Menakar Pentingnya Kompetensi Pendidik di Sekolah Seni

  • 31 Jul 2026 19:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kualitas pendidikan seni pertunjukan sangat bergantung pada sejauh mana para pendidiknya menjaga dan mengasah keterampilan praktis mereka. Guru seni pertunjukan tidak cukup hanya bermodalkan teori pedagogis dan panduan instruksional formal di kelas, melainkan wajib merawat kompetensi seninya melalui keterlibatan langsung dalam pementasan seni.

Dalam siaran Pendopo Pro4 RRI Yogyakarta beberapa waktu lalu, Kepala SMK Negeri 1 Kasihan atau yang populer dengan sebutan SMKI Yogyakarta, Agus Suranto, SPd, MSn, mengatakan, merawat kompetensi bagi seorang guru praktik seni bukanlah sekadar opsional, melainkan kebutuhan. Keterampilan seni praktik, rentan mengalami penurunan apabila guru terlalu larut dalam rutinitas mengajar dan administrasi formal.

"Kompetensi guru seni pertunjukan tidak boleh tumpul. Kerap kali waktu guru habis untuk mengajar di kelas hingga lupa mengasah kompetensi dirinya sendiri. Cara terbaik untuk merawatnya adalah dengan pentas secara berkesinambungan," ujar Agus.

Ia menambahkan pembelajaran seni pertunjukan memiliki dimensi yang berbeda dengan mata pelajaran umum. Pengajaran tidak bisa berjalan maksimal jika hanya mengandalkan instruksi, perintah, atau alur kurikulum teknis tanpa didasari oleh bekal keterampilan nyata dari guru.

Pengalaman pentas seorang guru memberikan dampak pedagogis yang sangat besar bagi siswa. Ketika guru aktif dalam dunia pertunjukan luar, ilmu yang diserap dari pengalaman riil panggung akan membawa bobot pengajaran yang lebih kaya. Melalui keterlibatan aktif di panggung pertunjukan, guru seni diharapkan mampu terus membawa dinamisasi perkembangan seni pertunjukan ke dalam ruang kelas, sekaligus menjadi motivasi bagi calon seniman muda yang sedang mereka didik.

Meski demikian, proses mengasah bakat ini bukan tanpa kendala. Agus mengakui, rasa lelah dan bosan menjadi tantangan yang kerap dihadapi para siswa. Pasalnya, penguasaan satu gerakan atau bagian seni pertunjukan membutuhkan durasi latihan yang sangat panjang dan tidak bisa dibatasi oleh jam pelajaran reguler.

Oleh karena itu, inisiatif dari para siswa untuk meluangkan waktu latihan tambahan di luar jam sekolah menjadi kunci utama. Dinamika pembelajaran seni pertunjukkan memiliki tantangan tersendiri mengingat keragaman latar belakang dan kemampuan dasar setiap siswa.

Keberagaman tingkat keterampilan siswa sejatinya bukan hambatan utama dalam proses belajar mengajar. Namun , menurutnya tantangan terbesar bagi pengajar praktis adalah mengelola waktu pembelajaran yang terbatas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....