya tetap terjaga,” ujarnya.

Dalam praktiknya, strategi yang diterapkan lebih menitikberatkan pada kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP). Perbaikan hanya dilakukan dengan metode yang telah disetujui, termasuk penyesuaian teknik renovasi berdasarkan kondisi eksisting bangunan.

"Kalau ada bagian yang sudah dimakan usia, itu pun tidak serta-merta dibongkar. Ada prosedur khusus yang harus dijalani, dan kami sebagai kontraktor wajib mengikuti aturan tersebut,” katanya.

Selain aspek teknis, pengelolaan sumber daya manusia di lapangan menjadi strategi penting. Seluruh pekerja diwajibkan mematuhi aturan ketat terkait keselamatan kerja, jalur mobilisasi material, hingga etika selama berada di area bangunan. Pelanggaran kecil dapat berdampak besar karena berpotensi merusak elemen bersejarah.

Untuk memastikan kualitas dan kepatuhan, proyek interior bangunan cagar budaya umumnya melibatkan pengawas independen. Pengawas ini berperan menjembatani komunikasi antara pemilik bangunan, perencana, dan kontraktor pelaksana agar setiap pekerjaan sesuai regulasi dan tidak keluar dari perencanaan awal.

“Kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal, bukan hanya pada bangunan tapi juga bagi kontraktor. Karena itu, koordinasi rutin dan tim yang solid menjadi kunci agar proyek berjalan aman dan tepat sasaran,” ucapnya.

Intan berharap hasil akhir proyek jasa interior pada bangunan cagar budaya mampu menghadirkan suasana kerja yang lebih fungsional tanpa menghilangkan identitas sejarahnya. Dengan pendekatan yang hati-hati dan strategis, bangunan bersejarah dapat tetap relevan serta memberi manfaat maksimal bagi penggunanya di masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....