Tradisi Rewang di Yogyakarta antara Tuntutan Kepraktisan dan Gotong Royong
- 10 Sep 2026 14:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Budaya rewang tradisi saling membantu warga saat tetangga menggelar hajatan masih terjaga baik di wilayah perdesaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski gempuran layanan katering kian marak, masyarakat kampung tetap mempertahankan tradisi gotong royong ini untuk momen pernikahan, khitanan, hingga lelayu (ada orang meninggal).
Dalam praktiknya, rewang di desa masih mengandalkan alat memasak tradisional seperti tungku batu bata, kompor bertekanan tinggi, serta bahan bakar kayu bakar atau arang. Pembagian tugasnya pun terstruktur, mulai dari tim pencuci piring, juru masak nasi, hingga juru masak air minum yang dikenal dengan sebutan patihan.
Sugiyono, warga Kedungpoh, Nglipar, Gunungkidul, merupakan salah satu pegiat tradisi yang sering dipercaya menjadi patihan di berbagai tempat.
"Karena terbiasa di dusun, saya dapat bagian memasak air. Keahlian ini terdengar sampai ke desa-desa lain. Jadi kalau ada yang punya hajat, saya sering dipanggil khusus untuk jadi patihan," ujar Sugiyono, Minggu, 6 September saat ditemui di tempat hajatan.
Ia menambahkan, penggunaan alat dan metode memasak tradisional memberikan aroma serta cita rasa khas pada air minum yang disajikan. Pada musim pernikahan (musim manten), kesibukannya meningkat pesat hingga hampir setiap hari melakoni peran tersebut.
Meski sebagian masyarakat perkotaan kini lebih memilih kepraktisan jasa katering atau juru masak borongan, keberadaan tradisi rewang di perdesaan menjadi benteng pertahanan nilai-nilai kebersamaan. Pelestarian rewang dinilai penting agar esensi gotong royong warga Yogyakarta tidak tergerus arus modernisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....