Libatkan Total 24 Negara Peserta, Pesta Boneka #10 Hadir di Yogyakarta

  • 02 Okt 2026 19:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Papermoon Puppet Theatre yang memasuki dua dekade perjalanan dalam mengembangkan praktik seni teater boneka. Selama 20 tahun, Papermoon Puppet Theatre telah memproduksi lebih dari 35 karya berupa pertunjukan, pameran, instalasi, dan kolaborasi secara independen.

Perjalanan tersebut membawa Papermoon Puppet Theatre berbagi karya dengan penonton di lebih dari 12 negara dan empat benua. Selain merayakan dua dekade berkarya, Papermoon Puppet Theatre kembali menggelar festival teater boneka melalui Pesta Boneka #10 pada 6-11 Oktober 2026 di Yogyakarta.

Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre, Maria Tri Sulistyani atau yang dikenal dengan Ria Papermoon mengatakan festival yang bermula dari program residensi sederhana pada 2008 bersama seniman dari empat negara itu kini berkembang menjadi salah satu festival teater boneka independen yang mempertemukan seniman dari berbagai negara.

Memasuki edisi ke-10, Pesta Boneka menjadi ruang perjumpaan lintas budaya bagi seniman teater boneka sekaligus salah satu simpul perkembangan teater boneka kontemporer di Asia Tenggara.

Pada 2026, Pesta Boneka mengusung tema Holding Hands dengan melibatkan 33 grup dan 193 seniman dari 24 negara. Tema tersebut merefleksikan gestur bergandengan tangan sebagai bentuk kasih sayang, solidaritas, serta ajakan untuk saling meraih dan menjembatani jarak di tengah meningkatnya batas-batas dunia.

"Dua tahun lalu tema kita adalah Seeds of Hope, menebar benih harapan. Kalau sudah ditebar, harus dijaga, dan kita tidak bisa menjaganya sendiri. Melalui 'Holding Hands', kita diajak untuk melakukan sesuatu yang fisik dan saling terhubung. Papermoon sendiri bisa bertahan selama 20 tahun karena kami selalu dibantu dan membantu kanan-kiri," ujar Ria Papermoon saat jumpa pers di ROCA Restaurant, ARTOTEL Yogyakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Pesta Boneka #10 tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga mempertemukan seniman dan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta cerita melalui seni teater boneka. (Foto: RRI/Wulan Yulianita)

Di tengah perkembangan era digital yang serba reaktif, Pesta Boneka menghadirkan ruang perjumpaan secara langsung. Festival ini membuka kesempatan bagi masyarakat lokal dan internasional untuk saling mendengarkan, berbagi cerita, serta memperkenalkan narasi positif tentang keberagaman budaya kepada masyarakat global.

Pertunjukan dalam Pesta Boneka menempatkan boneka dan cerita sebagai fokus utama, bukan individu di baliknya. Beragam metode penceritaan, baik verbal maupun nonverbal, dipadukan dengan eksperimentasi objek dan teknik teater boneka.

Pendekatan tersebut memungkinkan pertunjukan melintasi batas bahasa sekaligus memberikan ruang bagi penonton untuk menafsirkan pengalaman personal dari setiap karya.

Hadirkan Program Kolaborasi Internasional

Pesta Boneka #10 juga menghadirkan program khusus Puppet Camp Shank's Mare - Yogyakarta Version. Program ini merupakan adaptasi kolaboratif karya teater boneka berbasis visual oleh Tom Lee dari Yara Arts Group, Amerika Serikat, bersama maestro teater boneka kuruma ningyo Koryu Nishikawa V dari Jepang.

Direktur Eksekutif Festival Pesta Boneka, Andreas Praditya atau yang karib dipanggil Rere mengatakan program tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran artistik, berbagi pengetahuan, dan penciptaan bersama yang melibatkan 16 seniman dari 10 negara.

Selain itu, Pesta Boneka #10 menghadirkan HU木AN INDONESIA untuk mendorong praktik seni pertunjukan yang semakin inklusif. Pertunjukan ini merupakan kolaborasi The Artground dari Singapura, Sensorium Theatre dari Australia, dan Papermoon Puppet Theatre dari Indonesia.

Berawal dari program mentorship pada 2019, HU木AN berkembang melalui proses berbagi metode penciptaan pertunjukan berbasis sensori bagi anak-anak neurodivergen. Program tersebut kemudian berkembang melalui berbagai proses dan presentasi di Perth, Singapura, serta Adelaide. Program HU木AN INDONESIA terlaksana atas dukungan UNESCO dan Temasek Foundation.

"Tidak hanya pertunjukan, Pesta Boneka #10 juga menghadirkan berbagai program publik. Di antaranya When Puppeteers Cook, ALA Movies - Asian Latin America Africa Puppet Movies, pemutaran film boneka Iran dan Palestina, lokakarya, diskusi, masterclass, serta bazar," kata Rere.

Melalui rangkaian program tersebut, Pesta Boneka #10 tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga mempertemukan seniman dan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta cerita melalui seni teater boneka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....