Inovasi Ternak Ayam di Lahan Sempit, Tanpa Bau

  • 14 Jan 2026 15:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta: Memiliki peternakan ayam pribadi kini bukan lagi mimpi bagi masyarakat perkotaan dengan lahan terbatas. Melalui program "Bangun Desa" di RRI Yogyakarta, Jumat 9 Januari 2026. Prof. Dr. Bambang Suwignyo, pakar dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), membagikan teknik efisien beternak ayam petelur di lahan hanya seukuran 1 meter persegi tanpa menimbulkan bau menyengat.

Metode ini diharapkan menjadi solusi bagi warga yang ingin menekan pengeluaran pangan dengan memproduksi telur dan daging secara mandiri, sekaligus ramah lingkungan.

Kunci utama dari sistem ini terletak pada pengelolaan alas kandang. Berbeda dengan cara konvensional yang sering menggunakan sekam, Prof. Bambang sangat menyarankan penggunaan pasir kali atau pasir ayakan.

Dasar kandang sebaiknya dibuat dari konblok agar tidak bocor, lalu dilapisi pasir setebal 20 cm secara merata. Ayam memiliki insting alami untuk mencakar-cakar tanah. Aktivitas mencakar ini secara otomatis akan mencampur kotoran dengan pasir hingga menjadi kering dan tidak berbau.

Prof. Bambang juga mengingatkan agar peternak tidak menyiram kandang dengan air. Kelembapan pada kotoran justru akan memicu timbulnya gas amonia dari asam urat yang menyebabkan bau menyengat. Menariknya, pasir ini cukup diganti setahun sekali dan bisa langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi.

Untuk lahan terbatas seluas 1 meter persegi, peternak bisa memelihara sekitar 6 hingga 8 ekor ayam. Jenis ayam yang direkomendasikan adalah ayam petelur yang tidak memiliki sifat mengeram seperti jenis KUB, Kedu, Leghorn, atau Ayam Arab.

Kandang dapat dibuat secara sederhana menggunakan bambu atau kawat streaming dengan atap pelindung yang memadai. Untuk tempat bertelur, peternak bisa memanfaatkan wajan bekas yang diisi jerami agar telur tidak tercecer atau pecah. Selain itu, penggunaan sistem minum melalui nipel sangat disarankan agar air tidak tumpah dan kebersihan kandang tetap terjaga.

Menurut Prof. Bambang, keuntungan dengan metode ini jauh lebih menyehatkan dibandingkan sistem kandang baterai (sekat sempit). Dalam kandang yang agak longgar, ayam bisa bergerak bebas dan mencari grit (kerikil kecil) alami dari pasir untuk membantu sistem pencernaan mereka. Dengan tingkat stres yang rendah, risiko penyakit pada ayam pun menjadi lebih kecil.

"Teknik ini hemat, alami, dan ramah lingkungan. Ini adalah solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga setiap hari tanpa perlu khawatir mengganggu kenyamanan tetangga,"ujarnya. (titik/rini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....