Kirab Saparan Bekakak Ambarketawang Wujud Pelestarian Budaya Adiluhung

  • 18 Jul 2026 11:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Pemerintah Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Sleman, kembali menggelar tradisi tahunan Kirab Saparan Bekakak, Jumat, 17 Juli 2026 dengan start di Lapangan Ambarketawang hingga Gunung Gamping. Gelaran tersebut mendapataan antusiasme yang tinggi dari masyarakat.

Dari pantauan RRI, sekitar puku 13.00 sejumlah ogoh-ogoh telah berjejer di lapangan Ambarketawang diikuti datangnya peserta kirab yang sudah menggunggunakan kostum termasuk sejumlah pasukan bergodo. Selain itu andong dan gunungan sayur dan buah juga telah siap untuk mengikuti arak-arakan kirab.

Kirab dibuka dengan prosesi pemecaan kendi oleh ketua DPRD Sleman Y.Gustan Ganda dilanjutkan dengan pelepasan burung merpati oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya. Sekitar pukul 15.00 romobongan kirab mulai berjalan dimulai dari pasukan bergodo, andong dan kuda yang di tunggangi pejabat, diikuti boneka pengantin bekakak dan rombongan ogoh-ogoh dibarisan paling akhir.

Seluruh peserta berjalan kaki dari dari lapangan Ambarketawang menuju Gunung Gamping tempat dimana berlangsung prosesi adat penyembelihan sepasang boneka pengantin yang terbuat dari tepung ketan atau bekakak. Bekakak tersebut berisi cairran berwarna merah dari sirup gula jawa sabagai simbol pengganti tumbal.

Kepala Desa Amabarketawang Sumaryanto, menjelasakan kegiatan tersebut merupakan wujud nguri-nguri budaya adiluhung yakni upaya untuk melestarikan, merawat, menjaga tradisi serta nilai-nilai luhur warian nenek moyang agar tetap hidup dan relevan.

Ia menilai gelaran yang diselenggarakan satu tahun sekali tersebut mendapatkan antusiase yang tinggi dari masyarakat. Hal tesebut terlihat dari banyaknya masyarakat yang menyaksikan pergelaran wayang kulit, gelar macapat dan kirab malam midodareni dalam rangkaian Saparan Bekakak Ambarketawang 2026 pada malam sebelumya

Selain itu, saat kirab berlangsung masyarakat tampak memadati sepanjang rute kirab. Pihaknya juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengekspresikan karyanya.

“Yang terpenting maskotnya adalah salah satu rangkaian Bekakak ini dengan sepasang gendruwo. Ogoh-ogoh yang lain sebagai pendukung dan penggembira sehingga kami berikan kesempatan bagi warga untuk mengeluarkan ekspresinya di dalam karya seni dan maupun budaya,” ucapnya saat ditemui disela kegiatan.

Dengan demikian, ia berhadap kegiatan ini dapat membangun persatuan, kesatuan, meningkatkan gotong royong dan kekompakan masyarakat khusunya warga Ambarketawang sehingga terwujud Kaluraan dengan nilai-nilai gotong royong yang adiluhung.

Salah satu masyarakat yang menonton kirab, Ari, mengapresiasi gelaran tersebut. Menurutnya, event tahunan tersebut hasus dijaga kelestriannya.

“Acaranya mantap, luar biasa dan ini event tahunan ya dan wajib dijaga kelestariannya. Karena ini hanya setahun sekali, Selagi masih mampu, masih bernafas pokoknya ikuti acara-acara di Jogja,” ujarnya.

Saah satu masyarakat saat berfoto bersama pesera Kirab Saparan Bekakak Ambarketwang. (Foto: RRI/Fika Azalea)

Sementara itu, salah satu peserta, Triminarsih mengaku senang bisa berpartisipasi dalam kirab tersebut. Dalam kirab ini, ia menggunakan kostum karaval yang disewanya dan bersolek di sebuah salon.

“Senang sekali, untuk persiapannya sudah satu minggu,” ucapnya saat ditemui

Salah satu peserta Kirab Saparan Bekakak Ambarketawang. (Foto: RRI/Fika Azalea)

Sebagai informasi, tradisi ini berawal dari masa Sri Sultan Hamengkubuwono I untuk memperingati dan mendoakan keselamatan abdi dalem kesayangannya, pasangan Ki dan Nyi Wirosuto, yang tertimpa longsor di Gunung Gamping.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....