Seni Tradisi Yogyakarta Bentuk Karakter dan Identitas Generasi Muda

  • 29 Jun 2026 22:56 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Seni tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi utama dalam membentuk karakter dan identitas masyarakat di tengah arus modernisasi. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, kesenian lokal terbukti memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perilaku dan sopan santun generasi muda.

Menurut Suyadi Utomo SE, MA , MHt, dari paguyuban seni tradisi DIY, dalam acara dialog pendopo RRI , mengatakan para pemuda yang aktif dalam kegiatan seni tradisi menunjukkan perilaku yang jauh berbeda dibandingkan generasi muda yang tidak terlibat dalam pelestarian budaya. Mereka yang mendalami seni tradisi cenderung memiliki rasa sopan santun yang lebih tinggi, terutama saat berhadapan dengan orang yang lebih tua.

"Seni tradisi ini sangat berpengaruh sekali terhadap perilaku generasi muda. Kebetulan sebagian besar di Jogja ini, seni tradisi seperti Jathilan dan karawitan banyak digemari oleh kawula muda," ujar Suyadi.

Perkembangan zaman dan interaksi dengan dunia luar tak dipungkiri membawa masuknya pengaruh budaya asing ke Indonesia. Masalah timbul ketika generasi muda mengadopsi budaya asing itu secara mentah-mentah tanpa adanya proses penyaringan yang tepat.

Oleh karena itu, upaya memelihara dan melestarikan seni tradisional menjadi sangat penting. Kesenian daerah bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan sebagai tameng dan identitas kultural agar masyarakat lokal, khususnya generasi muda, tidak kehilangan arah dan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur bangsanya.

Sementara itu pelaku seni tradisi yang lain, Bejo ludiro, mengatakan seni tradisi memuat berbagai nilai filosofis, mulai dari simbol moral, ritual, hingga ajaran kearifan lokal.

"Betul-betul bahwa seni tradisi itu merupakan benteng budaya bagi suatu wilayah. Karena yang pasti, seni tradisi itu pertama menjadi penanda identitas," ujar Pak Bejo.

Ia menambahkan selain sebagai hiburan, seni tradisi berfungsi sebagai media transfer nilai dari ajaran leluhur terdahulu, seperti nilai kebijaksanaan, kesopanan, budi pekerti, serta rasa menghormati alam.

Menanggapi realitas saat ini di mana ruang publik lebih banyak didominasi oleh budaya pop modern dan budaya luar, Bejo mengakui adanya tantangan besar. Meski demikian, ia menilai bahwa kemajuan zaman dan perubahan tidak dapat dibendung. Namun ia tetap optimis bahwa seiring berjalannya waktu, kedewasaan, dan bersinggungan dengan masyarakat, rasa memiliki terhadap budaya lokal termasuk seni tradisi akan tumbuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....