Kepergian Nasirun, Publik Kehilangan Pribadi yang Tulus dan Tak Pemarah
- 01 Agt 2026 12:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Maestro seni lukis Indonesia, Nasirun, berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa, Sabtu, 1 Agustus pagi. Kematian pelukis berusia 60 tahun itu meninggalkan luka mendalam bagi dunia seni Tanah Air.
Jumaldi Alfi Chaniago, perupa dan pelukis kontemporer, merasa sangat kehilangan sosok Nasirun. Bagi Jumaldi yang juga tetangga rumah Nasirun, mentor dan seniornya itu merupakan persona Nasirun.
"Nasirun itu orang yang tulus, dan dia tidak pernah bisa marah. Jadi tidak mungkin ada yang membencinya," ujar Jumaldi, Sabtu siang di rumah duka.
Maestro seni lukis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah itu, menurut Jumaldi, bukan hanya sosok yang sangat baik dan rendah hati, tetapi juga tidak sungkan untuk memberi bantuan. Pergaulan Nasirun juga tidak tersekat hanya di ranah seni budaya semata.
"Kalau boleh saya bilang, dia itu manusia yang tidak punya musuh. Kalau ada yang memusuhi Nasirun, berarti dia tidak mengerti kepribadian beliau," ucapnya.
Ketua Lembaga Pengkajian Sumber Daya Manusia (Lapeksdam) NU, Khairus Salim, membenarkan testimoni yang dilontarkan oleh Jumaldi Alfi. Menurutnya, Nasirun adalah pribadi yang luar biasa ramah, dan tidak bisa marah.
"Terkadang jika kita sungkan menyapa beliau, karena merasa beliau adalah seniman terkemuka, malah Nasirun yang menghampiri kami daj menyapa terlebih dahulu," kata dia.
Mantan aktivis LKIS itu mengenang jasa Nasirun ketika PWNU DIY hendak mendirikan Pondok Pesantren Bumi Cendekia di Sleman. Saat itu, pondok yang baru berdiri seadanya kesulitan untuk mencari sekadar dana operasional harian.
"Ada salah seorang teman pengurus yang bilang ke saya, 'Mas, sampeyan kan dekat sama Pak Nasirun, tolong dimintai bantuan," ujar Khairus Salim.
Khairus Salim pun mendekati Nasirun dan menyatakan maksud yang dituju. Ternyata permohonan itu langsung direspons oleh mendiang Nasirun.
"Beliau bilang, saya ini pelukis, bisanya melukis. Saya sumbang lukisan ya. Dan lukisan itu alhamdulillah laku ratusan juta karena nama Nasirun. Siapa yang nggak kenal Nasirun," ucapnya.
Sebagai seniman yang memiliki kultur NU, Khairus Salim melihat Nasirun tidak hanya menjadi ikon seni rupa Indonesia, tetapi juga budayawan NU yang paripurna.
"Kalau bicara kehilangan, tentu NU sangat kehilangan sekali," kata dia, menandaskan.
Almarhum Nasirun disemayamkan Sabtu sore di Kompleks Pemakaman Seniman Imogiri, Bantul. Mendiang seniman kelahiran Cilacap, Jawa Tengah tersebut, meninggalkan seorang istri, dan tiga orang anak. Maestro seni rupa Indonesia ini merupakan salah satu pelukis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....