Saparan Ki Ageng Wonolelo Perkuat Tradisi dan Gotong Royong Warga
- 27 Jul 2026 04:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 kembali digelar secara khidmat sekaligus meriah di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Jumat 24 Juli 2026 sore. Tradisi tahunan yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat tersebut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama Wakil Bupati Sleman serta diikuti ribuan warga yang memadati kawasan pelaksanaan upacara.
Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa kepada Ki Ageng Wonolelo yang dikenal memiliki jasa besar dalam pembangunan spiritual dan sosial masyarakat Widodomartani. Selain itu, tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah, rezeki, serta keselamatan yang diterima masyarakat selama setahun terakhir.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, Saparan Ki Ageng Wonolelo bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen masyarakat dalam merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. "Tradisi Saparan Wonolelo ini menjadi sarana kita untuk selalu ingat akan asal-usul dan sejarah, sekaligus mempererat tali silaturahmi serta memperkokoh semangat gotong royong antarwarga," ujarnya.
Rangkaian acara berlangsung dengan berbagai prosesi adat yang sarat makna. Salah satu yang paling dinantikan masyarakat adalah tradisi sebar dan rebutan kue apem. Tahun ini, sekitar 1,5 ton kue apem disebarkan kepada warga yang hadir. Antusiasme masyarakat terlihat sejak prosesi dimulai, di mana ribuan warga berebut apem yang diyakini membawa keberkahan sekaligus menjadi simbol kebersamaan.

Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, Kawit Sudiyono, menjelaskan bahwa kue apem bukan sekadar sajian tradisional, melainkan memiliki filosofi yang mendalam. Ia menerangkan bahwa kata "apem" berasal dari bahasa Arab, yakni afwun, yang bermakna memohon ampun kepada Allah SWT. "Tradisi sebar dan rebutan apem merupakan lambang agar kita senantiasa bersikap rendah hati atau andhap asor. Menebar apem juga melambangkan penyebaran harapan, kasih sayang, kerukunan, serta persaudaraan di tengah masyarakat," katanya.
Selain tradisi rebutan apem, Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo ke-59 juga diisi dengan Prosesi Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo yang menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur. Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil bersama serta ziarah ke makam Ki Ageng Wonolelo sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada tokoh yang berjasa bagi masyarakat Widodomartani.

Melalui penyelenggaraan Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo, Pemerintah Kabupaten Sleman bersama masyarakat berharap tradisi budaya yang telah berlangsung puluhan tahun ini dapat terus dilestarikan oleh generasi muda. Pelestarian budaya lokal dinilai tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, persaudaraan, dan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat di tengah perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....