Kisah Fakum Fajarwanto: Dari Akrobat hingga Seniman Kethoprak Sleman
- 17 Agt 2026 12:50 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Pekerjaan apa pun jika dilakukan dengan fokus dan penuh totalitas pasti akan memberikan hasil maksimal. Prinsip tersebut menjadi pedoman hidup seniman kethoprak kelahiran 22 September 1989 Fakum Fajarwanto.
Prinsip tersebut ia terapkan saat terlibat dalam produksi karya seni tradisional kethoprak. Berawal dari menggeluti seni akrobatik pada tahun 2000, Fakum kemudian berkesempatan berkolaborasi dengan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) jurusan Tari dan Teater untuk tugas akhir serta berbagai ajang pertunjukan kethoprak pada tahun 2010.
"Tahun 2013 saya didaulat untuk bergabung dengan Sanggar Kethoprak Giri Seta Budaya Gamping untuk mengikuti Festival Kethoprak tingkat Kabupaten Sleman. Dari situ saya mulai fokus mendalami seni peran, khususnya kethoprak," katanya.
Ia menceritakan, banyak tantangan dan pentas kethoprak yang mendorongnya untuk terus berproses, belajar, menggali potensi, serta mencari pengalaman. Hingga kini, berbagai macam pentas telah ia ikuti, mulai dari ajang tahunan seperti festival kethoprak tingkat kalurahan, kabupaten, dan provinsi, ajang FKY, pentas Rebon TBY, hingga keterlibatan dalam sinematografi serta pelatih keaktoran.
Pengalaman dan ketekunannya menghantarkan Fakum meraih berbagai prestasi perorangan maupun kelompok. Di antaranya sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Kethoprak Kabupaten Sleman (2016, 2019, 2026), Pemeran Pembantu Pria Terbaik Festival Kethoprak Kabupaten Sleman (2020), Grup Penyaji Terbaik 1 Festival Kethoprak Kecamatan Gamping (2017, 2019), Grup Penyaji Terbaik 1 Festival Kethoprak Kabupaten Sleman (2013, 2014, 2015, 2019), serta Grup Penyaji Terbaik 1 Festival Kethoprak DIY (2026).
Fakum mengungkapkan bahwa seni tradisi memberikan pelajaran berharga yang sangat berguna, baik untuk pribadi seniman maupun dalam pekerjaannya sebagai pengelola perusahaan. Bagi dirinya, sukses bukanlah keberuntungan semata, melainkan harus diusahakan dengan gigih tanpa menyakiti orang lain.
"Saya sangat berharap anak-anak muda jangan alergi terhadap seni tradisi. Jangan malu dan mari terbuka untuk mengenal seni tradisi, lalu sebarkan keindahannya dengan teknologi, karena seni tradisi adalah identitas yang memberi tahu siapa diri kita dan dari mana kita berasal," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....