Putro Barong Budoyo, Merawat Jathilan agar Tak Tergerus Zaman

  • 29 Jul 2026 13:55 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Tabuhan gamelan mengalun di antara riuh penonton yang berdiri mengelilingi arena. Kaki-kaki penari menghentak mengikuti irama, sementara di barisan depan sejumlah anak kecil berjejer dengan mata yang tak lepas dari gerakan elok penari kuda lumping.

Pemandangan siang itu berlangsung dalam pentas Jathilan Putro Barong Budoyo, kelompok kesenian tradisional asal Padukuhan Barongan, Banyurejo, Tempel, Sleman yang masih rutin menerima undangan pentas, baik dari tingkat padukuhan maupun kegiatan yang digelar instansi pemerintahan.

Di balik ramainya pertunjukan, ada orang-orang yang terus mengupayakan jathilan tetap mendapat tempat di tengah perubahan zaman. Salah satunya Irwan Darmanta (52), pengurus Putro Barong Budoyo, bagi dirinya menjaga kelestarian kesenian kuda lumping bukan sekadar soal memastikan pertunjukan tetap digelar namun juga terus berbenah agar tetap menarik bagi masyarakat.

“Hambatan ya satu lah, kita harus bisa mengikuti perkembangan zaman,” ucap Irwan.

Hanya satu kalimat sederhana tapi menyimpan pekerjaan panjang di baliknya. Gamelan harus rutin dilaras supaya bunyinya tetap layak didengar. Gerakan tari perlu terus diperkaya. Jadwal latihan perlu digembleng untuk memberikan pagelaran yang optimal.

Menjawab tantangan itu, Putro Barong Budoyo tidak diam diri. Beberapa anggota yang berlatar pendidikan seni dari SMA Negeri 1 Kasihan dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ikut membenahi gerakan tari, sementara musik pengiring juga digarap ulang dengan lagu-lagu baru di setiap kesempatan pentas agar sajian yang dibawakan tidak memberikan rasa bosan.

Namun, pembaruan bukan berarti meninggalkan pakem yang selama ini mereka pegang.

“Jadi memang kami berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman dengan tidak meninggalkan konsep awal jathilan sebagai kesenian rakyat,” kata Irwan.

Mengikuti zaman, bagi Irwan, bukan berarti melepaskan akar kesenian itu sendiri. Inovasi dan kreasi boleh terus berkembang, tetapi jangan sampai mengaburkan jati diri jathilan.

Di antara kerumunan, Ningsih (34) datang menemani sang anak. Justru si kecil yang paling antusias setiap kali mendengar ada pertunjukan kuda kepang.

“Anak saya malah senang kalau dengar ada jathilan. Kadang dia yang lebih dulu ngajak nonton. Kalau tahu ada jathilan, pasti senang dan ingin lihat,” ujar Ningsih.

Antusiasme anak Ningsih menjadi gambaran bahwa jathilan masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Di antara pilihan hiburan yang semakin beragam, kesenian yang hidup lewat gerak tari dan iringan gamelan itu tetap mampu menarik perhatian generasi muda, bahkan sejak usia anak-anak.

Menjelang senja, bunyi gamelan masih mengiringi gerak para penari. Di barisan depan, anak-anak tetap berdiri menyaksikan kesenian yang telah ada jauh sebelum mereka lahir.

Zaman akan terus bergerak, dan pilihan hiburan akan terus bertambah tapi kabar baiknya tabuhan gamelan jathilan belum kehilangan pendengar. (Fitriana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....