Upacara Garebeg Tahun ini Digelar Sederhana
- 27 Agt 2026 09:12 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta menerima rengginang, yang menjadi ubarampe pada Garebeg Mulud Be 1960/2026. Meski pihak keraton tidak mengeluarkan gunungan, namun sedekah raja seperti rengginang tetap keluar.
Pembagian ubarampe berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta, Rabu, 26 Agustus 2026. Rengginang dibagikan GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Purbodiningrat, dan RM Drasthya Wironegoro.
Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo mengatakan, perubahan bentuk Garebeg bukan hal baru dalam perjalanan tradisi Keraton. Dari masa ke masa, upacara tersebut menyesuaikan dengan situasi dan zamannya.
“Mulai dari era Sultan terdahulu yang menghadirkan Garebeg sebagai upacara terbesar lengkap dengan kehadiran Sultan dan regalianya,” katanya. ”Kemudian sempat mengalami penyederhanaan pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.”
Kemudian pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga ada perubahan bentuk upacara Garebeg ketika pandemi Covid-19 melanda. Namun menurut KRT Sindurejo, perubahan tersebut tidak menghilangkan esensi upacara.
Garebeg Mulud Be 1960/2026 digelar sederhana sesuai dhawuh Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai pedoman pelaksanaan Garebeg Besar Dal 1959. Yaitu tidak mengeluarkan gunungan termasuk iring-iringan prajurit keraton.
Meski Garebeg digelar sederhana, suasana bulan Mulud tetap hidup melalui Hajad Dalem Sekaten. Sebelumnya, dua perangkat Gamelan Sekati, Kiai Guntur Madu dan Kiai Nagawilaga, ditabuh bergantian di Pagongan Masjid Gedhe, lalu dibawa kembali ke Keraton Yogyakarta, pada Selasa malam, 25 Agustus 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....