Lebih dari Sekadar Busana, Seniman Abdi Karya Ungkap Filosofi Sarung Bugis

  • 15 Sep 2026 15:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Bagi masyarakat Suku Bugis Provinsi Sulawesi Selatan, sarung tenun bukan sekedar pelengkap busana harian. Sejak seorang bayi lahir ke dunia, kain ini sudah menyambut baik sebagai hadiah dari kerabat maupun sebagai kain bedongan.

Seniman pertunjukan Abdi Karya yang lahir di Wajo, Sulawesi Selatan menyebut penggunaan sarung tenun di suku Bugis terus bertransformasi. Hal itu sesuai perkembangan diri seseorang, sejak dari usia anak-anak hingga dewasa.

Abdi Karya, yang kini tinggal di Yogyakarta dan sedang menggelar pameran Mens In Corpore Sano di 11 Galeri Kasihan, Bantul, Yogyakarta, menjelaskan fungsi lain dari kain sarung tenun. Yaitu menjadi bahasa puitis dalam ungkapan cinta di antara warga Bugis.

”Tidak ada kata cinta, tapi yang ada adalah 'Mau kah kau hidup satu sarung berdua denganku?,” katanya, Selasa, 15 September 2026. ”Ya, itu kalimat puitis tentang sarung sebagai bentuk ungkapan rasa cinta.”

Selain itu, menurut Abdi Karya, kain sarung juga bisa menjadi bahasa visual yang kuat. Melalui ragam motif hingga tata cara pemakaiannya, masyarakat Sulawesi Selatan dapat langsung mengenali suku asal hingga status sosial seseorang.

”Dengan melihat motif tertentu, orang ini dari suku ini, status sosialnya seperti ini,” katanya. ”Bahkan sarung kita bisa melihat cara pakai, orang ini mau ke masjid, orang ini sedang santai-santai, orang ini dari pesisir.”

Kekayaan makna dan nilai historis kain sarung tenun Nusantara membuat sosok seniman Abdi Karya terus menggali inspirasi dalam beragam bentuk karya seni menggunakan sarung. Sebab, ia ingin mengabadikan makna kain sarung sebagai sebuah kekayaan budaya dari Sulawesi Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....