Pengembangan Ekonomi Gotong Royong Melalui G2RT Tetrapreneur
- 09 Jun 2025 10:43 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Inovasi ekonomi berbasis budaya gotong royong tengah digaungkan di Yogyakarta melalui program bernama G2RT atau Global Gotong Royong Tetrapreneur. Program ini menjadi jembatan antara filosofi gotong royong dan praktik wirausaha modern.
Disampaikan Rika Fatima P.L.,S.T.,M.Sc.,Ph.D. dalam dialog Santai Siang Pro2 Jogja, Kamis (5/6/2025), G2RT merupakan model ekonomi berbasis gotong royong yang telah berhasil diimplementasikan di Malaysia. Rika yang merupakan penggagas G2RT, saat itu bekerja di Universitas Kebangsaan Malaysia dan mengembangkan pendekatan tetrapreneur untuk memberdayakan kelompok rentan seperti ibu tunggal dan lansia.
Berangkat dari keberhasilan tetrapreneur di Malaysia yang menjadi program nasional, G2RT kemudian diimplementasikan di Yogyakarta pada 2018 melalui pendanaan Dana Keistimewaan. Dua desa awal yang menjadi pelopor adalah Girirejo dan Wukirsari.
Kini lebih dari 27 unit G2RT telah berdiri, bahkan beberapa tumbuh secara mandiri atas inisiatif masyarakat. “Ini jadi bukti bahwa masyarakat merasa cocok karena konsepnya berasal dari keseharian mereka sendiri,” ujar Rika.
“G2RT bukan sekadar program, tapi model inovasi berbasis nilai lokal, kami ingin mengangkat jati diri ekonomi Indonesia. Gotong royong itu sudah ada sejak kita lahir, tapi selama ini hanya di bidang sosial budaya dan sekarang kita coba bawa ke ekonomi,” katanya menjelaskan.
Menurut Rika, G2RT dijalankan dengan mengembangkan empat pilar tetrapreneur, mulai dari rantai usaha, merek, kualitas, dan keaslian Indonesia. Semuanya dirancang untuk menciptakan ekosistem wirausaha yang kuat dan berdaya saing global.
Rika juga menyebutkan bahwa tantangan utama G2RT ada pada perubahan pola pikir masyarakat. Banyak wirausahawan masih terjebak pada pola kapitalis dan kurang mengenali konsep rezeki sebagai bagian dari budaya lokal.
“Di G2RT, kami ingin kembalikan ruh gotong royong sebagai bagian dari proses bisnis. Kami bukan sekadar berwirausaha, tapi juga menghidupkan budaya bangsa dalam aktivitas ekonomi,” tutur Rika.
“Seringkali rezeki tidak hanya soal uang, tetapi juga kesehatan, keluarga harmonis, anak yang sukses. Konsep ini mengajak pelaku usaha memahami makna ekonomi yang lebih utuh dan manusiawi,” ujar Rika.
Kini, G2RT sedang diinisiasi menjadi bagian dari Standar Nasional Indonesia (SNI) oleh Kementerian Transmigrasi. Diharapkan, G2RT nantinya bisa menjadi solusi ekonomi berlandaskan Pancasila yang inklusif dan berkelanjutan untuk diterapkan di seluruh Indonesia. (Euis/par)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....