Rayakan 50 Tahun Ramayana Ballet Purawisata Menjaga Seni Budaya Yogyakarta
- 10 Agt 2026 06:36 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta merayakan 50 tahun perjalanan pelestarian seni dan budaya pada Senin, 10 Agustus 2026. Puncak perayaan bertajuk “Satkara Ratri – Anugerah Kebudayaan Mandira Baruga” digelar di Gazebo Garden, Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta.
Mengusung tema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya”, perayaan tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjalanan Ramayana Ballet Purawisata sejak 10 Agustus 1976. Selama lima dekade, pertunjukan Ramayana menjadi salah satu bagian dari aktivitas seni budaya dan pariwisata di Yogyakarta.
Penyelenggara Dr. dr. Ulla Nuchrawaty Usman mengatakan perjalanan selama 50 tahun merupakan hasil kerja bersama banyak pihak. Menurutnya, momentum tersebut menjadi bentuk persembahan kembali kepada masyarakat atas perjalanan panjang Ramayana Ballet Purawisata.
“Momentum 50 tahun ini buat kami adalah persembahan. Kami kembalikan kepada publik, kami kembalikan kepada masyarakat bahwa 50 tahun kami baru sampai di sini, tetapi 50 tahun juga bisa bermakna kami sudah ada di sini,” ujarnya.
Cikal bakal Ramayana Ballet Purawisata bermula dari gagasan Kepala Seksi Kesenian THR Sasanasuka Dahana bersama Marcus Pardiman dan Suyadi. Mereka menghimpun penari muda berbakat hingga akhirnya pada 10 Agustus 1976 terbentuk organisasi Ramayana THR Sasanasuka sebagai pertunjukan ekstra dari wayang orang.
Perjalanan tersebut berkembang hingga Ramayana Ballet Purawisata dikenal sebagai salah satu pertunjukan budaya ikonik di Yogyakarta. Pada 8 November 2002, kelompok tersebut memperoleh penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kelompok Ramayana Ballet yang tampil 25 tahun berturut-turut setiap malam tanpa henti.
Dalam perjalanannya, Ramayana Ballet Purawisata mengembangkan berbagai program untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya. Salah satunya melalui Pasar Minggu Jogja (Pamijo) yang menjadi ruang pertemuan seniman, budayawan, pelaku UMKM, dan masyarakat.
Program tersebut menghadirkan kegiatan seni sekaligus aktivitas ekonomi melalui kuliner dan berbagai produk masyarakat. Selain itu, Ramayana Ballet Purawisata juga menggelar lokakarya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang seni dan budaya.
“Tema dan topik yang paling menarik di dalam workshop itu adalah bagaimana Anda bisa menjadi sutradara yang baik, bagaimana Anda bisa menjadi penari yang baik, bagaimana Anda bisa menjadi seorang koreografer yang baik,” katanya.
Selain itu, Ramayana Ballet Purawisata secara konsisten menggelar Festival Konservasi Tari Ramayana (FKTR). Ulla menjelaskan, konservasi dimaknai sebagai upaya menerima perkembangan budaya global tanpa meninggalkan identitas budaya Nusantara.
“Boleh menerima budaya luar, boleh Korea dan Amerika dan segala macam boleh. Tapi sekali-sekali jangan lengah untuk tidak meninggalkan di belakang adalah budaya kita sendiri,” ucapnya.
Pada perayaan 50 tahun tersebut, FKTR memasuki penyelenggarakan kelima. Sebanyak 50 peserta mengikuti kompetisi dan tiga penampil terbaik tampil dalam rangkaian malam puncak.
Malam puncak diisi dengan pemberian Anugerah Kebudayaan Mandira Baruga “Satkara Ratri”. Penghargaan diberikan kepada tokoh yang dinilai memiliki dedikasi dan kontribusi dalam pelestarian serta pengembangan kebudayaan.
Ulla menyebut terdapat empat kriteria utama dalam penilaian penerima penghargaan, meliputi inklusivisme dan toleransi, kemandirian dan kedaulatan, percaya diri dan kolaborasi, serta komitmen dan konsistensi.
Empat tokoh yang masuk dalam nominasi penghargaan tersebut yakni Emha Ainun Nadjib, Didik Nini Thowok, Suyati (Yati Pesek), serta Dahana. Penghargaan kepada Dahana diberikan antara lain atas komitmen dan konsistensinya dalam menjaga pertunjukan Ramayana selama puluhan tahun.
Ulla menilai keberlangsungan Ramayana Ballet Purawisata tidak terlepas dari peran seniman, manajemen, pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, serta dukungan Keraton Yogyakarta. Kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya.
Menurutnya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan seni budaya Yogyakarta kepada masyarakat internasional. Teknologi dinilai mampu menjadi jembatan bagi wisatawan dari berbagai negara untuk mengenal dan datang ke Yogyakarta.
Rangkaian malam puncak dimulai dengan registrasi tamu pada pukul 16.00 WIB dan dilanjutkan gala dinner. Acara diisi pembukaan, penampilan tiga terbaik Festival Konservasi Tari Ramayana, sambutan, pemotongan tumpeng, serta penyerahan penghargaan.
Puncak acara ditandai dengan “Ramayana Magnificent Performance” di Amphitheater yang menampilkan pertunjukan Ramayana Ballet Purawisata. Rangkaian perayaan ditutup dengan penampilan Kiai Kanjeng dan pembacaan puisi oleh Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam sebelum acara berakhir pada pukul 23.30 WIB.
Melalui momentum 50 tahun tersebut, Ramayana Ballet Purawisata menegaskan komitmennya untuk terus menjaga seni pertunjukan Ramayana sekaligus membuka ruang bagi generasi muda dan pelaku budaya. Upaya tersebut diharapkan memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi budaya dan pariwisata yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya Nusantara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....